KEDIRI, JP Radar Kediri- Selama puluhan tahun, pedagang di Pasar Bawang, Kelurahan Bawang, Pesantren berjualan dengan fasilitas seadanya.
Menempati los semi permanen dengan atap seng, mereka harus berkubang dengan lantai becek karena air masuk ke los lewat atap yang bocor.
Ana—bukan nama sebenarnya—mengatakan, sejak berjualan di Pasar Bawang 28 tahun silam, di sana belum pernah sekalipun tersentuh perbaikan.
Tak heran, setiap kali hujan banyak atap yang bocor. Akibatnya jalan menjadi becek dan tergenang setiap hujan turun.
“Berpuluh-puluh tahun belum pernah ada perbaikan. Cuma yang di depan itu yang baru dibangun,” ujarnya menunjuk area kios yang baru diperbaiki.
Di area los, tak sedikit atap-atap seng yang berlubang. Entah termakan usia atau rusak akibat faktor cuaca. Berbagai laporan pun menurutnya sudah banyak disampaikan pedagang pasar.
“Setiap hujan juga bocor semua. Yang menangani ya yang punya kios sendiri-sendiri,” ungkapnya sembari menyebut setiap musim hujan dia harus menyiapkan ember-ember untuk menampung air di area los.
Atap-atap pasar yang mayoritas masih berupa seng itu menurut Ana tak bisa maksimal menghalau air hujan.
Selain itu, kondisi pasar yang cenderung lebih cekung menyebabkan air hujan justru mengalir ke dalam pasar.
Tak ayal, jalanan antar-los menjadi becek dan tergenang. Sedimen lumpur juga membuat jalanan licin.
“Seumpama bocor atau rusak ya dibelikan seng sendiri, diperbaiki sendiri,” tuturnya tentang perbaikan yang sering dilakukannya.
Baca Juga: Target PAD Dua BUMD Terancam Meleset, PD Pasar dan BPR Kota Harus Kejar Miliaran Rupiah
Hal serupa diungkapkan Intan, pedagang pasar lainnya. Beberapa kali losnya juga kebanjiran saat turun hujan deras.
“Beberapa hari yang lalu saya nggak jualan, ternyata airnya juga masuk. Makanya sekarang semua barang-barang saya taruh di atas,” ungkapnya.
Selain kondisi pasar yang becek, kini Intan juga sering waswas. Khawatir bangunan bisa ambruk. Sebab, tidak sedikit kerangka atap dari kayu yang lapuk.
“Sama suami saya kalau ada yang bocor cuma bisa ditumpuk gitu saja. Karena kalau bongkar-bongkar sendiri takut malah roboh. Kan nggak tahu juga kayunya masih kuat apa enggak,” jelas perempuan yang sudah berjualan di Pasar Bawang selama 18 tahun itu.
Fasilitas yang minim itu tak sebanding dengan retribusi yang harus dibayar. Untuk penghuni los harus membayar retribusi Rp 2 ribu per hari.
Sedangkan penghuni kios membayar Rp 5 ribu per hari. Selebihnya, mereka juga harus membayar retribusi tahunan sekitar Rp 150 ribu.
Terpisah, keluhan-keluhan pedagang itu sudah ditampung oleh Perumda Pasar Joyoboyo. Direktur Utama (Dirut) Perumda Pasar Joyoboyo Kediri Djauhari Luthfi mengatakan, Pasar Bawang termasuk prioritas rencana revitalisasi tahun ini.
Diakuinya, pasar yang berada di wilayah timur Kota Kediri itu kerap dikeluhkan banjir setiap turun hujan.
Karenanya, Perumda Pasar Joyoboyo akan melakukan revitalisasi secara bertahap di sana.
“Kalau kami revitalisasi, itu kan harus memindahkan sementara pedagang. Kemarin juga sudah dibangun sedikit untuk tempat sementara pedagang selama nantinya direvitalisasi pasarnya,” ujar Luthfi.
Dengan demikian, perbaikan pasar diupayakan tidak akan mengganggu aktivitas perdagangan. Revitalisasi akan dilakukan secara bertahap di masing-masing area blok pasar.
Tujuannya agar pedagang tetap bisa berjualan dan aktivitas perdagangan pasar tetap bisa berjalan.
“Kami utamakan yang rusak-rusak dulu, yang sering banjir. Meliputi kios, bawahnya atau lantainya juga supaya nggak banjir. Termasuk drainasenya,” beber Luthfi sembari menyebut revitalisasi ditargetkan bisa dimulai April atau Mei mendatang.
Editor : Andhika Attar Anindita