KEDIRI, JP Radar Kediri – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi potensi cuaca ekstrem akibat perkembangan El Nino dalam waktu dekat.
Fenomena iklim tersebut diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan, hingga gelombang panas di berbagai wilayah dunia.
Indonesia termasuk kawasan yang berpotensi mengalami kondisi lebih kering dari normal apabila El Nino berkembang semakin kuat.
Peringatan itu disampaikan setelah sejumlah indikator menunjukkan perkembangan El Nino yang semakin jelas.
Dalam rilisnya, berdasarkan pemantauan WMO, suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian tengah hingga timur pada akhir April hingga pertengahan Mei telah mendekati ambang batas El Nino.
Kondisi tersebut diperkuat suhu bawah permukaan laut di kawasan Pasifik tropis yang tercatat lebih dari 6 derajat Celsius di atas rata-rata sehingga menciptakan cadangan panas besar yang terus mendorong pemanasan di permukaan laut.
Selain itu, Southern Oscillation Index (SOI) atau komponen atmosfer dari El Nino juga menunjukkan kondisi yang konsisten dengan perkembangan fenomena tersebut.
Baca Juga: September hingga November Jadi Masa Kritis Kemarau 2026, Ini Penjelasan BMKG Kediri
Kombinasi indikator laut dan atmosfer itu memperkuat keyakinan para ahli bahwa El Nino sedang berkembang dan berpotensi bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
WMO menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena dampaknya dapat dirasakan lintas negara.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan dunia perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan El Nino yang kuat. Menurutnya, fenomena tersebut berpotensi memperparah kekeringan.
“Kita perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat, yang akan memperparah kekeringan dan hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di daratan maupun lautan. El Nino terakhir pada 2023–2024 merupakan salah satu dari lima yang terkuat dalam sejarah dan turut berperan dalam rekor suhu global yang terjadi pada 2024,” ujarnya.
Komunitas WMO saat ini terus memantau perkembangan kondisi tersebut untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan berbagai sektor yang sensitif terhadap perubahan iklim.
WMO menilai informasi dini sangat penting untuk mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap masyarakat maupun perekonomian.
Prakiraan musim dan sistem peringatan dini disebut menjadi instrumen utama untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena tersebut.
KmarauBaca Juga: BMKG Kediri: Kemarau 2026 dan El Nino Berpotensi Ganggu Produksi Beras, Inflasi Pangan Diwaspadai ini yang Perlu Dilakukan
Peringatan serupa juga disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres.
Menurut dia, dunia harus memperlakukan perkembangan El Nino sebagai peringatan iklim yang mendesak karena dapat memperburuk dampak pemanasan global yang sudah terjadi saat ini.
“Sains sudah sangat jelas: El Nino akan tiba dalam beberapa bulan ke depan dengan tingkat kepastian 90 persen. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak,” katanya dalam pernyataan video.
WMO menjelaskan tidak ada bukti bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi maupun intensitas El Nino.
Namun, perubahan iklim dapat memperparah dampaknya karena suhu laut dan atmosfer yang lebih hangat menyediakan lebih banyak energi dan kelembapan bagi kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan hujan lebat.
Kondisi tersebut membuat dampak El Nino berpotensi lebih besar dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Secara umum, El Nino identik dengan berkurangnya curah hujan di Indonesia, Australia, dan sebagian Asia Selatan.
Baca Juga: Mengenal Tiban, Ritual Kemarau dan Minta Hujan yang Masih Dilestarikan di Kediri
Sebaliknya, sejumlah wilayah lain di dunia justru berpotensi mengalami peningkatan curah hujan yang dapat memicu banjir. Pada musim panas di belahan bumi utara, perairan hangat akibat El Nino juga dapat memperkuat badai tropis di Pasifik tengah dan timur.
WMO turut merilis Global Seasonal Climate Update untuk periode Juni hingga Agustus 2026. Hasilnya menunjukkan suhu di atas normal diprakirakan terjadi hampir di seluruh dunia.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko stres panas dan mempercepat perkembangan kekeringan di wilayah yang mengalami penurunan curah hujan.
Selain suhu yang lebih tinggi, pola curah hujan yang diprediksi juga sesuai karakteristik El Nino.
Kondisi itu meningkatkan peluang terjadinya cuaca ekstrem, baik berupa hujan lebat dan banjir di sejumlah kawasan maupun kekeringan yang lebih parah di wilayah lain.
Karena itu, WMO meminta seluruh negara memanfaatkan prakiraan iklim dan sistem peringatan dini sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan semakin menguat dalam beberapa bulan mendatang.
Editor : Andhika Attar Anindita