JP Radar Kediri - Tiap 17 Agustus, kita selalu diingetin soal perjuangan para pahlawan ngerebut kemerdekaan dari penjajah. Tapi coba deh mikir sejenak, semangat "merdeka" itu sebenarnya masih terus hidup, salah satunya lewat dunia pendidikan lewat filosofi Merdeka Belajar.
Kemendikdasmen, sempat menegaskan kalau sampai sekarang belum ada kurikulum baru yang resmi diberlakukan. Sekolah-sekolah di Indonesia masih jalan pakai dua kurikulum sekaligus, Kurikulum 2013 (K13) dan Kurikulum Merdeka, tergantung kesiapan masing-masing.
Mayoritas, sekitar 80-90 persen sekolah, memang udah beralih ke Kurikulum Merdeka. Tapi buat sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan), masih dikasih kelonggaran pakai K13 sampai tahun ajaran 2026/2027 karena kondisinya emang beda-beda tiap daerah.
Bukan Kurikulum Baru, Cuma Diperdalam Aja
Nah, soal istilah "deep learning" atau pembelajaran mendalam yang belakangan sering wara-wiri di percakapan guru dan orang tua, itu juga sering disalahpahami. Padahal bukan kurikulum baru, melainkan cuma metode yang diperkuat di dalam Kurikulum Merdeka yang udah ada.
Lewat Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, pendekatan ini didorong biar siswa tidak cuma buru-buru ngejar cakupan materi sampai habis, tapi bener-bener paham konsepnya sambil ngasah kemampuan berpikir kritis.
Baca Juga: Ada “Perang Bintang” di Proyek Alun-Alun?
Permendikdasmen yang sama juga bawa beberapa pembaruan lain yang cukup menarik. Salah satunya mata pelajaran pilihan baru, Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI), yang mulai diperkenalkan bertahap sejak tahun ajaran 2025/2026, dimulai dari kelas 5 SD, 7 SMP, sampai 10 SMA/SMK.
Terus, istilah "Profil Pelajar Pancasila" yang biasa disingkat P5 juga udah resmi ganti nama jadi "Profil Lulusan" di dokumen kurikulum. Belum lagi kegiatan kepanduan alias Pramuka, yang sekarang ditetapkan wajib jadi bagian dari pilihan ekstrakurikuler buat nguatin semangat kemandirian dan gotong royong siswa.
Nyambung ke Semangat Kemerdekaan
Kalau dipikir-pikir, semangat di balik kebijakan ini sebenarnya nyambung banget sama nilai kemerdekaan itu sendiri. Dulu para pejuang berjuang biar generasi selanjutnya bisa hidup bebas, sekarang semangat itu diterjemahkan lewat pendidikan yang ngasih ruang buat siswa dan guru berkembang sesuai kebutuhan, tidak dipaksa seragam kayak dulu.
Soal transisi penuh menuju satu kurikulum sendiri, itu baru diarahkan kelar sekitar 2027, dengan daerah 3T dikasih waktu sampai 2028 biar prosesnya enggak buru-buru dan bikin sekolah kelabakan.
Jadi buat siswa yang sekolahnya udah pakai Kurikulum Merdeka, tenang aja, tidak bakal ada perubahan mendadak. Yang berubah cuma penguatan di cara belajarnya, lebih ke pemahaman mendalam ketimbang sekadar ngejar nilai atau cakupan materi.
Baca Juga: Gunung Bromo Ditutup Sampai Kapan? Wisatawan Wajib Tahu Imbas Kebakaran Lahan
Sementara buat yang masih pakai K13, transisinya juga dirancang bertahap, bukan dadakan yang bikin panik. Momentum HUT RI ke-81 ini mungkin bisa jadi pengingat kecil, kalau merdeka itu tidak melulu soal bebas dari penjajah. Merdeka juga bisa berarti punya ruang buat berkembang sesuai kebutuhan masing-masing, termasuk dalam cara belajar di kelas sehari-hari.
Penulis : Satria Sinak
Universitas Nusantara PGRI Kediri