JP Radar Kediri – Hari Raya Idul Fitri adalah hari kemenangan yang dirayakan oleh umat Islam setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadan selama satu bualan penuh. Mereka menyambut Hari Raya dengan penuh antusias dan kebahagiaan.
Sama halnya ketika di zaman Rasulullah. Umat muslim menyambut hari raya dengan penuh antusias dan kebahagiaan.
Pada hari itu Rasulullah bersiap diri dan keluar rumah untuk melaksanakan solat Idul Fitri. Anak-anak terlihat bahagia. Mereka bermain bersama dengan riang di jalanan.
Hingga pandangan Rasulullah tertuju pada seorang anak perempuan yang duduk sendirian dengan pakaian yang lusuh dan wajah yang sedih.
Rasulullah pun segera menghampirinya dan bertanya, “Nak, Mengapa engkau menangis? Mengapa kau tidak bermain bersama mereka?”
Anak kecil itu pun mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya. Ia tidak mengenali bahwa seorang pria yang menyapanya adalah Rasulullah.
Dengan wajah sedih Ia berkata, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”
Rasulullah dengan telaten mendengarkan cerita anak kecil tersebut. Ia menceritakan bagaimana ibunya menikah lagi dan bagaimana Ia diusir oleh ayah tirinya kepada Rasulullah.
“Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apa pun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal.”
“Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”
Mendengar cerita anak kecil itu dada Rasulullah terasa sesak. Hatinya ikut teriris. Betapa tega orang tuanya tersebut. Mereka mengambil haknya lalu mengusirnya tanpa perasaan.
Dengan lembut Rasulullah meraih tangan anak kecil itu lalu menggenggamnya berusaha memberi kekuatan dan semangat untuknya.
Dengan lembut beliau berkata, “Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau mau jika aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?”
Mendengar hal itu, anak kecil ini melihat Rassulullah dengan mata terbelalak karena terkejut. Ia baru menyadari bahwa pria dihadapannya ini adalah Rasulullah.
Dengan perasaan gembiara anak itu berkata, “Kenapa tak mau, ya Rasulullah?” Anak itu pun tersenyum dengan lebar karena saking bahagianya.
Rasulullah ikut tersenyum lalu membawa anak angkatnya itu pulang. Rasulullah kemudian memberikannya pakaian yang terbaik, makanan yang lezat, dan wangi-wangian.
Setelahnya anak kecil itu keluar dari rumah Rasulullah dengan wajah yang berseri-seri. Ia menghampiri teman-teman sebayanya untuk bermain bersama.
Melihat perubahan drastisnya, salah satu temannya bertanya, “Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?”
Dengan wajah berseri anak kecil itu menjawab, “Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi, sekarang aku bahagia karena Rasulullah SAW menjadi ayahku, Aisyah ibuku, Ali pamanku, dan Fatimah saudariku. Bagaimana aku tak bahagia?”
Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW.”
Penulis: Rozita Nur Azizah
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira