KEDIRI, JP Radar Kediri-“Suasana kacau sekali. Anak-anak menangis bersahutan. Ada yang tiba-tiba nggeblak (terjatuh, Red) karena kesakitan,” ungkap Lilik Tri Haryati, salah satu jemaah tentang petaka yang terjadi jelang salawatan bersama tim salawat Syubbanus Salimiyyah, di Dusun/Desa Krecek, Badas, Selasa (01/10) malam lalu.
Jarum jam menunjukkan pukul 20.00. Saat itu, ribuan jemaah bersiap mengikuti salawatan yang digelar dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi. Tiba-tiba keriuhan terjadi di barisan jemaah paling depan.
Sesuai urutan, mereka memang tiba lebih dulu. Meski mayoritas baru tiba di lokasi sekitar pukul 19.00, tidak sedikit yang selepas Maghrib sudah berada di sana.
Saat tiba, panitia membagikan snack dan minuman kemasan dalam botol yang dikemas di plastik kresek.
Petaka mulai terjadi selang sekitar 30 menit setelah mereka mengonsumsi paket snack dan minuman itu. “Anak-anak langsung menangis karena sakit perut dan muntah-muntah,” lanjutnya.
Acara salawatan yang sedianya segera dimulai langsung batal. Petugas barisan serba-guna (banser) yang seharusnya menjaga lokasi sibuk mengangkat balita untuk dievakuasi. Sebagian memberi pertolongan jemaah yang kesakitan lainnya.
Selain mengeluh sakit perut dan muntah-muntah, total ada 200 jemaah yang juga mengeluhkan pusing serta sakit kepala. “Saya lihat ada yang mulutnya berbusa juga,” lanjut Lilik.
Meski dirinya tak keracunan, perempuan asal Desa Tunglur, Badas itu juga ikut panik. Sebab, salah satu keponakannya yang mengonsumsi minuman dan snack juga keracunan.
Snack apa yang dikonsumsi? Menurut Lilik jenisnya macam-macam. Mulai wafer, roti, hingga malkist.
Adapun minumannya mulai dari teh, susu, yoghurt, hingga minuman rasa jeruk. “Setiap bungkus isinya tidak sama,” terang Lilik terkait makanan berbagai merk itu.
Lebih jauh Lilik menyebut, keberadaan paket snack pada salawatan Selasa malam lalu sedikit mengherankan jemaah.
Sebab, di acara rutinan majelis itu biasanya mereka hanya mendapat kopi atau teh. Jika ada jajan, biasanya juga hanya roti goreng. “Saya heran tapi memang tidak curiga,” papar perempuan yang bergabung di jemaah salawat Syubbanus Salimiyyah selama dua tahun itu.
Hal senada diungkapkan oleh Khosiah, 49. Jemaah asal Desa Canggu, Badas itu mengajak dua anaknya. Mereka sama-sama meminum yoghurt.
“Anak saya yang berusia 15 tahun meminum setengah botol. Dia langsung mengeluh sakit perut dan muntah-muntah,” papar Khoisah.
Setelah melihat banyak jemaah keracunan, panitia langsung melarang jemaah mengonsumsi snack dan minuman yang dibagikan.
Banser yang bertugas di depan langsung membuang paket snack yang belum sempat dibagikan.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, satu plastik paket snack itu berisi beberapa jenis makanan. Selain satu minuman dalam botol, ada snack berupa wafer atau roti di dalamnya.
Beberapa minuman yang diterima koran ini, secara fisik memang terlihat mencurigakan. Untuk minuman rasa jeruk yang biasanya bening, terlihat ada endapan berupa butiran-butiran halus di bagian atas botol. Demikian juga untuk yoghurt.
Terpisah, Koordinator Majelis Syubbanus Salimiyyah Taufiq Dwi Kusuma mengatakan, salawatan dijadwalkan mulai pukul 21.00.
“Sebelum acara dimulai sudah banyak yang sakit, akhirnya tidak dilanjutkan,” kata Taufiq.
Pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu menyebut, pihak majelis tidak mengetahui pembagian bingkisan berupa makanan dan minuman itu.
“Kami tidak menyediakan konsumsi. (Pembagian snack, Red) itu tanpa sepengetahuan Majelis Syuban. Jadi itu wilayahnya panitia lokal,” jelasnya.
Meski demikian, menurutnya Majelis Syuban sudah menjenguk para korban di RSKK dan di RS HVA Toeloengredjo Pare. Selebihnya, majelis akan bersilaturahmi dengan para jemaah sebagai bentuk simpati.
Berkaca dari keracunan masal itu, menurut Taufiq pihaknya akan lebih berhati-hati di acara salawatan selanjutnya. “Antisipasinya Syuban nanti cuma melihat apakah ini bantuan makanan itu sudah expired atau belum.
Tetapi namanya orang sedekah kami tidak bisa menolak. Kami harus teliti dan jeli,” tandasnya sembari menyebut insiden keracunan itu tidak menghentikan agenda rutin salawatan yang sudah berjalan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah