KEDIRI, JP Radar Kediri- Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih banyak ditemui hingga awal Februari ini. Penderita maupun suspek penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti pun mendominasi rawat inap di puskesmas. Salah satunya di Puskesmas Mrican.
Kepala Puskesmas Mrican drg Suprih Winarni mengatakan, pasien rawat inap di puskesmas barat sungai itu kebanyakan merupakan pasien DBD. Di luar itu, kasus seperti tipes juga ditemui.
“Sekarang di Puskesmas Mrican (pasien rawat inap, Red) nggak hanya wilayah sini. Tapi penolakan-penolakan dari rumah sakit kan juga ke sini,” kata Suprih mengakui jika pasien rawat inap cenderung meningkat.
Meski demikian, menurutnya jumlah kasus awal Februari ini tidak sebanyak bulan lalu.
“Sekarang sisa tiga (bed, Red) kalau nggak salah. Biasanya sore yang kebanyakan masuk sini,” lanjut Suprih sembari menyebut di Puskesmas Mrican total ada delapan bed rawat inap.
Di tengah merebaknya DBD, dia menyoroti masih belum banyak masyarakat yang memahami langkah pencegahan penyakit tersebut.
Banyak masyarakat yang langsung meminta dilakukan fogging atau pengasapan saat didapati kasus di lingkungannya.
“Padahal fogging itu caranya tidak bisa langsung. Harus dicek dulu. Fogging itu kan memberantas nyamuk yang dewasa saja,” ungkapnya sembari menyebut jentik-jentik nyamuk tidak bisa ikut mati.
Karenanya, menurut Suprih yang paling efektif tetap dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Mau di-fogging terus tapi masyarakatnya tidak sadar, ya tetap saja ada lagi. Karena yang mati hanya yang terbang. Jentik-jentiknya nggak mati. Tiga hari (nyamuk, Red) muncul lagi,” urai perempuan yang akrab disapa Win itu.
Dia mencontohkan, fogging baru bisa dilakukan jika ada temuan positif DBD. Dari situ, petugas puskesmas akan lebih dulu mendatangi lingkungan dan memeriksa jentik nyamuk di radius 100 meter. Jika terdapat jentik, dapat dimungkinkan pasien terjangkit di lingkungan tersebut.
“Baru kita bisa lakukan fogging. Kalau jentiknya nggak ada, bisa saja kenanya di sekolah atau di mana,” bebernya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto mengatakan, peningkatan kasus DBD terjadi seiring dengan puncak musim penghujan. Dari tahun ke tahun, tren peningkatan sering terjadi pada Januari-Februari.
“Selama awal Februari ini ada empat kasus,” ujar Hendik.
Temuan kasus paling banyak berasal dari Kecamatan Mojoroto. Peningkatan kasus beberapa minggu belakangan juga menurutnya karena banyaknya air yang menggenang di sekitar rumah. Sehingga menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
“Sehingga perlu upaya pencegahan dengan meniadakan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk dengan PSN,” tandas Hendik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah