Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penulis I Want To Die But I Want To Eat Tteokbokki. Baek Se-hee Tutup Usia, Donorkan Organ untuk Selamatkan 5 Nyawa

Jauhar Yohanis • Jumat, 17 Oktober 2025 | 22:25 WIB

Baek Se-hee meraih ketenaran melalui kumpulan esainya yang laris luar biasa, I Want To Die But I Want To Eat Tteokbokki
Baek Se-hee meraih ketenaran melalui kumpulan esainya yang laris luar biasa, I Want To Die But I Want To Eat Tteokbokki
Penulis asal Korea Selatan, Baek Se-hee, yang dikenal lewat buku memoarnya I Want To Die But I Want To Eat Tteokbokki, dikabarkan meninggal dunia pada usia 35 tahun. Kabar duka ini disampaikan pada Jumat (17/10) oleh Korea Organ Donation Agency, yang menyebut bahwa mendiang Baek menyumbangkan organ vitalnya untuk menyelamatkan lima nyawa.

Menyelamatkan Lima Orang Lewat Donor Organ

Menurut lembaga tersebut, Baek mendonasikan jantung, paru-paru, hati, dan kedua ginjalnya di National Health Insurance Service Ilsan Hospital, Gyeonggi Province, Korea Selatan — daerah kelahirannya. Meski penyebab kematian belum diumumkan, publik menyoroti sikap kemanusiaan Baek yang terus hidup melalui penerima donor organnya.

Suara Kejujuran dari Hati yang Lelah

Baek Se-hee dikenal luas setelah menerbitkan buku I Want To Die But I Want To Eat Tteokbokki pada 2018. Buku ini menjadi fenomena global karena keberaniannya membahas gangguan depresi ringan atau dysthymia dengan jujur dan penuh empati.
Karya tersebut menampilkan percakapan mendalam antara dirinya dan sang terapis, membuka tabir realitas kesehatan mental yang sering disembunyikan masyarakat modern.

Kesuksesan buku pertamanya dilanjutkan dengan sekuel I Want To Die But I Still Want To Eat Tteokbokki (2024), yang juga mendapat sambutan hangat di berbagai negara, termasuk Singapura. Kedua karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Anton Hur, dan bahkan bertahan lebih dari 100 minggu di daftar buku terlaris The Straits Times.

Dekat dengan Pembaca Asia Tenggara

Pada November 2024, Baek sempat hadir di Singapura untuk menjadi pembicara tamu di Singapore Writers Festival. Dalam sesi di Victoria Theatre, ia berbicara terbuka tentang perjuangannya melawan depresi yang terus menghantui meski kesuksesan menghampiri.

“Saya menyadari bahwa kita semua sebenarnya mirip,” ujarnya kepada The Straits Times. “Meskipun berasal dari negara berbeda, kita sama-sama bergulat dengan kecemasan, tekanan, dan kompetisi. Bahkan ketika buku saya laris, saya merasa sedih melihat banyak orang mengalami hal serupa.”

Warisan Empati dan Keberanian

Kepergian Baek Se-hee meninggalkan duka mendalam di kalangan pembaca dan pemerhati kesehatan mental. Karya-karyanya bukan sekadar catatan pribadi, melainkan cermin bagi generasi muda yang berusaha berdamai dengan luka batin.

Kini, meski raganya telah tiada, pesan Baek tentang pentingnya berbicara, mencari bantuan, dan mencintai hidup sekecil apa pun — tetap hidup di hati banyak orang.

Editor : Jauhar Yohanis
#Baek Se hee #donor organ