JP Radar Kediri–Sebuah rumah mewah bercat putih di Desa/Kecamatan Kandat digeruduk oleh puluhan perempuan kemarin (25/6).
Orang-orang yang mayoritas menutupi wajahnya dengan masker itu sengaja mendatangi rumah Yes untuk menagih uang.
Sebab, janji-janji yang terlontar untuk mengembalikan dana senilai jutaan hingga ratusan juta per orang tak terwujud.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, sejumlah perempuan sudah berdatangan ke rumah Yes sejak pukul 08.00. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Kediri.
Para perempuan yang merupakan anggota arisan online yang dikelola oleh Yes itu awalnya berada di depan pagar.
Mereka sengaja datang untuk meminta uang yang sudah disetor untuk dikembalikan. Baik uang yang disetor untuk arisan maupun yang diinvestasikan karena dipinjam oleh Yes.
Pu, salah satu korban, mengaku datang untuk meminta uang senilai Rp 100 juta miliknya. Sebelumnya, dia mengaku menyerahkan uang tunai dan emas batangan kepada Yes.
“Percaya karena sudah kenal lama. Diiming-imingi untuk investasi dan uangnya akan kembali lebih besar,” ungkap Pu tentang alasannya mau menyerahkan uang dalam jumlah besar.
Dia baru sadar jika investasi itu tak ada wujudnya alias bohong setelah janji-janji Yes untuk mengembalikan uang terus tertunda.
“Kalau ditanya (uang diminta) selalu dijawab sabar dulu. Sampai sekarang tidak ada kejelasan,” sesalnya sembari menyebut jumlah kerugian korban bisa mencapai Rp 10 miliar.
Senada dengan Pu, Si yang mengikuti arisan online juga datang untuk meminta uang. Dia bergabung dengan kelompok arisan sejak Januari lalu. Menyetor Rp 1 juta setiap bulannya, dia dijanjikan mendapat Rp 35 juta.
Enam kali menyetor uang, Si mulai curiga karena nama-nama yang motel atau mendapat arisan bukan nama yang familiar di grup tersebut. Melainkan nama fiktif yang diduga sengaja direka oleh Yes.
Anggota arisan semakin curiga karena jadwal pengundian tidak pernah tepat waktu. Selebihnya, Yes juga tidak bisa menunjukkan bukti penyerahan dana kepada pemenang arisan.
“Ternyata setelah ditelusuri yang disebut menang itu diduga nama-nama yang dibuat sendiri. Jadi uangnya kembali ke pihak penyelenggara (Yes),” beber Si.
Dugaan manipulasi arisan juga terjadi di kelompok lain yang juga dipegang Yes. Nilai perolehannya ada yang Rp 9 juta hingga Rp 15 juta.
Baca Juga: Telisik Aset Bandar Arisan Bodong di Kediri, Ini Temuan Korban
Modusnya sama, nama-nama yang mendapat arisan diduga fiktif atau rekaan Yes sendiri.
Selain korban arisan, perempuan-perempuan yang bernasib seperti Pu juga banyak. Mereka bersedia meminjamkan uang kepada Yes untuk investasi.
Berharap mendapat imbal balik yang besar karena Yes dikenal sebagai pemilik usaha kuliner. Dia juga sering menawarkan kerja sama modal melalui media sosial.
“Awalnya kami berpikir ini hanya arisan biasa untuk menabung. Tapi setelah diketahui ada nama-nama yang diduga fiktif, teman-teman meminta uang dikembalikan saja meskipun dicicil,” sesal Si.
Untuk diketahui, Pemdes Kandat sempat berusaha memediasi Yes dengan puluhan korbannya. Namun, mediasi yang berlangsung sejak pukul 11.00 sampai pukul 14.00 itu tidak membuahkan hasil.
Yes sudah menyanggupi untuk mengembalikan uang korban. Namun, para korban meminta anggota bhayangkari itu untuk memberikan jaminan dan dia tidak sanggup.
Tidak adanya titik temu itu membuat Yes langsung diamankan oleh tim buser Satreskrim Polres Kediri ke Mapolres Kediri.
“Karena kan uangnya tidak kecil ya, jadi teman-teman ini minta jaminan. Tapi tidak menyanggupi,” sambung Gi, korban lainnya.
Baca Juga: Kasus Deca Reptiles Memanas! Tak Terima Ditipu, Puluhan Korban Lain Siap Geruduk Polres
Kepala Dusun Kartosari, Desa Kandat Dharmawan Afandi menyebut pihaknya sudah berusaha memediasi. Namun tidak ada titik temu.
“Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, kami berkoordinasi dengan kepolisian,” bebernya.
Terpisah, Kapolsek Kandat Iptu Abdul Azis membenarkan tentang kasus dugaan penipuan terkait arisan online tersebut.
Namun, hingga kemarin belum ada laporan resmi yang masuk ke Polsek Kandat.
Diakui perwira yang akrab disapa Azis itu jika cakupan perkara tersebut sangat luas.
Sebab, peserta arisan berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Kediri. Karenanya, penanganan kasus dikoordinasikan dengan Polres Kediri.
“Karena pesertanya (arisan) berasal dari beberapa wilayah, kami sarankan penanganannya di Polres. Saat ini yang dilakukan masih langkah pengamanan,” tandasnya tentang pengamanan Yes kemarin.
Azis menyebut proses hukum bisa berjalan jika korban melapor dan menyertakan bukti. Untuk sementara polisi masih mengedepankan upaya penyelesaian secara kekeluargaan dan mediasi.
Terkait status Yes sebagai istri polisi, Azis tidak menampiknya. Namun, dia menegaskan jika aksi Yes itu tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan sang suami.
“Betul bahwa (Yes) istri anggota. Namun perbuatan yang dilakukan (Yes) tidak ada sangkut paut dengan anggota,” tegasnya.
Editor : Mahfud