KEDIRI, JP Radar Kediri-Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) menimpa puluhan anak sekolah dasar (SD) di Kota Kediri, Rabu (22/4) lalu.
Sedikitnya 73 anak di tiga SD di Kecamatan Pesantren mengeluhkan mual, muntah, hingga diare usai mengonsumsi menu MBG. Menindaklanjuti laporan itu, Pemerintah Kota Kediri langsung melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan sekaligus melakukan pemeriksaan kesehatan kepada korban.
Untuk diketahui, kasus keracunan itu dilaporkan terjadi di SDN Ketami 1, SDN Ketami 2, dan SDN Tempurejo 1. Dengan jumlah korban paling banyak di SDN Ketami 2 yang mencapai 53 anak.
Menu MBG yang didistribusikan SPPG Tempurejo meliputi roti bagel, ayam saus tiram, tahu orak arik, sup kacang merah dan kentang, serta buah kelengkeng.
Terkait temuan itu, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengambil sikap tegas dengan menerjunkan tim kesehatan. Petugas dinas kesehatan ditugaskan untuk melakukan investigasi di SPPG tersebut serta melaksanakan uji laboratorium terhadap sampel makanan.
Baca Juga: Puluhan Siswa SD di Kota Kediri Diduga Keracunan MBG, Satgas MBG Langsung Turun Uji Laboratorium
“Dari hasil uji lab, ditemukan adanya bakteri E.coli dan saat survei kehigienisan, ternyata ditemukan bahwa SPPG Tempurejo ini belum melakukan uji organoleptik,” ujar Vinanda.
Temuan itu pun langsung dilaporkan oleh Satgas MBG Kota Kediri kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Selanjutnya, untuk sementara SPPG Tempurejo akan dihentikan sementara operasionalnya. Sembari menunggu keputusan lebih lanjut dari BGN.
Bagaimana kondisi korban? Vinanda menyebut, mayoritas anak sudah pulih dan tetap masuk sekolah keesokan harinya. Hanya saja ada 5 anak yang dilaporkan masih belum kembali ke sekolah.
“Pemerintah kota terus melakukan pendampingan kepada anak-anak, hari ini tadi (24/4) dinas kesehatan juga sudah melakukan pemeriksaan kesehatan. Alhamdulillah kondisinya sudah mulai stabil,” ungkap Vinanda, Jumat (24/4) malam.
Ke depannya, menurut Vinanda pengawasan terhadap SPPG lain akan diperketat. Khususnya terkait standar operasional prosedur (SOP) yang harus dijalankan dengan benar. Pengecekan di lapangan pun akan semakin digencarkan untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Apabila nanti ditemukan ada SPPG yang tidak melaksanakan SOP dari BGN, tentunya akan kami sampaikan kepada BGN. Dan jika nantinya banyak sekali catatan, akan kami rekomendasikan untuk dilakukan penutupan,” tegasnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr. Hamida menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan sampel makanan, bakteri Escherichia coli (E.coli) itu ditemukan pada olahan ayam saus tiram. Jika terkonsumsi, bakteri patogen itu dapat menyebabkan infeksi pada usus.
“Dampaknya tentu terjadi gangguan pencernaan. Mulai dari mual, muntah, diare,” ungkap dr. Hamida.
Penyebab munculnya bakteri itu menurutnya bisa karena makanan sudah dalam proses pembusukan. Atau karena terkontaminasi.
Terkait penerima manfaat lainnya yang tidak mengeluhkan keracunan namun mengonsumsi makanan yang sama, ia menyebut ada faktor daya tahan tubuh yang berbeda
“Tentu saja itu kembali ke daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak-anak kan tidak sama. Ada yang sistem imunnya kuat, mungkin kuat. Tapi yang daya tahan tubuhnya kurang, kena kuman E.coli ini ya bergejala,” beber Hamida.
Baca Juga: BGN Suspend Dapur MBG yang Langgar SOP, Satgas MBG Kediri Beri Catatan Bagi SPPG
Evaluasi dan pemantauan menurut Hamida juga akan terus dilakukan. Ia menyebut, dinas kesehatan akan terus memantau kondisi kesehatan korban. “Kami pastikan kondisi anak-anak ini membaik. Sementara memang belum ada yang harus dirawat,” tandasnya.
Koordinator Wilayah (Koorwil) SPPG Kota Kediri Armeityansyah Wahyudiputra mengatakan, dari hasil investigasi ditemukan indikasi pelanggaran SOP oleh SPPG Tempurejo. Salah satunya soal waktu pengolahan makanan yang seharusnya pukul 02.00 dini hari, ternyata dilakukan lebih awal. Selain itu, ada tahapan tes organoleptik yang terlewat.
“Seharusnya setelah makanan jadi sebelum diporsi itu ada tes organoleptik. Kemudian sebelum dikirimkan ada tes organoleptik lagi. Dan ketika diantarkan di titik pengantaran itu ada organoleptik lagi. Ini baru ketika makanan jadi saja yang diuji, selanjutnya ada yang terlewat,” ungkapnya sembari menyebut SPPG itu ditutup sementara imbas kejadian tersebut.
Bagaimana dengan sanksi tegas dan pengawasan selanjutnya? Pria yang akrab disapa Ian itu mengatakan, pihaknya masih menunggu surat dari Pusat. Adapun sementara ini, 2.438 penerima manfaat SPPG Tempurejo akan dialihkan ke SPPG lain.
Baca Juga: MBG Kelompok Rentan 3B Kembali Berjalan, Kader Pertanyakan Perubahan Mekanisme Pendistribusian
“Kalau yang sudah terjadi selama ini memang dialihkan ke SPPG lain. Jadi supaya tidak berhenti untuk mendapatkan manfaatnya. Tapi kalau dialihkannya ke mana, nanti kami konfirmasi lagi dengan korcam,” ungkap Ian.
Terkait pengawasan, menurutnya selama ini koorwil rutin melakukan pengecekan setiap malam ke SPPG-SPPG. Dengan jumlah dapur yang semakin banyak disinyalir menyebabkan beberapa tidak tercover dalam satu hari yang sama.
“Dengan kejadian ini pasti akan dilakukan pengecekan lebih intensif. Akan lebih sering lagi dan dengan dibantu satgas MBG untuk bersama-sama mengevaluasi,” tandasnya.
Sementara itu, polisi juga turun tangan mengusut temuan tersebut. Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Achmad Elyasarif Martadinata mengatakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan. Di antaranya dengan mengumpulkan keterangan dari beberapa saksi.
“Selanjutnya akan kami telusuri. Tapi yang paling penting, saat ini kami memantau perkembangan kesehatan korban. Karena informasinya korban memang anak di bawah umur,” tuturnya.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Kediri Tanggung Penuh Biaya Perawatan Relawan SPPG yang Alami Kecelakaan Kerja
Apakah sudah ada pihak yang dipanggil? Dia mengungkapkan untuk korban masih menunggu kondisinya pulih. “Nanti mungkin dari pihak-pihak SPPG ada yang akan kami panggil,” tandasnya.
Sementara itu, sumber koran ini di SDN Ketami 1 menyebut paket MBG yang diterima Rabu lalu memang tidak layak. “Ayamnya pahit dan bau,” ungkap sumber yang mewanti-wanti agar namanya tidak dikorankan itu.
Biasanya, paket MBG yang datang ke sekolah selalu dicek. Namun, saat para guru menyadari ada yang tidak beres dengan ayam saus tiram yang diterima, ternyata ada tiga kelas yang sudah mengambil lebih dulu. Sehingga, imbauan untuk tidak mengonsumsi paket MBG terlambat.
“Ada yang sudah dimakan sampai habis, ada yang sudah dimakan sebagian, ada yang belum,” bebernya. Pada Rabu lalu menurutnya tidak ada keluhan dari siswa, namun setelah mendengar info siswa SDN Ketami 2 muntah-muntah dan pusing, anak-anak langsung diminta mengonsumsi air kelapa.
Selanjutnya, pada Kamis (23/4) lalu pihak puskesmas juga datang ke sekolah. Dari sana, ada 11 anak yang mengeluhkan sakit. “Ada yang pusing, sakit perut, terus pup-nya encer (buang air besar cair, Red),” lanjut sumber koran ini.
Baca Juga: Kepala BGN Luruskan Isu 19.000 Sapi untuk Program MBG: Itu Hanya Pengandaian
Setelah insiden keracunan tersebut, SPPG Tempurejo tetap mengirim paket MBG pada Kamis (23/4) dan Jumat (24/4) lalu. Khusus untuk Kamis, anak-anak mendapat tambahan susu Bear Brand.
Terpisah, David, siswa kelas 2 SDN Ketami 2 mengaku menghabiskan paket MBG yang didapat Rabu (22/4) lalu. Namun, dia tidak merasakan gejala keracunan seperti teman-temannya. Baik itu pusing, sakit perut, atau muntah-muntah. “Untungnya anak saya menter (tahan, Red),” kata Ayu, ibu dari David.
Berbeda dengan David, Soni yang juga siswa SDN Ketami 2 mengaku sakit perut. Gejala itu dirasakannya sehari setelah mengonsumsi paket MBG. Yakni pada Kamis (24/4). “Perut sakit,” aku Soni yang kemarin sudah bermain dengan David.
Dengan kasus keracunan yang menimpa anak-anak di Ketami, orang tua meminta mereka lebih selektif lagi mengonsumsi makanan.
“Sok-sok neh ojo (nanti-nanti jangan) dimakan kalau berbau,” pesan Ayu kepada David yang juga didengarkan oleh Soni. (ais/em/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita