JP Radar Kediri – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) mengubah cara manusia berkomunikasi. Kondisi tersebut membuat pembelajaran bahasa dinilai perlu memperluas keterampilan yang diajarkan, tidak lagi hanya berfokus pada menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Prof Ali Saukah, Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur sekaligus anggota Dewan Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa selama hampir lima dekade banyak menggunakan paradigma empat keterampilan tersebut. Paradigma itu berkembang sejak pendekatan komunikatif mulai digunakan pada dekade 1970-an.
Baca Juga: Tempat Duduk di Kelas, Apakah Bisa Memengaruhi Keterlibatan Siswa?
Namun, pola komunikasi masyarakat saat ini semakin kompleks. Orang tidak hanya membaca buku atau mendengarkan penjelasan, tetapi juga memahami infografik, video pendek, visualisasi data, media sosial, webinar, konten digital, hingga berinteraksi dengan sistem AI.
Karena itu, pendidikan bahasa dinilai membutuhkan paradigma baru berupa tujuh keterampilan berbahasa, yakni menyimak, membaca, berbicara, menulis, memirsa (viewing), merepresentasikan (representing), dan mempresentasikan (presenting).
Baca Juga: Di Tengah Banjir Informasi, Mengapa Anak Perlu Belajar Memeriksa Sebelum Percaya?
Keterampilan memirsa berkaitan dengan kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan mengkritisi pesan yang disampaikan melalui media visual maupun multimodal. Kemampuan tersebut diperlukan ketika peserta didik memahami infografik, peta digital, film dokumenter, hingga simulasi interaktif.
Sementara itu, merepresentasikan merupakan kemampuan membangun makna melalui berbagai bentuk, seperti visual, simbolik, digital, spasial, maupun multimodal.
Misalnya, peserta didik mengubah bacaan menjadi peta konsep, membuat infografik dari data, merancang poster, atau menyusun video edukatif.
Baca Juga: Teken Surat Komitmen, Dasco Siap Mundur jika RUU Perampasan Aset Molor dari 15 Desember
Baca Juga: Tips dan Trik Mix and Match Blus Floral agar Tampil Stylish dan Tidak Berlebihan!
Adapun mempresentasikan berfokus pada kemampuan menyampaikan gagasan kepada audiens melalui bentuk lisan, visual, digital, atau multimodal.
Kemampuan ini tidak hanya mencakup berbicara di depan orang lain, tetapi juga menjelaskan gagasan, mempertahankan argumentasi, menjawab pertanyaan, dan membangun dialog.
Ketiga keterampilan tambahan tersebut dinilai memperluas makna literasi. Proses belajar tidak lagi berhenti pada menerima informasi, tetapi mencakup kegiatan menyimak, membaca, memirsa, merepresentasikan, mempresentasikan, berdiskusi, dan merefleksikan informasi untuk membangun pemahaman baru.
Paradigma tersebut juga dinilai sejalan dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam yang menempatkan memahami, mengaplikasi, dan merefleksi sebagai bagian utama pengalaman belajar.
Ketika siswa membuat infografik dari hasil pengamatan dan kemudian mempresentasikannya untuk memperoleh umpan balik, mereka tidak hanya menggunakan pengetahuan, tetapi juga mengevaluasi dan menyempurnakannya.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi bagi pembelajaran bahasa. Kurikulum perlu memberi ruang bagi keterampilan memirsa, merepresentasikan, dan mempresentasikan.
Baca Juga: Demo 27 Agustus di DPR: Sempat Tegang, DPR Gelar Paripurna Bahas RUU Perampasan Aset
Pendidikan guru juga perlu menyiapkan calon pendidik agar mampu membimbing siswa menghasilkan karya multimodal.
Buku ajar dan asesmen pun dinilai perlu menyesuaikan. Aktivitas pembelajaran tidak cukup hanya meminta siswa membaca dan menulis, tetapi juga mengamati, memvisualisasikan, mendesain, menghasilkan karya, serta mengomunikasikan gagasan.
Kehadiran AI semakin memperkuat kebutuhan tersebut. Teknologi kini mampu menghasilkan teks, gambar, presentasi, hingga video dalam waktu singkat.
Karena itu, pendidikan bahasa perlu semakin menekankan kemampuan manusia dalam memberi makna, membuat pertimbangan etis, membangun empati, berkolaborasi, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, perubahan dari empat menjadi tujuh keterampilan berbahasa bukan sekadar penambahan materi. Perubahan tersebut dipandang sebagai upaya menyesuaikan pendidikan bahasa dengan pola komunikasi masyarakat di era digital dan AI.
Editor : Shinta Nurma AbabilSumber : Antara News