Ilustrasi area pegunungan.
KEDIRI, JP Radar Kediri—Meski Kabupaten Kediri sudah memasuki musim kemarau sejak awal Mei lalu, hujan masih berpotensi turun dengan intensitas cukup tinggi di sejumlah wilayah.Utamanya kawasan lereng Gunung Wilis dan Kelud. Kondisi itu dipengaruhi faktor topografi pegunungan yang memicu pertumbuhan awan lokal serta adanya fenomena gelombang Rossby yang terpantau beberapa hari terakhir. Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Satria Kridha Nugraha menjelaskan, secara umum wilayah Kediri Raya memang sudah masuk musim kemarau.Namun, selama Mei curah hujan masih berpotensi terjadi dengan intensitas di bawah 100 milimeter per bulan. Wilayah yang paling memungkinkan diguyur hujan yakni daerah pegunungan seperti lereng Wilis dan Kelud. “Topografi di wilayah lereng gunung memungkinkan pertumbuhan awan lokal lebih mudah terjadi. Selain itu saat ini juga terpantau ada fenomena gelombang Rossby yang memicu pertumbuhan awan hujan dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Baca Juga: BMKG dan PJT 1 Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Danau Toba, Antisipasi Dampak Kemarau 2026 Dia menjelaskan, gelombang Rossby merupakan gelombang atmosfer atau laut yang terjadi di sekitar ekuator akibat perubahan gaya Coriolis antara belahan bumi utara dan selatan.Gelombang tersebut bergerak ke arah barat dan berpengaruh terhadap pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.Karena itu, meski sudah memasuki kemarau, hujan masih dapat terjadi di beberapa daerah tertentu. Satria menegaskan, fenomena tersebut tidak berkaitan dengan masa peralihan musim.Sebab, gelombang Rossby juga bisa muncul saat musim hujan dan bahkan berpotensi memicu hujan lebih besar.Hanya saja saat kemarau seperti sekarang, hujan yang terjadi cenderung tidak merata dan lebih bersifat lokal di wilayah tertentu. “Kalau musim kemarau seperti sekarang, meskipun memicu hujan, hujannya tidak merata,” pungkasnya. Editor : Andhika Attar Anindita