Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kasus Demam Berdarah di Kota Kediri Naik Hampir 3 Kali Lipat

Ayu Ismawati • Selasa, 24 Desember 2024 | 15:48 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Memasuki puncak musim hujan Desember ini, masyarakat harus kembali mewaspadai ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, dibandingkan tahun lalu, jumlah kasus naik hingga hampir tiga kali lipat.

Berdasar catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri, selama Januari-Desember 2023, total kasus DBD di Kota Kediri hanya 85 temuan.

Namun,  belum genap setahun atau mulai Januari-November 2024, sudah ada 241 kasus DBD yang terdata.

Angka itu dipastikan masih naik lagi setelah ditambahkan dengan jumlah kasus di penghujung tahun ini.  

“Saat ini mulai meningkat,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Muhammad Fajri Mubasysyr melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto. 

Menurutnya, peningkatan kasus itu tidak lepas dari faktor cuaca. Tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti di lingkungan masyarakat itu meningkat.

Salah satunya dari wadah-wadah terbuka atau barang bekas di lingkungan masyarakat yang tergenang air. “Nanti kemungkinan puncaknya Januari biasanya,” tandasnya.

Untuk menekan agar kasusnya tidak semakin tinggi, pihaknya pun sudah mendorong masyarakat agar menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Atau, mencegah terbentuknya sarang-sarang nyamuk lewat kegiatan 3M. Yakni, menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Yang efektif ya PSN itu,” terangnya sembari menyebut, masih banyak masyarakat yang kurang kesadarannya dalam memeriksa jentik nyamuk di lingkungan masing-masing.

Alasannya, DBD timbul dari lingkungan yang kurang bersih dan sehat. Dengan adanya barang-barang bekas atau wadah terbuka, akan dijadikan nyamuk pembawa penyakit sebagai tempat berkembangbiak.

“Jadi konsepnya kalau nggak mau kedatangan nyamuk, ya jangan diberi rumah,” beber Hendik.

Lebih jauh, menurut Hendik kawasan permukiman padat penduduk cenderung berisiko tinggi memunculkan penyakit.

Hal itu karena dengan semakin banyaknya hunian, potensi timbulnya genangan air hujan juga semakin besar. 

“Makanya seperti Kecamatan Mojoroto itu termasuk endemis. Maksudnya paling sering (muncul kasus, Red) di antara tiga kecamatan itu. Karena di Kecamatan Mojoroto padat ya. Banyak kos-kosan, pondok pesantren, sekolahan,” urai Hendik.

Adapun terkait tingginya kasus selama sebelas bulan terakhir, menurutnya juga tidak lepas dari siklus cuaca selama setahun ini.

Menurutnya, hujan cenderung lebih sering terjadi di tahun ini imbas musim penghujan tahun lalu yang mundur dari biasanya.

“Tahun ini kalau dibanding 2023 itu di semua daerah terjadi peningkatan. Kemungkinan kan karena 2023 itu ada perubahan musim. Kemarin baru hujan Februari. Akhirnya kasusnya tingginya di 2024,” terangnya 

         

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Demam Berdarah (DBD) #kasus demam berdarah #demam berdarah dengue (DBD) #jawa pos #kota kediri