Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Merasakan Sensasi Penerbangan Perdana ke Bandara Dhoho Kediri: Penumpang Disambut dengan Pantun Ajakan Terbang

Sri Utami • Minggu, 7 April 2024 | 16:28 WIB
PELAYANAN MAKSIMAL:  Suasana kabin pesawat Citilink sebelum terbang ke Kediri, Jumat (5/4).
PELAYANAN MAKSIMAL: Suasana kabin pesawat Citilink sebelum terbang ke Kediri, Jumat (5/4).

JP Radar Kediri - “Anak kecil menangkap sambil berlari. Para penumpang mari bersiap, kita akan segera terbang ke Kediri.” Pantun yang diucapkan oleh pramugari Citilink dalam salam pembuka di penerbangan perdana Jumat (5/4) lalu itu begitu membekas. Dan, ke depan akan menjadi sapaan khas bagi penumpang dari berbagai daerah yang akan terbang ke Kediri.

Seperti penerbangan rute lainnya, Citilink memang khas dengan pantun-pantunnya. Manajemen maskapai penerbangan nasional itu begitu pintar mengambil hati konsumennya dengan menggaet kedekatan lewat pantun. Hal serupa juga mereka lakukan di penerbangan perdana Jumat lalu.

Bukan hanya pramugari yang melakukannya. Pilot juga melakukan hal yang sama jelang pendaratan di Bandara Dhoho pukul 09.40. Salam perpisahan dan ucapan terima kasih dibalut dengan pantun yang manis.

Dilengkapi dengan ajakan untuk terbang menggunakan Citilink lagi.
Strategi marketing Citilink dengan mendekatkan penumpang pada unsur lokalitas ini begitu mengena.

Terbukti, saat pramugari menyelesaikan pantunnya, para penumpang kompak menyahut “Mantaaap...” kemudian tertawa bersama. Sebanyak 175 penumpang yang mengikuti penerbangan perdana Jumat lalu merasa mendapat sambutan khusus di pesawat narrow body itu.

Jika di maskapai lain di-setting ada seat khusus untuk kelas bisnis, di pesawat Airbus A320 Citilink ini semuanya kelas ekonomi. Karenanya, Direktur Utama Citilink Dewa Kadek Rai bersama sejumlah pejabat yang ikut di penerbangan perdana itu juga duduk di seat yang sama. Di kursi berderet tiga di sisi kanan dan kiri. Sama rasa.

Penerbangan perdana Jumat lalu sekaligus menjadi euforia mudik warga Kediri Raya yang ada di Jakarta. Dengan beroperasinya Bandara Dhoho mereka memang semakin dimudahkan. Tidak perlu lagi merogoh kocek untuk membayar travel atau angkutan umum lain untuk menuju ke Bandara Juanda. Pun, merepotkan keluarga untuk mengantar ke Surabaya.

Meski sudah ada jalan tol, untuk pergi ke Bandara Juanda setidaknya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Apalagi jika kita berangkat pada sore hari atau jam pulang kantor. Waktu tempuhnya bisa lebih lama lagi.

Seperti perjalanan saya Kamis (4/4) lalu. Tiba di exit tol Waru Gunung sekitar pukul 17.30, butuh waktu lebih dari 15 menit untuk masuk ke tol Bandara Juanda. Idealnya hanya butuh waktu sekitar lima menit atau kurang dari itu untuk pindah tol. Namun, antrean kendaraan yang mengular membuat kendaraan nyaris tak bergerak.

Sekitar pukul 18.00 baru tiba di terminal 1A Bandara Juanda. Dengan penerbangan ke Jakarta pukul 19.55 memang masih ada cukup waktu untuk check in dan boarding. Namun, menempuh perjalanan selama dua jam lengkap dengan sensasi macet itu sungguh menguras tenaga dan waktu.

Dan, begitu Bandara Dhoho beroperasi Jumat lalu, tenaga dan waktu masyarakat tidak perlu terkuras lagi untuk menempuh perjalanan Kediri-Surabaya. Begitu landing di Bandara Dhoho pukul 09.40, saya hanya butuh waktu sekitar 19 menit untuk pulang ke rumah.

Ada banyak alternatif transportasi yang bisa dipakai di Bandara Dhoho. Mulai Grab, Gojek, Maxim, Bluebird, hingga bus Harapan Jaya dan bus Damri tersedia di sana. Jumat lalu saya sengaja ingin mencoba Bluebird. Ada beberapa pertimbangan kenapa saya memilih armada burung biru itu.

Yang pertama, untuk mengapresiasi “keberaniannya” masuk ke pasar Kediri. Yang kedua ingin merasakan standar pelayanan Bluebird di Kediri. Dengan tarif yang di atas rata-rata armada lainnya, Bluebird biasanya menawarkan kenyamanan ekstra.

Baca Juga: Merasakan Sensasi Penerbangan Perdana ke Bandara Dhoho Kediri: Tepuk Tangan Membahana kala Landing-nya Mulus

Benar saja. Dari Bandara Dhoho ke Gampengrejo, saya kena tarif Rp 101 ribu. Itu sudah termasuk biaya parkir di bandara. Sedikit lebih mahal dibanding jasa transportasi lain. Namun, pelayanan Bluebird di Kediri saya nilai lebih baik dibanding Bluebird di Jakarta.

Mulai dari keramahan sopirnya, kondisi mobil yang bersih dan wangi. Hingga, kerelaan sopirnya membukakan pintu dan membawakan barang penumpang. Rupanya, itu merupakan standart operationg procedure (SOP) baru yang diterapkan Bluebird. Ingin tarif yang lebih murah? Ada banyak pilihan yang bisa diambil. Termasuk menggunakan bus yang tarifnya hanya belasan ribu.

Overall, tarif Bluebird yang paling tinggi dibanding armada lain sekalipun, akan tetap lebih murah dibanding harus membayar biaya travel pergi-pulang (PP) Surabaya-Kediri Rp 300 ribu. Akan jauh lebih mahal lagi jika rasa lelah, stres akibat macet saat menempuh perjalanan ke Surabaya dikonversikan dalam rupiah.

Operasional Bandara Dhoho sejak Jumat (5/4) lalu tetap saja memudahkan masyarakat. Memangkas biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Bukan hanya bagi warga Kota dan Kabupaten Kediri. Melainkan bagi warga di 14 Kabupaten/Kota di daerah Mataraman.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#bandara kediri #bandara dhoho #citilink