JP, Radar Kediri – Dunia pendidikan kembali digegerkan oleh viralnya sebuah video yang memperlihatkan seorang guru di Sragen, Jawa Tengah, memotong seragam siswa di dalam kelas.
Aksi yang sempat menghebohkan jagat maya itu menuai beragam reaksi dari masyarakat, mulai dari dukungan hingga kritik tajam.
Dalam video tersebut, terlihat guru tersebut secara langsung menggunting bagian pakaian siswa yang dianggap tidak sesuai dengan aturan seragam sekolah yang berlaku.
Pihak sekolah segera merespons derasnya perhatian publik. Dalam keterangannya, guru yang bersangkutan menegaskan bahwa tindakannya sudah terlebih dahulu dikomunikasikan dengan para orang tua siswa.
Baca Juga: Viral Guru Gunting Seragam Siswa di Jawa Tengah, Warganet Geram: 'Itu Dibeli Pakai Uang Orang Tua!'
Ia mengklaim, sebelum dilakukan tindakan, pihak sekolah sudah mendapatkan restu dari orang tua melalui surat pernyataan persetujuan.
Pihak sekolah menyebutkan bahwa aksi ini merupakan bagian dari pembinaan kedisiplinan yang telah dirancang sebagai upaya menanamkan nilai kepatuhan terhadap peraturan sekolah sejak dini.
Meski telah diberikan penjelasan resmi, kontroversi tetap bergulir. Sebagian masyarakat menilai tindakan tersebut terlalu keras dan bisa berdampak negatif terhadap psikologis siswa.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang justru memuji ketegasan guru tersebut dalam menegakkan kedisiplinan di tengah makin lunturnya budaya taat aturan di kalangan pelajar.
Menanggapi polemik tersebut, Dinas Pendidikan Sragen menyatakan masih melakukan pendalaman terhadap kasus ini.
Mereka menegaskan bahwa pembinaan siswa harus dilakukan dengan pendekatan yang humanis, tanpa menghilangkan rasa hormat dan martabat peserta didik.
Baca Juga: Kabar Baik! Pemerintah Siapkan Tunjangan Rp500 Ribu untuk Guru Non-ASN
Dinas juga mengingatkan bahwa semua bentuk pendisiplinan harus tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak.
Peristiwa ini pun menjadi bahan evaluasi penting bagi dunia pendidikan nasional, terutama soal bagaimana membangun kedisiplinan siswa tanpa menimbulkan kontroversi dan trauma.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira