Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Datang Jauh dari Rusia dan Cina ke Kediri demi 'MBG', Burung Migran Ini Jadi Penjaga Ekosistem atau Justru Hama?

Internship Radar Kediri • Sabtu, 24 Januari 2026 | 00:00 WIB
Burung di sawah.
Burung di sawah.

 

JP Radar Kediri– Fenomena kedatangan "pasukan" burung migran di wilayah Kediri memicu beragam reaksi unik dari netizen di media sosial. Salah satu komentar yang viral adalah candaan yang menyebut bahwa kawanan burung dari belahan bumi utara ini sengaja datang ke Indonesia karena adanya program “MBG” atau Makanan Burung Gratis. Istilah yang memplesetkan program nasional tersebut mengundang tawa banyak pihak, namun sekaligus menyisakan pertanyaan serius: Apa sebenarnya "menu" yang dicari burung-burung pengembara ini di lahan pertanian warga?

Di balik candaan tersebut, fakta ekologis menunjukkan bahwa kehadiran burung-burung ini justru membawa keuntungan besar bagi petani. Melansir data dari laman Animalium dan Burung Indonesia, banyak dari jenis burung migran tersebut, terutama burung air seperti Kuntul, merupakan predator alami yang sangat efektif. Alih-alih merusak tanaman padi, mereka justru berperan sebagai penjaga ekosistem yang membantu mengendalikan populasi hama yang sering dikeluhkan oleh para petani di pedesaan.

Menu asli yang dicari burung-burung ini di persawahan Kediri bukanlah biji-bijian, melainkan protein hewani berupa serangga seperti ulat, belalang, jangkrik, hingga wereng. Selain itu, mereka juga memburu cacing, larva, dan hewan air kecil lainnya yang bersembunyi di balik lumpur. Dengan demikian, "makanan gratis" yang tersedia di sawah sebenarnya adalah tumpukan hama yang jika dibiarkan akan merusak panen. Kehadiran burung migran ini secara tidak langsung menjadi solusi alami bagi petani untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Burung sering dicap hama karena terlihat berada di sawah, padahal banyak burung justru membantu mengendalikan populasi hama. Keberadaan burung juga kerap digunakan sebagai indikator ekosistem sawah yang sehat.

Kebanyakan burung yang terlihat di lumpur sawah adalah pemakan daging atau protein. Mereka mencari katak, ikan kecil, ulat, belalang, cacing, larva serangga, udang kecil, siput, hingga ulat grayak. Sehingga, mereka sebenarnya berstatus sebagai sahabat petani. Faktanya, mereka tidak punya sistem pencernaan untuk memproses biji padi yang keras. Jadi, padi petani aman dari serangan burung-burung ini.

Rahasia di balik menu makanan burung terletak pada bentuk paruhnya. Si Pencuri Padi (Pemakan Biji) memiliki paruh yang pendek, tebal, dan sangat kuat seperti tang catut. Fungsinya memang untuk memecah kulit biji padi yang keras. Contohnya adalah burung pipit atau emprit.

Sedangkan Si Sahabat Petani (Burung Air) memiliki paruh yang panjang, ramping, dan kadang melengkung seperti pinset atau sumpit yang digunakan untuk "memancing" di dalam lumpur guna mencari cacing, larva serangga, dan siput. Paruh mereka tidak bisa digunakan untuk memanen atau mengupas biji padi. Contohnya adalah burung yang mampir ke Kediri, yakni Terik Asia, Berkik, Layang-Layang Asia, dan Trinil Semak.

Alih-alih merusak, burung justru membantu petani secara cuma-cuma. Sebuah studi yang dipublikasikan Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan bahwa keberadaan burung sangat efektif dalam mengendalikan populasi hama di area produktif. Mereka memburu serangga, wereng, dan ulat yang selama ini menjadi musuh utama tanaman padi.

Selain sebagai pembasmi hama, burung juga memberikan "pupuk gratis". Mengutip penjelasan dari laman Kebun Raya, kotoran burung secara alami mengandung unsur hara (nutrisi tanah) yang dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah sawah. Jika banyak burung singgah, itu juga berarti sawah tersebut masih asri dan bersih dari penggunaan pestisida kimia yang berlebihan.

Ternyata benar kata netizen, mereka datang ke Kediri memang untuk MBG (Makan Berprotein Gratis), tapi proteinnya berasal dari hama-hama sawah.

Penulis adalah Arlintang Sekar Phambayun, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel

Editor : rekian
#lingkungan #kediri #pertanian #burung air #Ekosistem sawah #hama sawah #Sahabat Petani #burung #edukasi lingkungan