Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Toko Buku Gunung Agung 

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 31 Mei 2023 | 15:03 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner 
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner 
Ini lah salah satu perintis toko buku dan alat tulis di Indonesia, yang harus menelan “pil pahit” di tahun 2023: Toko Buku Gunung Agung. Pihak manajemen dari jaringan toko buku yang sudah berdiri selama 70 tahun itu mengumumkan, bahwa pihaknya berencana menutup seluruh gerai tokonya pada akhir 2023. Penyebabnya, perusahaan sudah tidak sanggup bertahan, seiring kerugian akibat biaya operasional yang semakin besar.

Saya termasuk generasi yang punya banyak kenangan di Toko Buku Gunung Agung. Saya paling betah, bisa berjam-jam jika berada di dalam Toko Buku Gunung Agung.

Akhirnya, Toko Buku Gunung Agung harus menyerah dengan perubahan zaman. Sebelumnya, beberapa toko buku juga menutup gerainya. Sebut saja, Kinokuniya. Jaringan toko buku asal Jepang ini menutup gerainya di Plaza Senayan sejak 1 April 2021. Mereka juga pernah tutup di Pondok Indah Mall 2 sejak 2018. Kini, hanya tersisa toko fisik di Grand Indonesia serta penjualan via online.

Toko Buku Togamas melalui akun Instagram miliknya mengumumkan telah menutup gerai mereka di Solo per 26 Juni 2022. Penutupun ini berlaku baik toko fisik maupun daringnya.

Lalu Toko Buku Impor “Book and Beyond” juga telah mengumumkan menutup secara permanen gerai mereka hingga Mei 2023. Penjualan yang masih dibuka hanya melalui situs resmi dan layanan e-commerce.

Apa yang sebenarnya terjadi pada toko-toko buku terkenal itu? Apakah ini pertanda bahwa pembaca buku secara konvensional (dalam bentuk cetak) sudah jauh berkurang peminatnya?

Sebuah survei yang pernah dilakukan baru-baru ini oleh Codex Group (perusahaan riset pasar buku dan consulting) di Amerika menemukan bahwa sekitar 64 persen pembeli buku di Amerika membaca dalam format cetak dan digital. Artinya, ada semacam pembaca hybrid. Dan angkanya masih relatif besar prosentasenya.

Apakah di Indonesia situasinya akan sama dengan di Amerika seperti pada survei-nya Codex Group itu?

Saya termasuk yang percaya, dengan kaidah: “Bahwa tidak ada produk yang konvensional. Yang konvensional adalah pemikiran dan cara penyikapan terhadap perubahan,”. Se-konvensional apa pun sebuah produk, ketika diterpa perubahan yang eksponensial, asal pemikiran dan penyikapannya bisa adaptif terhadap perubahan itu, maka produk tersebut akan tetap bisa bertahan.

Di satu sisi, memang ada sejumlah toko buku, termasuk Gunung Agung, yang harus menutup gerainya. Tapi, pada sisi lain, toko-toko buku independen, masih bisa tetap eksis di era seperti sekarang.

Toko buku independen adalah toko buku retail yang dimiliki secara independen oleh perseorangan atau sekelompok orang. Sesuai namanya, toko buku independen ini biasanya juga menjual buku-buku dari penerbit independen. Biasanya, mereka tidak punya cabang. Dan hanya berdiri di satu lokasi. Ini berbeda dengan toko buku konvensional yang mudah ditemukan di banyak lokasi dengan nama besar yang sudah familier.

Toko buku independen yang terkenal di dunia adalah “Shakespeare and Company” yang ada di Paris, Perancis. Kini, umurnya sudah satu abad lebih. Selain menjual buku, di toko buku ini juga berfungsi sebagai perpustakaan, tempat penyelenggaraan diskusi dan festival. Bahkan bisa dipakai untuk menginap juga. Bagi yang mau menginap di toko buku itu ada syaratnya. Yakni, harus membaca satu buku setiap harinya, membantu operasional toko buku selama beberapa jam, dan menulis autobiografi mengenai hal yang dilakukannya di sana.

