KEDIRI, JP Radar Kediri-Selayaknya balita, MAM atau yang akrab disapa Ni, selalu mengisi hari-harinya dengan bermain.
Namun, hal yang menyenangkan bagi anak-anak itu justru jadi petaka bagi bocah berusia empat tahun tersebut.
Aktivitasnya bermain air di dapur rumahnya di Lingkungan Baudendo, Kelurahan Ngronggo pada Rabu (15/4) sore lalu berujung maut.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, MAM bermain air di dapur rumahnya sekitar pukul 15.00. Saking asyiknya, seluruh tubuh dan baju bocah laki-laki itu basah.
Aksi MAM itu membuat Sumilah, 64, nenek MAM marah.
“Korban dipukuli. Menurut keterangan kakaknya, dipukul menggunakan pipa paralon dan gagang sapu,” ungkap salah satu sumber koran ini.
Selanjutnya, dalam kondisi baju yang basah, MAM tertidur di dapur. Melihat adiknya tidur di tempat yang tidak layak, RAF, 17, kakak MAM lantas mengangkat tubuh saudaranya itu ke kasur.
Kondisi MAM yang meninggal baru diketahui sekitar 17.00. Kala itu, Ria Novita Sari, 39, yang baru pulang memijat mengecek kondisi anaknya. “Disangka tidur. Niatnya mau dibangunkan,” lanjut sumber yang mewanti-wanti agar namanya tidak dikorankan itu.
Rupanya, saat itu diketahui jika MAM sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Seisi rumah pun panik.
Raf yang semula asyik bermain ponsel lantas mendatangi tetangganya untuk meminta tolong.
“(Raf) ke rumah minta tolong. Saya sudah tua, akhirnya anak saya Ika yang datang melihat. Ternyata sudah tidak bernyawa,” ungkap Suparno, tetangga MAM.
Saat diperiksa, di pelipis mata kanan dan kiri MAM didapati luka lebam. Hal itulah yang lantas menimbulkan tanda tanya.
“(Luka lebam) seperti habis dipukuli. Tapi entah sama siapa,” lanjutnya.
Saat kejadian, MAM sedang di rumah bersama dua kakaknya yang juga anak-anak. Mereka adalah Fit, 6, dan Fif, 5.
Di rumah juga ada Sumilah sang nenek. Adapun Ria dan Suwito, 38, sedang keluar untuk bekerja.
Mendapati peristiwa yang mencurigakan, warga lantas melapor ke ketua RT. Selanjutnya, sekitar pukul 17.30 petugas sudah berdatangan ke lokasi.
“Saya tahu dari warga yang melapor ada kekerasan atau pembunuhan. Motifnya belum diketahui,” ungkap Ketua RW 06 Lingkungan Baudendo, Ngronggo Baharudin Yusuf.
Menurut Yusuf, luka lebam tidak hanya didapati di pelipis mata kanan saja. Melainkan di bagian perut juga ada luka memar.
“Riwayatnya anak tiga ini (MAM, Fit, dan Fif) ini sudah sering dihajar dan dipukuli. Karena memarnya udah kelihatan terus. Dari warga banyak mengetahui sering dipukul dan dihajar selama beberapa bulan terakhir ini,” lanjut Yusuf.
Setelah melihat luka lebam di tubuh MAM, tetangga berinisiatif memeriksa kondisi tubuh Fit dan Fif. Hasilnya, mereka juga memiliki luka lebam di punggungnya.
“(Terkait sundutan rokok di dua kakak perempuan, Red) kami tidak bisa memastikan. Memang benar karena itu atau karena cacar. Yang jelas banyak bekas luka,” beber Yusuf.
Dikatakan Yusuf, selama ini identitas anak-anak Ria memang tidak jelas. Beberapa kali perangkat setempat menawarkan untuk dibantu pengurusannya agar bisa daftar sekolah.
Namun, pihak keluarga terkesan tidak kooperatif. “Pihak keluarga yang mempersulit kami untuk mengetahui identitasnya secara detail,” jelasnya.
Senada dengan Yusuf, Ririn Hadi, 54, tetangga korban menyebut Suwito, ayah tiri MAM sempat menolak anaknya divisum. Alasannya, keluarga sudah ikhlas dengan kepergiannya.
“Katanya keluarga menerima dan tidak akan menuntut pihak manapun,” jelas Ririn.
Saat ditanya tentang penyebab kematian MAM, Suwito juga berdalih sang anak terjatuh dan terguling. Sedangkan Sumilah beralasan cucunya masuk angin.
“Luka lebam itu katanya karena jatuh,” beber Ririn.
Namun, setelah melihat banyak luka lebam di tubuh MAM, warga tetap meminta agar jenazahnya divisum.
Seperti halnya Yusuf, Ririn juga membenarkan tentang adanya bekas luka di tubuh Fit dan Fif, dua kakak MAM.
“Seperti kapalan bulat-bulat,” tandas Ririn sembari menyebut Sumilah dikenal sebagai sosok yang galak kepada cucu-cucunya.
Sementara itu setelah peristiwa meninggalnya MAM, seluruh anggota keluarganya langsung dibawa ke Polres Kediri Kota untuk dimintai keterangan.
Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Achmad Elyasarif Martadinata mengaku sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Rabu malam.
Adapun jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk divisum.
Hingga kemarin siang (16/4), hasil visum terhadap jenazah MAM belum diungkapkan ke publik.
“Kami masih menunggu keterangan dokter,” lanjut pria yang akrab disapa Sarif ini enggan berspekulasi.
Ditanya tentang keterlibatan Sumilah menganiaya cucunya, Sarif menyebut pihaknya masih melakukan pendalaman.
Sekitar pukul 15.00 kemarin satreskrim juga melakukan gelar perkara untuk menentukan kelanjutan kasusnya.
Meski demikian, perwira dengan pangkat tiga balok di pundak itu membenarkan jika penyidik sudah mengamankan beberapa barang bukti.
Di antaranya selang air, pipa, dan gagang sapu. Barang-barang tersebut diduga digunakan untuk menganiaya MAM.
Hingga kemarin siang, polisi masih terus mendalami keterangan saksi. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3AP2KB Kota Kediri turut memberikan pendampingan.
“Ini kami dari UPT pendampingan di Polres,” ujar Kepala Unit PPA DP3AP2KB Kota Kediri Suwarsi.
Editor : Andhika Attar Anindita