JAHATKAH Rahwana? Baikkah Rama? Bila Anda penyuka kisah Ramayana, saya yakin penilaian sosok yang dalam kisah pewayangan Jawa juga disebut Dasamuka ini sebagai sosok jahat. Dasarnya, Dalam kisah itu, Raja Alengka yang juga dipanggil Dasamuka-berwajah sepuluh-itu sebagai antagonis. Jahat. Menjadi lawan dari Ramawijaya, raja Ayodya.
Dan, seperti halnya kisah-kisah kepahlawanan, yang mengetengahkan pertempuran antara baik dan jahat, sang pahlawanlah yang menjadi pemenang. Mengalahkan sang jahat dengan segala kelicikannya. Maka, berakhirlah sang raksasa ‘perebut’ istri orang dalam tindihan gunung yang ditimpakan oleh sang Anoman.
Eits...., tunggu dulu. Ada yang tidak sepenuhnya sepaham dengan alur cerita kisah Ramayana konvensional tersebut. Ada Agus Sunyoto, budayawan yang semasa hidupnya memimpin Lesbumi-Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia-ini menyodorkan sudut pandang berbeda.
Bahwa Rahwana bukanlah tokoh jahat seperti yang digambarkan dalam kisah Ramayana. Melainkan seorang penguasa yang dengan gagah berani membela kehormatan bangsa dan negaranya.
Baca Juga: Martech
Sementara, Rama-sang pahlawan dalam pandangan kisah Ramayana-justru digambarkan sebagai penakluk. Dalam novel berjudul Rahuvana Tattwa itu, Rama adalah pemimpin ras yang mengganggap mereka berkedudukan lebih tinggi dari ras lainnya. Berusaha menaklukkan negeri sang Rahuvana yang melakukan perlawanan mati-matian.
Mana yang benar dari dua pandangan di atas? Bisa jadi yang pertama-bahwa Rahwana adalah antagonis-merupakan pendapat yang benar. Tapi, bisa pula sudut pandang kedua yang benar. Bergantung dari sisi mana kita memandang dan siapa sejatinya diri kita.
Sebab, pada dasarnya kebenaran hakiki itu hanya milik Sang Pencipta. Sedangkan manusia hanya bisa melihat kebenaran tersebut dari segala keterbatasan membaca situasi. Bagi penyuka Rahwana, boleh jadi dia akan dielu-elukan. Sebaliknya, penggemar Rama sudah pasti akan mencemooh.
Lebih penting lagi, siapakah yang menjadi pemenang, yang menulis kisah-kisah tersebut. Sebutlah, dalam kitab Ramayana yang disusun oleh Walmiki itu, sosok Rama adalah pemenang. Maka, sosok antagonis adalah kubu yang kalah.
Hal serupa terjadi pada pencatatan sejarah. Kisah heroik yang terjadi selama Perang Dunia II pun bisa berubah. Seandainya yang memenangkan perang bukanlah kubu Sekutu. Melainkan pihak Nazi dan geng Poros-nya. Bila ini terjadi, Hitler adalah pahlawan. Sedangkan Winston Curchill dkk adalah penjahat.
Baca Juga: Puasa dan Libur Sekolah
Demikian pula Diponegoro. Sang pahlawan dalam sejarah Indonesia ini bisa jadi dicap sebagai pemberontak seandainya saja Belanda tetap menjadi penjajah Nusantara. Nama-nama seperti Jenderal Mallaby akan dikenang sebagai pahlawan.
Dalam konteks kekinian, soal benar dan salah, pahlawan atau penjahat, pembela atau penindas, juga mengalami perdebatan. Bahkan, kian sengit karena diwarnai campurtangannya teknologi komunikasi. Kehadiran internet dengan media sosialnya makin mengaburkan fakta kebenaran maupun kesalahan. Sesuatu akan langsung dicap salah bila dikemas dan dinarasikan sebagai tindakan jahat. Sebaliknya, seburuk apapun bila berhasil mengemas sebagai suatu kebaikan maka akan menjadi tindakan terpuji.
Pada era seperti ini muncullah fenomena buzzer. Apa itu? Adalah individu atau kelompok yang menyebarkan informasi atau opini tertentu melalui media massa. Buzzer ini rata-rata dibayar untuk melakukan hal tersebut.
Seringkali buzzer berperan dalam membalikkan fakta. Kebenaran menjadi salah. Atau, sebaliknya, kesalahan menjadi benar.
Manipulasi fakta seperti itu sudah menjadi sesuatu yang jamak di zaman ini. Kebenaran bukan lagi sebagai sesuatu yang absolut. Satu ditambah satu tidak lagi sama dengan dua. Tapi, tergantung siapa yang bertanya dan siapa yang menjawab. Serta, apa kepentingan si penjawab dan si penanya.
Maka, ketika kita disodori pertanyaan, apakah tindakan memasang pagar di laut itu sebagai tindakan benar? Apakah memiliki sertifikat-baik itu HGB maupun SHM-dari area yang masih berupa lautan itu juga tindakan yang benar? Atau, mencarikan ‘pekerjaan’ sang anak meskipun harus mengakali undang-undang adalah tindakan benar? Semua bergantung siapa yang bertanya dan siapa yang menjawab. Karena di zaman ini, otak dan pemikiran kita sudah tercemar. Bergantung pada kepentingan apa yang kita ingini. Kalau kita pendukung orang tersebut, bisa jadi semua tindakannya akan kita anggap benar. Kita elu-elukan sebagai dewa segala benar. Apalagi bila wajah idola kita itu menampakkan raut yang tak berdosa. Semakin kesengsemlah kita.
Maka, jangan heran bila masih banyak orang jahat yang diidolakan orang banyak gara-gara narasi yang diciptakan berkebalikan dengan fakta sebenarnya. Kemudian terpilih menjadi pemimpin. Pada situasi seperti ini, apakah kita masih berani mengatakan bahwa suara rakyat adalah suara tuhan?
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian