Kemenhaj Cek Kesiapan Hotel Transit Jemaah Haji di Kediri, Begini Hasilnya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 06:30 WIB
Menteri haji saal lakukan pengecekan bakal calon hotel yang digunakan untuk menampung jemaah di Embarkasi Dhoho. (Foto Wahyu Adji)
Menteri haji saal lakukan pengecekan bakal calon hotel yang digunakan untuk menampung jemaah di Embarkasi Dhoho. (Foto Wahyu Adji)

JP Radar Kediri–Persiapan operasional Embarkasi Haji Dhoho terus dimatangkan.

Termasuk kesiapan tempat untuk transit jemaah haji. Rabu (2/9), Pemkab Kediri dan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menggelar rapat percepatan penerbangan haji di Bandara Dhoho secara online.

Salah satu yang dibahas adalah kesiapan hotel yang menjadi tempat transit jemaah haji.

Dari hasil evaluasi dan kunjungan Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf ke Fave Hotel akhir Agustus lalu, hotel di area Simpang Lima Gumul (SLG) itu sudah hampir dipastikan akan menjadi tempat transit jemaah 2027 nanti.

Karenanya, sejumlah skema disiapkan agar kapasitas kamar dan fasilitas pendukung di sana bisa maksimal.

“Sebelumnya Pak Menteri Haji sudah mengecek kondisi kamar Fave Hotel. Dari hasil evaluasi, satu kamar disarankan hanya untuk tiga jemaah,” kata Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Kediri Bidang Pemerintahan dan Kesra Sukadi.

Jika dipaksakan diisi oleh empat orang, menurut Sukadi kamar tipe superior itu dinilai kurang manusiawi untuk jemaah.

Dengan kapasitas eksisting 345 orang, diakui Sukadi pihaknya harus memaksimalkan ruangan di sana agar kapasitas tempat tidur bisa bertambah.

       Baca Juga: Pemkab Kediri Serahkan 5,9 Hektare Tanah untuk Hotel Haji, Perkuat Rencana Embarkasi Haji 

Salah satunya aula hotel yang akan dialihfungsikan menjadi ruang istirahat tambahan.

Dengan pengaturan tersebut, kapasitas hotel bisa mencapai 435 orang. Selain 380 jemaah di satu kloter, petugas haji pun bisa tertampung sebagian di sana.

“Kalau kebutuhan jemaah sekitar 380 orang, kapasitas 435 orang itu masih ada ruang untuk petugas yang harus standby 24 jam. Jadi tidak perlu mobilisasi petugas dari hotel lain,” lanjutnya.

Bagaimana dengan tempat ibadah jemaah? Menurut Sukadi akan diarahkan menggunakan Masjid Baitul Aisyah yang lokasinya di dekat hotel.

Pemkab Kediri akan membantu menyiapkan akses menuju masjid. Termasuk jalur beratap untuk mengantisipasi jika terjadi hujan.

Pemkab, tutur Sukadi, juga bakal menyiapkan barikade dan personel pengamanan secara bergilir selama 24 jam.

Langkah itu untuk menjaga pergerakan jemaah tetap terarah. Sekaligus memastikan area hotel hingga akses menuju masjid tetap aman dan steril.

Dalam rapat daring itu, kesiapan fasilitas kesehatan juga kembali dibahas.

Kabid Bina dan Pengendalian Haji dan Umrah Kanwil Kemenhaj Jatim Gartaman mengatakan, keberadaan poliklinik jadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Fasilitas tersebut idealnya bukan sekadar tenda karena jemaah yang sakit bisa membutuhkan observasi selama satu hingga dua hari sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Baca Juga: Dua Hotel Jadi ‘Wisma’ Embarkasi Haji Kediri, Begini Penjelasannya

“Untuk poliklinik kalau bisa jangan berupa tenda. Harus ada tempat yang paten untuk menangani jemaah sebelum dirujuk ke rumah sakit,” tutur Gartaman dalam forum tersebut.

Rapat juga menyoroti pemeriksaan kesehatan jemaah perempuan, termasuk pemeriksaan usia subur dan pengambilan sampel urine.

Sedikitnya dibutuhkan 15–20 titik layanan agar pemeriksaan tidak menimbulkan antrean panjang.

Persoalan penempatan mesin X-ray juga turut dibahas. Opsi awal menempatkan X-ray di hotel.

Namun, mereka masih akan mengkaji apakah ruang yang tersedia mampu menampung pergerakan 380 jemaah yang dibagi dalam sembilan hingga sepuluh rombongan itu.

Jika tidak memungkinkan, pemeriksaan X-ray dan keimigrasian akan dialihkan ke Bandara Dhoho.

Skema tersebut dinilai memungkinkan karena jemaah sudah tertata sehingga proses pemeriksaan dapat dilakukan lebih teratur.

“Ini yang perlu kita lihat dan koordinasikan kembali,” tegasnya. 

Menanggapi hal itu, General Manager Fave Hotel Kediri Kasila Arimba Grage mengatakan, Fave punya opsi ruangan yang dapat dimanfaatkan sebagai poliklinik.

Tepatnya kamar president suit di lantai 3 yang saat ini digunakan sebagai kantor.

“Ruangannya sangat representative, ada kamar mandi juga. Ruangannya sudah disekat tiga, tapi itu bisa dipakai,” ungkap Kasila.

   Baca Juga: RSUD SLG dan Puskesmas Grogol Jadi Rujukan CJH Embarkasi Dhoho Kediri, Begini Penjelasannya

Manajemen Fave Hotel, tutur Kasila, siap melakukan penataan. Namun, mereka masih menunggu survei lebih detail dari tim Kanwil Kemenhaj Jatim.

Jika sudah ditetapkan sebagai akomodator jemaah, pihaknya siap merombak kamar dan menambah fasilitas.

“Intinya kami siap mendukung terealisasinya penerbangan haji di Kediri. Kami siap untuk support itu,” tegasnya pada Jawa Pos Radar Kediri.

Dukungan juga disampaikan General Manager Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Dhoho Kediri Rahmat Yoni Saputra. Dia menegaskan, fasilitas bandara secara umum sudah siap.

“Untuk kesiapan dari sisi Bandara Dhoho, kami siap mendukung rencana pelaksanaan penerbangan haji. Untuk perkembangan lebih lanjut terkait proses dan keputusan pelaksanaan penerbangan haji, saat ini masih dalam koordinasi instansi atau pihak terkait,” jelasnya. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
Bandara Internasional Dhoho Kediri pemkab kediri fave hotel Kemenhaj embarkasi haji