Berbagai cara dilakukan warga Ngluyu untuk mendapatkan air bersih. Sebelum menerima bantuan dari Pemkab Nganjuk, mereka berusaha mencari sumber air ke dalam hutan dan tengah sawah dengan berjalan kaki. Mereka harus menempuh jarak berkilometer agar bisa mendapatkan air layak konsumsi.
Warga Ngluyu yang mengalami kekeringan ada sebanyak 288 kepala keluarga. Salah satu yang harus berjuang mendapatkan air bersih ke tengah sawah adalah Siti, warga Desa/Kecamatan Ngluyu. Nenek 62 tahun itu harus memikul sendiri air dari tengah sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Walau sudah ada kiriman air bersih, saya masih cari ke sumur yang ada di sawah,” ujarnya. Dia terpaksa mencari air bersih yang lokasinya jauh karena kiriman air bersih dari Pemkab Nganjuk belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Ya kan pengirimannya dua hari sekali. Jadi kami harus mengirit penggunaan,” ungkapnya. Jika selama ini air dari sawahan dipakai untuk konsumsi, maka sekarang dipakai untuk mencuci dan mandi. Hal tersebut diamini Setiyono, 54, warga Desa/Kecamatan Ngluyu.
Warga di desanya harus mencari air bersih ke hingga ke hutan dengan jalan kaki. Jarak sumber air di hutan hingga ke kampung sangat jauh. Paling dekat satu kilometer. Ketika bantuan air bersih dari Pemkab habis, warga di desanya pasti berbondong-bondong ke sawah dan hutan. Mereka biasanya bergantian mengambil bersih dari sumur sawah yang masih mengalir.
Setyono mengatakan, kekeringan di desanya baru saja terjadi di tahun ini. Dia mengatakan, sejak dulu, sumur di tempatnya hampir tidak pernah kering. “Ya kalau musim kemarau, airnya susut tapi tidak sampai habis. Masih bisa digunakan untuk konsumsi,” ungkapnya.
Setiyono dan warga lainnya berharap, kekeringan ini tidak terjadi lagi di tahun depan. Salah satu yang diusulkan warga adalah Pemkab Nganjuk bisa mengatasi kekeringan dengan melakukan pengeboran sumur. Atau bisa memasang pipa air bersih yang sumbernya diambil dari lereng Gunung Pandan. Mereka berharap ada solusi permanen dari pemerintah.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah mewanti-wanti agar bantuan air bersih tidak dipakai untuk mencuci dan mandi. Karena itulah bagi warga yang ingin mandi harus menggunakan air yang diambil dari sumur yang ada di sawah dan di hutan. “Air bersih yang di-dropping secara berkala harus dipakai untuk konsumsi. Buat minum dan memasak tidak boleh untuk mandi,” tegas Kepala Pelaksana BPBD Abdul Wakid.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah