KEDIRI, JP Radar Kediri-Menapaki usia 115 tahun, Ponpes Lirboyo membeber koleksi barang yang mengiringi perjuangan mereka dalam mendidik para santri dari berbagai penjuru negeri.
Dalam pameran yang berlangsung di kompleks Ponpes Lirboyo itu, sejumlah barang berusia ratusan tahun dipamerkan di dalam etalase kaca. ‘Tongkat Musa’ dan surban milik Kiai Abdul Karim atau Mbah Karim pun jadi barang yang paling banyak dicari pengunjung.
Imamah atau surban berwarna cokelat terang itu dipajang di sebuah etalase, tepat di tengah ruang pameran. Penutup kepala rupanya dulu sering dipakai oleh pendiri pondok itu pada tahun 1910 silam.
“Imamah ini yang biasanya sering digunakan untuk mengaji dan mengimami salat,” ujar Ketua Panitia Pameran Jejak Pondok Pesantren Lirboyo Yusrul Marom.
Selain surban, juga ada tongkat Musa milik sang pendiri pondok yang ikut dipamerkan.
Marom menuturkan, tongkat milik Mbah Karim itu memang disebut sebagai tongkat Musa. Sebab, bahan tongkat merupakan jenis kayu yang sama dengan tongkat milik Nabi Musa AS.
“Kayunya seperti kayu tongkatnya Nabi Musa,” tandasnya terkait tongkat yang terbuat dari bahan kayu Liwung itu.
Berbagai pakaian dan barang-barang peninggalan masyayikh keluarga besar Ponpes Lirboyo itu sengaja dipamerkan dalam pameran lima tahunan tersebut.
Termasuk barang-barang bernilai sejarah tinggi yang baru kali pertama muncul sejak 10 tahun terakhir.
Yakni, setelah penyelenggaraan di tahun 2020 lalu tertunda karena Pandemi Covid-19.
“Kondisinya masih terawat sampai sekarang karena imamah maupun tongkat itu dijaga betul. Semuanya tersimpan dengan baik, cuma dari pihak pengurus sekretaris pondok tidak tahu lokasinya,” terang Marom.
Berbagai peninggalan dan pusaka itu disimpan secara turun temurun.
Terpencar di keluarga besar pendiri Ponpes Lirboyo. Barang-barang tersebut baru dikumpulkan di momentum reuni akbar sekaligus rangkaian menuju 115 tahun Pondok Pesantren Lirboyo.
Serta, satu abad Madrasah Hidayatul Mubtadiin tersebut.
Selain peninggalan dari para ulama Lirboyo, foto-foto perkembangan pondok juga dipajang di seluruh dinding ruang pameran.
“Dokumen lama milik Madrasah Hidayatul Mubtadiin juga ditampilkan karena bertepatan dengan 1 abad MHM,” bebernya.
Di antaranya seperti surat Ro’an tempo dulu, daftar purna siswa MHM tahun pelajaran 1960-1961, kartu tanda pelajar tahun 1960, buku stanbuk santri tahun 1988, hingga palu sidang pimpinan MHM yang dibuat tahun 1967.
“Ini menjadi sarana menggugah semangat teman-teman santri dan edukasi juga. Karena seperti pusaka-pusaka itu kan teman-teman santri mungkin belum tahu,” urainya terkait tujuan digelar pameran jejak itu.
Dengan begitu, baik santri, alumni, hingga masyarakat umum bisa lebih mengenal sejarah dan perkembangan Pondok Pesantren Lirboyo.
Di luar itu, pameran jejak itu juga sebagai sarana pengurus pondok untuk menginventarisasi kembali arsip-arsip penting pondok.
“Dari beberapa barang peninggalan masyayikh itu, seharusnya dari pengurus pondok tahu dan mendata yang akhirnya kita lakukan pencarian untuk arsip-arsip ini,” tandasnya ditemui di lokasi pameran sejarah yang berlangsung sejak 6-8 Februari kemarin.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah