Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hari Angkutan Nasional 2026, dari Sejarah DAMRI hingga Solusi Kemacetan Kota

Khansa Dhiya Ramadhania • Jumat, 24 April 2026 | 13:41 WIB
Hari Angkutan Nasional 2026
Hari Angkutan Nasional 2026

JP Radar Kediri – Setiap tanggal 24 April, Indonesia memperingati Hari Angkutan Nasional. Peringatan ini bukan sekadar momen rutin di kalender, tetapi pengingat akan sejarah transformasi.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa transportasi publik telah menjadi urat nadi mobilitas masyarakat sejak era sebelum kemerdekaan.

Melonjaknya angka kendaraan pribadi yang memicu kemacetan di berbagai kota besar membuat peran transportasi publik kini semakin krusial bagi warga.

Sektor ini dipandang sebagai solusi paling strategis dalam membangun ekosistem mobilitas yang lebih efektif, ekonomis, serta berkelanjutan.

Berbagai upaya dilakukan untuk memeriahkan sekaligus menguatkan makna peringatan ini. Salah satunya melalui kebijakan tarif khusus yang sangat terjangkau bagi masyarakat.

Baca Juga: Hari Buku Sedunia Diperingati 23 April, Ini Makna dan Peran Program World Book Capital oleh UNESCO

Pada momen Hari Angkutan Nasional, sejumlah layanan transportasi publik menghadirkan tarif simbolis, bahkan hingga Rp1.

Kehadiran moda seperti TransJakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam membenahi sistem transportasi.

Berbagai operator kini terus berupaya keras menarik minat masyarakat agar mulai terbiasa mengandalkan kendaraan umum untuk mobilitas harian.

Mengapa Diperingati Sebagai Hari Angkutan Nasional?

Awal mula angkutan umum di Indonesia dapat ditelusuri hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1943.

Pada periode tersebut, sistem transportasi nasional sudah mulai terorganisasi dengan baik melalui dua lembaga utama.

Baca Juga: Sejarah Hari Kartini: Menilik Jejak Perjuangan Emansipasi dan Pendidikan Perempuan Indonesia

Salah satunya adalah Jawa Unyu Zigyosha yang menangani distribusi barang serta Cikarn Zidosha Sokyoku untuk layanan angkutan penumpang.

Pasca-proklamasi kemerdekaan 1945, kedua organisasi ini resmi dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia di bawah naungan Kementerian Perhubungan.

Namanya pun berubah menjadi Djawatan Pengangkoetan untuk angkutan logistik dan Djawatan Angkoetan Darat bagi masyarakat umum.

Seiring perkembangan waktu, pemerintah mengambil langkah strategis untuk menyatukan kedua jawatan tersebut.

Keduanya dilebur dalam satu lembaga terintegrasi bernama Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI).

Peristiwa penyatuan inilah yang kemudian ditetapkan sebagai tonggak sejarah Hari Angkutan Nasional.\

Baca Juga: Hari Bumi 22 April: Bukan Sekadar Peringatan, Ini Sejarah dan Makna di Baliknya

Di era sekarang, esensi peringatan ini bergeser pada solusi problematika perkotaan.

Di tengah lonjakan jumlah kendaraan pribadi serta kemacetan parah di kota-kota besar, penggunaan angkutan publik kini menjadi kebutuhan mendesak.

Hal ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menciptakan sistem mobilitas masyarakat yang jauh lebih efisien, hemat, dan ramah lingkungan.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#Hari Angkutan Nasional #Hari Transportasi Nasional #Sejarah Transportasi Indonesia #Tarif Rp1 #damri