KEDIRI, JP Radar Kediri–Fenomena El Nino di musim kemarau tahun ini terancam membuat Kediri Raya dilanda kekeringan.
Tak hanya kesulitan air bersih, penurunan produksi produk pertanian juga akan membuat harga bahan pangan terkerek naik.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik Satria Kridha Nugraha mengatakan, fenomena El Nino yang diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif akan menurunkan curah hujan secara signifikan di Kediri Raya.
"Wilayah Indonesia mendapat pengaruh dari El Nino dan IOD positif secara bersamaan. Efeknya curah hujan akan menurun dan kondisi kemarau menjadi lebih kering dari biasanya," ujarnya dalam forum diskusi mitigasi dampak El Nino kemarin.
El Nino dan IOD positif, lanjut Satria, diprediksi berkembang mulai pertengahan tahun hingga akhir 2026. Kedua fenomena iklim tersebut sama-sama berkontribusi menekan pembentukan hujan di Indonesia.
Berdasar pengolahan data curah hujan selama 30 tahun terakhir, BMKG menemukan penurunan curah hujan saat El Nino terjadi mencapai 40-60 persen pada periode Juni hingga Agustus.
Baca Juga: Waspadai Potensi El Nino pada Musim Kemarau 2026, BMKG Kediri Waspadai Hal Ini
Kodisi yang lebih mengkhawatirkan akan terjadi pada September hingga November. Pada periode yang biasanya menjadi awal musim hujan itu, curah hujan justru berpotensi turun hingga 50 sampai 70 persen.
Adapun September hingga November menjadi fase paling kritis. Sebab, masyarakat dan sektor pertanian umumnya mulai mengandalkan datangnya hujan pada periode itu.
Namun, saat El Nino terjadi, hujan yang biasanya turun justru tertunda. "Kalau Juni sampai Agustus memang sudah musim kemarau. Yang menjadi perhatian adalah September sampai November karena normalnya sudah mulai musim hujan, tetapi saat El Nino curah hujannya masih sangat rendah," jelasnya.
BMKG memperkirakan seluruh wilayah Kediri Raya mengalami sifat musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dibanding rata-rata 30 tahun terakhir. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli dan Agustus.
Bahkan pada Juli hingga Oktober, curah hujan diperkirakan berada di bawah 20 milimeter per bulan. Ini termasuk kategori sangat rendah.
Dampak paling nyata dari fenomena El Nino adalah bagi sektor pertanian. Penurunan hujan menurut Satria akan berpotensi mengubah kalender tanam, mengurangi ketersediaan air irigasi, hingga menurunkan produktivitas tanaman pangan.
“Berdasarkan beberapa penelitian, menunjukkan peningkatan suhu dan kekeringan dapat menekan hasil panen serta meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman,” jelas Satria.
Baca Juga: Bediding Mulai Terasa di Kediri Raya, Begini Kata BMKG Dhoho Kediri
Selebihnya, serangan virus kuning, jelas Satria, juga banyak ditemukan saat curah hujan rendah. Kondisi kering berkepanjangan dinilai dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung perkembangan dibanding saat hujan turun secara rutin.
Selain berdampak ke sektor pertanian, dampak lanjutan berpotensi menjalar ke sektor ekonomi. Berdasar pengalaman El Nino 2023 silam, komoditas pangan menjadi penyumbang utama inflasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), beras menjadi salah satu komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi saat itu.
Analisa BMKG terhadap data produksi beras dan curah hujan, menunjukkan penurunan hujan berpengaruh terhadap hasil panen.
Meski dampaknya berbeda di setiap daerah. Kabupaten Kediri termasuk wilayah yang tetap berpotensi mengalami penurunan produksi saat El Nino berlangsung. Terutama setelah jeda dua hingga tiga bulan sejak fenomena mulai berkembang.
Karenanya, BMKG mendorong pemerintah daerah, instansi teknis, hingga masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan sejak awal musim kemarau.
Upaya efisiensi penggunaan air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan koordinasi lintas sektor dinilai jadi langkah penting untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan. "Yang menentukan besarnya dampak bukan seberapa kuat El Nino terjadi, tetapi seberapa siap kita menghadapinya," tandas Satria.
Editor : Andhika Attar Anindita