Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bahaya dari Lereng Wilis

adi nugroho • Selasa, 15 Desember 2020 | 23:47 WIB
bahaya-dari-lereng-wilis
bahaya-dari-lereng-wilis

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Warga Kabupaten Kediri benar-benar harus mewaspadai cuaca yang tidak bersahabat dalam beberapa hari terakhir. Beberapa bencana alam terjadi. Terutama saat hujan deras mengguyur Minggu (13/12) sejak siang hingga malam hari. Hujan deras itu berujung pada terjadinya banjir dan tanah longsor.


Terutama bagi warga yang berada di lereng-lereng Gunung Wilis. Bencana sangat rentan terjadi di area yang masuk dalam pemetaan rawan bencana tanah longsor tersebut.


Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca Pulau Jawa masuk kategori ekstrem. Terutama pada periode 15-21 Desember. Akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.


“Dari pantauan BMKG daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) terpantau memanjang dari Bengkulu hingga pesisir selatan Jawa,” ujar Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Nganjuk M. Chudori.


Di wilayah itu, termasuk Jawa Timur, berpotensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang. Curah hujan lebat itulah yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan sejumlah bencana. Seperti luapan sungai, banjir, dan juga tanah longsor.


Dampaknya pun sudah terasa. Mulai Sabtu (12/12) bencana alam saling berurutan. Dimulai dengan luapan Sungai Serinjing di Desa Tertek, Kecamatan Pare. Hujan deras berjam-jam membuat material pohon bambu dan sampah dari hulu sungai menyumbat cekdam.


Minggu (13/12) bahkan terjadi dua bencana, banjir dan tanah longsor. Tanah longsor terjadi di beberapa titik di lereng Wilis. Seperti di Desa Pagung, Kecamatan Semen dan di Desa Pamongan, Kecamatan Mojo.


Tanah longsor di Desa Pagung itu memang tak menimpa rumah. Tanah longsoran menimbun halaman rumah warga. Sedangkan yang di Desa Pamongan ada beberapa titik longsoran. Paling parah menimpa rumah salah satu warga. Akibatnya dinding sepanjang 16 meter jebol terkena plengsengan yang longsor.


Sementara, banjir terjadi di dua desa di Kecamatan Tarokan, Desa Jati dan Cengkok. Kedua desa ini terendam air hingga kemarin siang. Akibat meluapnya Sungai Bakung dan Kolokoso, dua sungai yang berhulu di lereng Gunung Wilis.


Chudori pun mengimbau agar warga tetap waspada. Serta berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem dalam satu minggu ke depan. Terutama di daerah-daerah pegunungan dan bantaran sungai. Karena sewaktu-waktu bahaya bisa mengancam. Tak hanya ancaman angin kencang tetapi longsor dan banjir.


Berdasarkan prakiraan BMKG, tahun ini curah hujan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Hal itu karena ada beberapa sebab. Salah satunya adalah kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil. Dinamika atmosfer itu menunjukkan angin monsun Asia sudah masuk ke wilayah Jawa Timur.


“Kemudian aktinya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO, Red), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin di Indonesia,” terang Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri Slamet Turmudi.


Terkait bencana yang terjadi, BPBD telah siap. Slamet menyebut daerah yang mengalami bencana sudah masuk dalam pemetaan.


Slamte menambahkan, BPBD telah memberikan pemahaman dan sosialisasi pada warga di daerah rawan tersebut. Untuk longsor, lereng Wilis rata-rata berpotensi. Utamanya Kecamatan Mojo dan Kecamatan Semen. Sementara banjir ada di Kecamatan Banyakan dan Tarokan.


“Untuk antisipasi longsor, kami sudah berkoordinasi dengan warga yang terdampak longsor akan membuatkan gronjong untuk penahan tanah,” ujarnya.


Sementara terkait banjir, sebelumnya Slamet sudah mengingatkan pada daerah yang dekat dengan sungai. Termasuk sungai yang bermuara di Kali Brantas yang akhir-akhir ini debitnya meningkat. Slamet menyebut bahwa peningkatan debit tersebut dampaknya akan menghambat aliran anak sungai yang bermuara di Brantas. “Hal ini akan memacu terjadinya banjir luapan,” ujarnya.


Ada beberapa aliran sungai yang dipetakan rawan terjadi luapan tersebut. Rata-rata sungai di wilayah yang dekat dengan muara Brantas. Seperti Kecamatan Ngadiluwih, Papar, Purwoasri, dan Banyakan. “Tentunya ini sudah kami antisipasi dengan terus menjalin komunikasi dengan stakeholder terkait hal ini,” pungkasnya.


Sementara itu, genangan air masih terlihat hingga siang kemarin di Desa Cengkok dan Desa Jati, keduanya masuk Kecamatan Tarokan. Meskipun sebagian besar juga sudah surut, terutama yang sebelumnya menggenangi rumah warga.


Genangan yang terjadi rata-rata di halaman atau pekarangan. Kolam dadakan itu terlihat dimanfaatkan oleh beberapa bocah untuk bermain. Sedangkan beberapa warga terlihat mulai membersihkan rumahnya dari endapan lumpur yang dibawa air banjir malam sebelumnya.


Banjir yang terjadi Minggu (13/12) tergolong lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. “Kalau banjir memang biasa terjadi. Namun kalau sampai masuk rumah ini baru pertama kalinya,” terang Nurul, salah satu warga desa.


Perempuan 40 tahun ini bercerita bahwa hujan turun mulai pukul 14.00 WIB. Namun hujan deras baru dimulai pukul 15.00 WIB. Hujan deras tersebut awet hingga pukul 18.00 WIB, ketika sebagian rumah warga sudah mulai kemasukan air.


“Karena (rumah saya) tinggi, genangan air cuma sampai halaman,” imbuhnya.


Karena tidak dimasuki air, rumah Nurul dijadikan lokasi pengungsian. Sebanyak 50 orang yang terdiri dari lansia, ibu, dan balita mengungsi di lantai dua rumahnya.


Nurul mengatakan tetangganya mengungsi hingga pagi hari. Air baru mulai surut sekitar pukul 08.00 WIB. Meski air mulai surut, namun genangan air masih terlihat. Genangan ini kebanyakan merupakan luberan air dari selokan yang tidak mampu menampung.


Wati, 35, warga lain, mengatakan genangan air masuk ke dalam rumah dan tokonya. “Tinggi airnya sekitar sampai pinggang orang dewasa,” jelas Wati.


Banjir juga terjadi di Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan. Selain membanjiri rumah, juga menggenanig Jalan Raya Kediri – Nganjuk. Banjir itu sempat membuat kemacetan. “Karena derasnya aliran air, sampai penutup selokan ini naik,” ungkap Suparman, warga sekitar. (din/ara/fud)


 

Editor : adi nugroho
#radarkediri