SWEDIA menganggarkan Rp 1,7 Triliun agar mereka kembali belajar dengan buku. Menganggap pembelajaran digital justru mengurangi fokus.
Entah, apakah yang dilakukan Swedia ini dikategorikan lompatan maju ataukah mundur? Karena negara di kawasan Balkan ini dengan berani mendeklarasikan bakal kembali menggunakan buku untuk pembelajaran sekolah. Tidak lagi bertumpu pada peralatan digital semacam laptop maupun tablet.
Lho? Sangat berani memang. Ketika peradaban sudah berada di genggaman teknologi informasi. Ketika artificial intelligent (AI) sangat didewakan, atau didewikan. Menganggap kepandaian buatan itu jauh melebihi si pembuat.
Namun, ketika kita tahu alasan negeri di Eropa seluas sekitar 450 kilometer persegi maka permakluman langsung muncul. Bahkan, kernyit dahi akan berubah jadi belalakan mata. Berganti menjadi decak kagum atas keberanian salah satu negara makmur di dunia itu.
Baca Juga: Perkara MBG (Makan Buat Gusyon)
Mengapa? Karena negeri itu merasa di-PHP oleh digitalisasi. Awalnya, ketika mengubah metode pembelajaran dengan digitalisasi pada 2009 harapannya adalah membuat generasi muda mereka siap dengan proses digitalisasi yang sudah menjadi keniscayaan. Nyatanya, setelah berlangsung bertahun-tahun, justru kualitas pelajar mereka dalam literasi menurun.
Berdasarkan data dari Progress International Readings Literacy Study (PIRLS)-lembaga yang mengukur skor tingkat literasi negara-negara di dunia-skor Swedia menunjukkan tren menurun sejak 2016. Pada 2021 rata-rata poin siswa kelas 4 SD di negara ini ‘hanya 544 poin’. Sedangkan pada 2016 skornya 555 poin.
Pemerintah setempat pun mempercayai result dari penelitian Forte-Dewan Riset Swedia untuk Kesehatan, Kehidupan Kerja, dan Kesejahteraan yang menyebut teknologi digital justru menghambat kemampuan siswa fokus dalam merespon informasi kompleks. Satu kesimpulan yang akhirnya membuat negara tersebut rela mengeluarkan anggaran Rp 1,7 Triliun untuk kembali mencetak buku-buku pelajaran. Wooow!!!
Bagaimana dengan kita? Entahlah, apakah pemangku kebijakan kita sudah memikirkan hal tersebut? Atau, tidak terlintas sedikit pun soal kelebihan dan kekurangan buku dibanding peralatan digital? Yang pasti, kita masih terjebak pada masalah penerapan kurikulum. Yang tiap ganti penguasa pasti ganti mode. Juga masih terjebak pada pemberlakuan zonasi atau tes ketika hendak memasuki sekolah negeri, sekolah yang dianggap favorit oleh masyarakat.
Juga, kita masih terjebak perlu tidaknya berlaku ujian nasional? Sebagai pengukur keberhasilan pendidikan. Terlepas pada kenyataannya, ada ujian atau tidak, perilaku pengaturan nilai masih saja jadi hal latent. Yang justru mereduksi peningkatan kualitas pendidikan.
Atau, ada pula orang pandai di negeri ini berusaha mengutak-atik lagi kewajiban negara menganggarkan sektor pendidikan yang sebesar 20 persen dari APBN itu ada di pos pendapatan atau belanja negara. Padahal nilai sebanyak itu yang dialokasikan ke teknis pendidikan masih sangat minim. Karena terkuras untuk biaya-biaya seperti gaji guru dan lain sebagainya.
Belum lagi kita masih memandang seksi program makan bergizi gratis (MBG) dibanding upaya meningkatkan kualitas perpustakaan di sekolah-sekolah. Memberi makanan yang gizinya patut dipertanyakan itu seakan-akan merupakan langkah wajib bila ingin meningkatkan kualitas penduduk. Tak peduli bila ternyata makanan yang diberikan kepada si anak ternyata tak lebih bergizi, bahkan berada di bawah, dari makanan yang tersaji di rumah setiap hari.
Padahal, kenyataannya, skor PIRLS negara kita jauh di bawah Swedia. Ada di level 41 dari 45 peserta. Skornya pun ‘hanya’ 405. Bandingkan dengan negara berluas lilliput tetanggan kita, Singapura, yang menduduki porsi pertama dengan skor 587!
Artinya, tingkat membaca kita sangatlah rendah. Demikian pula dengan budaya menulis yang nyaris punah. Padahal, lemahnya literasi baca tulis itu bisa berujung pada pola berpikir yang masih rendah, tidak mampu mengembangkan pola berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif, dan kreatif.
Sementara, pada saat bersamaan kita masuk 10 besar negara yang paling lama mengonsumsi medsos. Berada di urutan kesembilan, di bawah Kenya, Afrika Selatan, Brasil, Filipina, Nigeria, Kolombia, Chili, dan Meksiko. Yang rata-rata berselancar di medsos setiap harinya selama tiga jam 11 menit.
Okelah, digitalisasi memang keniscayaan. Tapi, untuk menciptakan generasi yang tidak gagap dengan teknologi seperti itu adalah menciptakan kemampuan literasi yang mumpuni. Sebab, dari berbagai penelitian, membaca buku masih memiliki banyak keunggulan dibanding berselancar di internet. Membaca dan menulis, menumbukan pola berpikir kritis dan kreatif. Yang mampu mengolah dan memilah pesan masuk dengan lebih baik. Mampu menganalisa persoalan dengan nalar yang cukup. Tidak sekadar reaktif dengan sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Atau, hanya melihat sesuatu dari permukaan tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Coba tengok nasib perpustakaan-perpustakaan di tanah air. Di sekolah-sekolah negeri maupun swasta. Di perguruan tinggi. Atau yang milik pemerintah. Terkesan tak terurus dan terabaikan. Kalaupun ada, hanyalah sebatas menggugurkan kewajiban saja. Sebelum nantinya buku-buku tersebut benar-benar tergusur.
Maka, jangan heran kalau kita saat ini menjadi generasi yang ‘hanya’ heboh di dunia maya. Mendasarkan sesuatu pekerjaan dari hal-hal yang viral. Meskipun hal-hal yang viral itu belum sepenuhnya benar. Atau, belum sepenuhnya dipahami dengan benar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian