KOTA, JP Radar Kediri – Memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, petani di Kota Tahu mulai menyusun berbagai strategi.
Tujuannya jelas agar produktivitas tanaman tetap terjaga. Salah satu langkah yang diterapkan adalah menghemat penggunaan air.
Yakni melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD) disertai penggunaan pupuk organik dan pupuk cair dengan sistem pengocoran untuk meningkatkan efisiensi budidaya.
Petani asal Kota Kediri Fahmi mengatakan ketersediaan air menjadi perhatian utama selama musim kemarau.
Karena itu, penggunaan air harus dilakukan secara lebih hemat tanpa mengurangi kebutuhan tanaman.
Baca Juga: BPBD Waspadai Potensi Ancaman Karhutla, Perkuat Mitigasi Hadapi Musim Kemarau Panjang.
“Strateginya menggunakan metode yang lebih efisien dalam pengairan, salah satunya AWD atau pengairan berselang. Metode ini membuat penggunaan air lebih hemat, tetapi tanaman tetap bisa tumbuh dengan baik,” ujar Fahmi.
Selain pengelolaan air, dia juga mulai mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Ia memilih memanfaatkan pupuk organik yang dipadukan dengan pupuk cair melalui sistem pengocoran sehingga penyerapan nutrisi tanaman menjadi lebih optimal.
“Untuk pemupukan, kami lebih mengutamakan pupuk organik dan sistem pengocoran menggunakan pupuk cair. Selain lebih efisien, cara ini juga membantu menjaga kondisi tanah tetap baik,” katanya.
Tak hanya menghadapi tantangan dalam proses budidaya. Petani juga masih dihadapkan pada persoalan pemasaran hasil panen.
Menurut Fahmi, harga jual akan lebih menguntungkan apabila petani dapat menjual langsung kepada pembeli utama tanpa melalui perantara.
Baca Juga: Harga Jagung di Tingkat Petani Kota Kediri Anjlok tetapi di Pasaran justru Tinggi
“Kalau untuk penjualan, sebaiknya langsung ke tangan pertama, jangan melalui pihak ketiga karena selisih harganya bisa cukup besar. Sayangnya, banyak petani belum bisa menjual sendiri sehingga masih harus melalui tengkulak atau orang gudang,” jelas Fahmi.
Ia berharap ke depan semakin banyak akses pemasaran yang dapat mempertemukan petani secara langsung dengan pembeli. Dengan begitu, keuntungan yang diterima petani dapat meningkat.
Sekaligus menjadi dorongan agar sektor pertanian tetap bertahan menghadapi tantangan perubahan musim.
Sementara itu, Katimker Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian Wilayah Kota Kediri Badrun Najad menjelaskan bahwa sejumlah upaya telah disiapkan.
Tujuannya tak lain untuk mengurangi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian.
Salah satu langkah utama ialah memaksimalkan pemanfaatan pompa air agar distribusi air ke lahan pertanian tetap berjalan meski debit sumber air menurun.
Petani juga dianjurkan menyesuaikan pola tanam dengan beralih ke komoditas yang lebih adaptif terhadap kondisi kering.
Seperti jagung, kacang hijau, maupun ubi, sehingga kebutuhan air dapat ditekan tanpa mengurangi potensi hasil panen.
“Petani kami dorong untuk menyesuaikan pola tanam dengan komoditas yang lebih tahan kekeringan serta memanfaatkan pompanisasi,” tandas Badrun.
Selain itu petani juga diminta segera melaporkan apabila mulai terjadi kekeringan di wilayahnya sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.(c1/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita