JP Radar Kediri – Pernah merasa lebih mudah mengingat cerita dalam film atau pengalaman seseorang dibandingkan materi pelajaran yang dipelajari sehari sebelumnya?
Dalam pembelajaran, cara menyampaikan informasi ternyata dapat memengaruhi seberapa mudah siswa memahami dan mengingat materi.
Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 78 sampel penelitian dengan lebih dari 33 ribu peserta menemukan bahwa informasi yang disampaikan dalam bentuk narasi cenderung lebih mudah dipahami dan diingat dibandingkan teks ekspositori yang menyajikan informasi secara langsung.
Baca Juga: RSUD SLG dan Puskesmas Grogol Jadi Rujukan CJH Embarkasi Dhoho Kediri, Begini Penjelasannya
Cerita Membuat Materi Lebih Terhubung
Cerita memiliki struktur yang lebih mudah dikenali. Ada tokoh, urutan kejadian, tujuan, serta hubungan sebab-akibat. Struktur tersebut membantu pembaca menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya.
Berbeda dengan deretan fakta yang terkadang harus dihafalkan secara terpisah, cerita menempatkan informasi dalam sebuah konteks. Karena itu, siswa dapat lebih mudah membayangkan apa yang terjadi dan menghubungkannya dengan bagian lain dari materi.
Dalam meta-analisis tersebut, keunggulan narasi juga terlihat pada kelompok peserta usia muda. Artinya, penggunaan cerita memiliki potensi sebagai salah satu cara untuk membantu siswa memahami dan mengingat informasi.
Baca Juga: Di Tengah Banjir Informasi, Mengapa Anak Perlu Belajar Memeriksa Sebelum Percaya?
Bukan Berarti Semua Materi Harus Jadi Cerita
Meski cerita memiliki keunggulan dalam membantu ingatan dan pemahaman, bukan berarti seluruh materi pelajaran harus disampaikan dalam bentuk cerita.
Pengetahuan awal siswa juga dapat memengaruhi bagaimana mereka memahami suatu materi. Teks ekspositori tetap penting ketika siswa membutuhkan informasi yang terstruktur, rinci, dan langsung pada suatu konsep.
Karena itu, cerita lebih tepat digunakan sebagai jembatan menuju materi, bukan sebagai pengganti fakta.
Bisa Diterapkan dalam Pembelajaran
Guru dapat menggunakan narasi untuk memberikan konteks sebelum menjelaskan konsep.
Dalam pelajaran sejarah, misalnya, siswa dapat diajak mengikuti rangkaian sebuah peristiwa sebelum mempelajari tanggal, tokoh, dan data penting.
Pada pelajaran sains, sebuah masalah atau kejadian sehari-hari dapat digunakan sebagai pembuka sebelum siswa mempelajari konsep ilmiahnya.
Pendekatan serupa juga dapat diterapkan melalui digital storytelling. Sebuah penelitian pada pendidikan psikologi menemukan bahwa pembelajaran dengan cerita digital yang dipadukan dengan diskusi dapat memberikan hasil belajar dan kepuasan belajar yang baik pada peserta didik.
Kuncinya bukan sekadar membuat pembelajaran menjadi lebih menarik. Cerita harus tetap berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan membantu siswa memahami konsep yang sedang dipelajari.
Baca Juga: Dari Belajar di Rumah hingga Kelas Darurat, Begini Pendidikan Berjalan Pasca Gempa Flores
Cerita Menarik, Fakta Tetap Penting
Cerita memang dapat membuat informasi lebih mudah diingat, tetapi daya tarik sebuah cerita tidak menjamin bahwa seluruh isinya benar.
Karena itu, pembelajaran tetap perlu mengajarkan siswa untuk membedakan antara narasi, pendapat, dan fakta. Setelah memahami sebuah cerita, siswa tetap perlu memeriksa data dan sumber yang mendukungnya.
Pada akhirnya, cerita dapat menjadi salah satu cara untuk membuat pembelajaran lebih mudah dipahami.
Ketika informasi memiliki konteks dan hubungan yang jelas, siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memiliki gambaran tentang apa yang sedang mereka pelajari.
Jadi, rahasia cerita yang lebih mudah menempel bukan semata-mata karena ceritanya menarik. Informasi yang saling terhubung membuat materi lebih mudah dipahami dan diingat.
Editor : Shinta Nurma Ababil