KEDIRI, JP Radar Kediri - Kesabarane Yu Minthul wis entek. Wis ora enek stok maneh. Deweke wis ora kuat ngadepi kelakuane Sudrun sing dianggap wis keterlaluan.
Semakin lama, sikape Sudrun ora malah luwih apik. Tapi malah semakin sakarepe dewe. Belakangan Sudrun malah hobi main tangan alias melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Sebelumnya aku mengenal bojoku memang ahli silat. Mau dinikahi karena merasa ada pelindung,” ujar Yu Minthul, perempuan asal Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.
Baca Juga: Tetangga Congkrah, Rumah Tangga Bubrah
Menikah selama belasan tahun, sejatinya Yu Minthul wis apal kelakuane Sudrun. Deweke pancen dikenal emosian.
Namun, bojone ora pernah mara tangan. Meski sedang emosi, dia relatif bisa mengendalikannya. Hal itu pula yang membuat Yu Minthul mampu bertahan.
“Ya karepku aku sik bisa ngempet. Tapi saiki wis ora bisa tenan,” sungut Yu Minthul kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Yu Minthul sudah tidak bisa lagi memberi toleransi karena memang sikap Sudrun yang semakin parah. Tepatnya setelah bojone terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari tempat kerjanya tahun lalu.
Baca Juga: Ora Diopeni, Yu Minthul ke Lain Hati
Melihat Sudrun yang sedang terpuruk setelah kehilangan pekerjaan, sebenarnya Yu Minthul berusaha menghiburnya. Dia terus mendekati suaminya itu dengan sabar.
“Sayangnya upaya itu berujung gagal. Aku sering mendapat pukulan tanpa alasan yang jelas,” tandasnya.
Puncaknya ketika Yu Minthul mendapat pukulan hingga membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit. Bahkan, dia harus mendapat perawatan intensif selama tiga hari. Pukulan Sudrun mengenai hidung dan membuatnya berdarah.
Baca Juga: Nuruti Gengsi, Akhire Kecemplung Bui
Setelah dicek, ternyata pukulan itu membuat tulang hidungnya retak. “Aku paling wis mati kalau tidak mendapat pertolongan segera karena darahnya kocar-kacir dan nyaris pingsan,” aku perempuan berusia 36 tahun itu.
Sejak kejadian itu, Yu Minthul takut dengan suaminya. Alhasil, hubungannya semakin dingin. Bahkan, pernah tidak saling bertegur sapa dalam satu hari.
Ketakutan itu muncul karena suaminya mempraktikkan keahliannya gelut dengan istrinya sendiri. Yang tidak menutup kemungkinan nanti anaknya juga bisa menjadi korban.
Baca Juga: Anake Berulah, Keluarga Bubrah
“Wes golek aman wae aku njaluk pegatan. Mesakne anakku yen nantinya harus menjadi korban kebrutalan bojoku,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita