Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Penyebab Dua Korban Pencabulan Asal Pesantren Kota Kediri Semakin Down

Hilda Nurmala Risani • Minggu, 21 Desember 2025 | 00:22 WIB

 

Ilustrasi : Afrizal Syaiful M/JPRK
Ilustrasi : Afrizal Syaiful M/JPRK

KEDIRI, JP Radar Kediri- Mawar, 10, dan Melati, 11, korban pencabulan asal Kecamatan Pesantren sempat mengalami down. Salah satunya karena unggahan yang beredar di media sosial. Pasalnya, postingan tersebut menyebutkan lokasi tempat tinggal korban secara terperinci.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Kepala UPT PPA DP3AP2KB Kota Kediri Suwarsi. Dia menerangkan jika kondisi korban memang memprihatinkan.

“(korban, Red) sempat down ketika ada pemberitaan di TikTok. Anaknya lihat handphone dan khawatir orang mengetahui karena ada nama kelurahan tempatnya tinggal,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, dia bersama psikolog yang menangani berupaya untuk memberikan penjelasan. Yaitu menerangkan bahwa korban tak perlu khawatir karena tidak ada yang menyebutkan nama aslinya. Sehingga orang tidak mungkin tahu siapa yang mengalami sebenarnya.

Baca Juga: Dua Psikolog Dampingi Korban Pencabulan, Lakukan Kunjungan Tiap Tiga Hari Sekali

Mereka juga diminta untuk bertingkah laku seperti biasanya. Tidak perlu takut atau minder sebab dipastikan latar belakang yang dialami selama ini aman dan hanya diketahui oleh orang tua serta petugas saja.

“Awalnya memang korban sulit untuk bercerita. Mereka takut dan tidak percaya. Sampai beberapa kali pendekatan barulah mereka mau bercerita,” terang perempuan yang akrab disapa Warsi.

Untuk diketahui, kondisi korban yang sudah mengalami pencabulan hingga persetubuhan memang kondisinya lebih buruk dibandingkan dia yang baru mendapat pencabulan lewat WhatsApp. Awal menangani, kedua korban sering marah-marah tidak jelas. Bahkan melampiaskan kemarahannya dengan menggigit tangan sang ibu.

Baca Juga: Trauma, Korban Pencabulan Guru Ngaji di Kota Kediri Alami Gangguan Psikologis

“Namun semakin kesini sudah jauh lebih baik. Mereka bisa mengelola emosi dan bisa menceritakan apa yang sebenarnya dialami,” ucapnya. Warsi menyebut jika korban saat ini sudah tidak takut berangkat sekolah. Bahkan, dia juga tidak ingin dipindahkan ke sekolah lainnya.

Alasannya, korban sudah nyaman bersekolah di tempat sebelumnya. Mereka takut ketika dipindah justru menjadi pernyataan beberapa orang. Bahkan orang bisa berusaha untuk mencari tahu apa sebenarnya terjadi.

“Sudah kami tanyakan kepada anak dan orang tua. Mereka tidak berkenan untuk dipindah,” tandasnya.

Baca Juga: Bocah SD Korban Pencabulan di Kediri Alami Trauma, Tetap Sekolah meski Mental Terganggu

Seperti diberitakan, kasus pencabulan kembali terjadi di wilayah Kota Kediri. Kali ini aksi tidak senonoh itu menimpa Mawar dan Melati. Mereka dicabuli oleh FAAL, 18, siswa SMA yang sekaligus merupakan guru ngaji dua bocah tersebut.

Aksi bejat FAAL itu terbongkar saat Melati, 11, mengadu kepada ibunya bahwa dia punya utang kepada pelaku. Untuk mengurangi utangnya, dia diajak untuk bersetubuh secara verbal. Beruntung, hal tersebut diketahui oleh sang ibu melalui percakapan WhatsApp.

Editor : Andhika Attar Anindita
#anak - anak #pencabulan #guru ngaji #kota kediri