Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sering Begadang demi 'Me Time'? Mungkin Kamu Mengalami Revenge Bedtime Procrastination

Internship Radar Kediri • Sabtu, 7 Februari 2026 | 00:00 WIB

Scroll medsos malam hari
Scroll medsos malam hari

JP RADAR KEDIRI – Banyak orang yang tahu bahwa tidur merupakan kebutuhan penting bagi tubuh. Tubuh sudah lelah, mata terasa berat, namun tidak semua orang benar-benar memilih untuk beristirahat. Akhirnya justru mengakhiri waktu tidur. Bukan karena tidak bisa tidur, melainkan karena muncul perasaan “sayang” jika malam terlewatkan tanpa dimanfaatkan untuk menikmati waktu sendiri.

Kebiasaan ini bukan sekadar begadang biasa. Sejumlah kajian psikologi menyebut perilaku tersebut sebagai reaksi emosional terhadap tekanan aktivitas harian. Dalam fenomena kehidupan modern, muncul istilah Revenge Bedtime Procrastination, yaitu kebiasaan menunda tidur sebagai bentuk “balas dendam” atas hari yang penuh tuntutan dengan melakukan hal-hal yang disukai. Bagi sebagian orang, malam hari menjadi satu-satunya ruang bebas yang benar-benar terasa menjadi milik diri sendiri.

Baca Juga: Waspada! Puluhan Warga Kediri Terancam Gagal Ginjal, Ini Alasannya

Jarang sekali, kebiasaan menunda tidur dianggap sebagai bentuk cinta diri atau apresiasi terhadap diri sendiri. Padahal, penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa anggapan ini sering keliru. Hiburan di malam hari tidak selalu sejalan dengan kebutuhan tubuh. Termasuk kebutuhan dasar akan tidur yang cukup. Alih-alih merawat diri, kebiasaan ini justru berpotensi merugikan kesehatan fisik dan mental.

Salah satu faktor yang memperkuat Revenge Bedtime Procrastination adalah kehadiran media sosial dengan konten yang seolah-olah tidak ada habisnya. Berbagai hiburan membuat seseorang sulit berhenti untuk sekedar menutup layar. Dari satu video ke video berikutnya, satu gambar ke gambar berikutnya, algoritma yang ada secara tidak langsung memperpanjang waktu sadar. Dalam kondisi ini, media sosial dapat memperparah kebiasaan menunda tidur.

Di sisi lain, pengendalian diri atau kendali diri berperan sebagai rem internal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kontrol diri yang baik cenderung lebih mampu menahan diri dan berhenti dari aktivitas hiburan. Sebaliknya, mereka yang memiliki kontrol diri rendah lebih mudah terjebak dalam kebiasaan scrolling hingga larut malam.

Baca Juga: Menaikkan Berat Badan: Bukan Sekadar Menambah Porsi, tetapi Mengatur Pola Makan dengan Tepat

Dampak dari kebiasaan ini sering tidak disadari. Kurangnya waktu tidur dapat berakhir pada penurunan produktivitas dan konsentrasi. Tubuh terasa lelah saat bangun, fokus mudah buyar, dan emosi menjadi lebih sensitif. Meski begitu, siklus ini terus berulang karena kebutuhan emosional di baliknya belum benar-benar terpenuhi.

Solusi yang dapat ditawarkan bukan dengan menyalahkan diri sendiri, melainkan dengan memaknai cinta diri secara lebih sehat. Penerimaan diri dan kesadaran akan kebutuhan tubuh menjadi langkah awal yang penting. Menggeser makna self-love dari “apa yang diinginkan” menjadi “apa yang dibutuhkan” membantu tubuh mendapatkan hak dasarnya, termasuk istirahat yang cukup.

Tidur bukan berarti mengalah, dan bukan pula kehilangan waktu. Tidur justru merupakan bentuk merawat diri yang paling dasar, sekaligus langkah sederhana untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental.

Penulis adalah Arlintang Sekar Phambayun, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#Tidur sehat #scrolling #Revenge Bedtime Procrastination #kesehatan mental #Edukasi Publik #gaya hidup #Self care #self love #media sosial #kualitas tidur #psikologi #gaya hidup modern