Wabah korona juga berdampak pada lesunya penjualan bunga setaman atau bunga untuk ziarah. Penurunan omzet pedagang tak lepas dari banyaknya perantau yang tidak pulang kampung akibat merebaknya Covid-19.
Umiatun, 49, salah satu pedagang bunga mengatakan, omzet penjualan bunga di lapaknya tahun ini turun drastis. “Sampai separo turunnya,” ujar perempuan asal Desa Candirejo, Loceret itu.
Perempuan yang telah berjualan bunga setaman selama sepuluh tahun itu mengaku dagangannya baru sepi tahun ini. Menjelang Ramadan, biasanya merupakan masa panennya. Dalam sehari, dia bisa mengumpulkan omzet tak kurang dari Rp 1 juta.
Tetapi, seminggu ini penjualannya tidak terlalu ramai. Bahkan, dua hari jelang Ramadan, dia hanya bisa menghabiskan sekitar 20 kilogram bunga sehari. “Tahun lalu bisa habis sampai 30 kilogram,” lanjut perempuan yang mengaku hanya bisa menjual sekitar 300 bungkus dalam waktu empat hari itu.
Dikatakan Umi, jumlah pembeli tahun ini baru mulai banyak pada Minggu (19/4) lalu. Padahal, sebelumnya pembeli atau peziarah sudah banyak yang membeli bunga setaman seminggu sebelum Ramadan.
Warga yang membeli bunga jauh sebelum Ramadan itu, diakui Umi merupakan warga yang bekerja atau merantau di luar kota. Sehingga, ketika ada kesempatan pulang, mereka menyempatkan diri untuk berziarah sebelum kembali lagi ke perantauan.
Namun, dengan adanya pandemi korona dan larangan untuk pulang kampung, para pembeli menyusut. Saat ini mayoritas pembeli hanyalah warga sekitar Kota Nganjuk saja. “Sekarang untuk modal saja sampai utang,” celetuknya.
Meski omzetnya menyusut drastis, Umi mengaku masih lebih beruntung dibanding pedagang lain. Sebab, lapaknya tetap saja kedatangan pembeli. Para pelanggannya selalu mencari lapak perempuan yang rambutnya mulai memutih itu. “Alhamdulillah, masih ada pelanggan. Kalau pedagang lain mungkin lebih terasa (penurunannya) lagi,” tandasnya.
Ibu dari dua anak kembar ini mengatakan, dirinya memang tidak hanya berjualan saat jelang Ramadan saja. Melainkan, setiap hari dia memang berjualan di sana sejak pagi hingga sore. “Pedagang musiman juga ada. Tapi saya tiap hari jualan kembang di sini,” imbuhnya.
Jika selama beberapa hari terakhir lapaknya tetap saja belum ramai pembeli, Umi berharap hari ini bisa mendapat omzet yang lebih besar. “Soalnya terakhir (sebelum Ramadan, Red). Semoga bisa ramai,” harapnya.
Editor : adi nugroho