JP Radar Kediri-Memakai gamis berwarna hitam, Lik, 9, terlihat seperti anak perempuan lain. Duduk bersila, bocah yang memakai jilbab cokelat itu terlihat malu-malu saat didatangi petugas kesehatan di rumahnya, di Kecamatan Badas.
Di kesempatan lain, Lik yang memakai baju lengan pendek dan memakai jilbab, terlihat tomboi. Duduknya tegap tak ubahnya anak laki-laki. Meski bentuk wajahnya mirip dengan anak perempuan.
Sejak Senin (4/8) lalu, Lik yang duduk di bangku kelas 3 SD itu jadi perhatian. Petugas dari puskesmas, dinas kesehatan, hingga dinas sosial mendatangi rumahnya. Hal tersebut tak lepas dari kabar yang menyebut jika dirinya berkelamin ganda.
“Saya dikabari teman, katanya ada tetangganya yang berkelamin ganda,” ungkap Anggota DPRD Kabupaten Kediri Maskur Lukman.
Rupanya, hal yang tidak biasa di area genital Lik itu sebenarnya sudah diketahui sejak dia kecil. Namun, orang tua tetap memperlakukannya seperti perempuan. Sebab, dari bentuknya memang dominan perempuan.
Namun, seiring bertambahnya usia, di area genital Lik juga muncul tonjolan yang semakin jelas menyerupai alat kelamin laki-laki. “Sadarnya saat TK. Karena tonjolannya semakin jelas,” lanjut pria yang juga menjabat Wakil Sekretaris DPC PKB Kabupaten Kediri itu.
Bukannya langsung melapor ke pemerintah, agaknya orang tua Lik menganggap itu sebagai aib. Mereka tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun.
Akhirnya, saat Lik duduk di bangku kelas 3 SD, tetangganya menyarankan agar dilakukan pemeriksan medis. Dari sana diketahui jika hormon laki-lakinya lebih dominan. Yakni mencapai 90 persen.
Mendapati fakta tersebut, Lukman membawanya ke forum pembahasan badan anggaran (banggar) dan tim anggaran Pemkab Kediri. “Ada Bapak Sekda (Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri Moh Solikin). Saya sampaikan mereka ini adalah orang tidak mampu. Perlu dikawal,” tegas Lukman meminta pemkab memfasilitasi. Termasuk jika nantinya dibutuhkan operasi.
Selain itu, Lukman mengaku siap membuka donasi. Menggalang dana agar kebutuhan Lik dan keluarganya saat mengikuti penanganan medis bisa tercukupi.
Penanganan secara terbuka menurut Lukman sekaligus juga menjadi sarana edukasi. “Siapa tahu ada kejadian serupa yang dialami orang lain. Ini bukanlah aib. Namun permasalah medis yang perlu ditangani segera. Harapannya jika ada bisa melaporkan. Kami akan bantu,” tandasnya sembari menyebut kemarin Lik tengah menjalani pemeriksaan medis di RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Terpisah, Sekda Kabupaten Kediri Moh Solikin mengaku sudah menginstruksikan dinas terkait untuk mengawal penanganan Lik. “Senin (4/8) lalu dari dinas kesehatan, dinas sosial, dan dinas pengendalian penduduk, keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak (DP2KBP3A) sudah lakukan assesmen,” terang Solikin.
Pemkab, menurut Solikin akan terus mengawal penanganan kasus Lik. Tidak hanya dari sisi medisnya. Melainkan juga psikologi siswa SD itu. “Kemarin (5/8) juga sudah dibantu aktivasi BPJS. Masbup (Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana) mintanya terus dikawal hingga tuntas,” imbuh Solikin.
Untuk diketahui, temuan kelamin ganda atau ambiguous genitalia itu bukan kali pertama terjadi. Pada 2015 silam, Ani, warga Kecamatan Semen juga mengalami hal serupa. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan operasi, dia mantap memilih jenis kelamin laki-laki.(*)
Editor : Mahfud