Selain “Shakespeare and Company” di Paris, toko buku independen lainnya yang unik dan terkenal dan sampai saat ini masih eksis adalah “Libreria Aqua Alta” di Venesia, Italia. Toko buku ini didirikan di atas sungai. Jika musim dingin datang, bakal terkena banjir selama 3-4 jam. Dan pemilik toko lantas menata buku di dalam bak mandi, kapal dan gondola. Ini lah yang membuat toko buku itu menjadi unik dan menarik. Selain itu, “Libreria Aqua Alta” juga punya pintu keluar darurat yang langsung tersambung dengan kanal.

Di Indonesia juga terdapat sejumlah toko buku independen, yang juga masih eksis hingga kini. Sebut saja misalnya di Jakarta, ada “Post Bookshop” di Pasar Santa di Jalan Cipaku, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Toko buku ini milik sepasang pencinta buku dan traveling yang bernama Maesy dan Teddy. Yang menarik, di dalam toko buku ini dijual buku-buku yang sudah dikurasi oleh pemiliknya. Alias sudah dibaca semua oleh pemiliknya. Jadi, pembeli bisa langsung meminta rekomendasi kepada mereka. Di tempat ini, kerap diadakan kegiatan kreatif, seperti diskusi dan pembacaan puisi.

Toko buku independen lainnya ada di Jogja. Namanya “The Lucky Boomerang Bookshop” di Sosrowijayan. Lokasinya di antara selipan penginapan di Jalan Sosrowijayan. Yang dijual di toko buku ini adalah buku-buku bekas. Tapi, konsep penjualannya unik. Buku yang sudah dibeli, bisa dikembalikan lagi beberapa waktu setelahnya. Jika dikembalikan, maka pembeli bisa mendapatkan cashback senilai setengah dari harga buku tersebut. Dan buku-buku yang dijual di sana, mayoritas berbahasa Inggris. Jadi, kebanyakan pengunjungnya pun para wisatawan asing.

Jadi, mengapa ada beberapa toko buku besar yang akhirnya tutup, dan mengapa sejumlah toko buku independen tetap bisa bertahan? Jawabannya terletak pada dua pertanyaan ini: Pertama, seberapa mampu dan seberapa kreatif pengelola toko buku itu mengikat secara emosional para konsumennya. Kedua, pengalaman seperti apa yang bisa ditawarkan kepada konsumen?

Toko-toko buku independen yang masih eksis itu, punya value yang unik, khas dan beda. Dengan value itu mampu mengikat secara emosional para konsumennya. Dan toko-toko buku independen yang masih eksis itu juga menawarkan “experience” tertentu kepada para customernya.

Ini lah yang disebut dengan “customer experience”. Menurut Christopher Meyer dan Andre Schwager dalam bukunya: “Understanding Customer Experience”, customer experience merupakan respon internal dan subyektif yang dimiliki konsumen terhadap kontak langsung maupun tidak langsung dengan sebuah perusahaan.

Kontak langsung, umumnya terjadi pada saat pembelian, penggunaan dan pelayanan. Sedangkan kontak tidak langsung meliputi pertemuan yang tidak direncanakan dengan representasi dari produk, layanan, atau brand perusahaan yang berbentuk rekomendasi atau kritik, iklan, laporan berita, review, dan sebagainya.
So, membangun “customer experience” menjadi bagian penting dalam strategi marketing. Sebab, pengalaman adalah tahap utama untuk merebut hati pelanggan. Pada tahap ini, pelanggan tidak sekadar memperoleh informasi maupun janji-janji seperti di dalam iklan. Tetapi pelanggan juga merasakan dan mengalami sendiri keterlibatan dengan produk maupun layanan dari perusahaan tersebut.

Setelah mereka merasakan bagaimana kualitas produk dan pelayanan, pelanggan akan memberikan informasi yang baik kepada orang lain. Di sini lantas berlaku kaidah “word of mouth marketing”. Bagaimana menurut Anda?

(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#toko buku #toko buku gunung agung #milenial #pembaca buku #buku