Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Guianan Cock-of-the-rock, Burung Oranye Nyentrik dari Hutan Guyana yang Bikin Takjub!

Nakula Agi Sada • Sabtu, 17 Mei 2025 | 06:05 WIB
Guianan Cock-of-the-rock
Guianan Cock-of-the-rock

 

JP Radar Kediri- Cendrawasih selama ini dianggap burung paling memesona di dunia. Namun, di balik lebatnya hutan hujan Amerika Selatan, terdapat satu spesies burung dengan tampilan mencolok yang tak kalah mengagumkan, Guianan Cock-of-the-rock (Rupicola rupicola).

Nama “Cock-of-the-rock”  berarti “Ayam Jantan dari Batu”—sebuah nama yang unik dan cukup menggambarkan habitat serta tingkah laku burung jantannya yang penuh gaya.

Burung yang satu ini benar-benar menjadi pusat perhatian. Dikenal karena warna bulunya yang oranye terang dan bentuk jambul melengkung menutupi sebagian besar kepalanya.

Burung jantan Guianan Cock-of-the-rock seolah tampil layaknya tokoh fantasi yang hidup di dunia nyata.

Menetap di Hutan dan Tebing Batu

Habitat asli burung ini mencakup wilayah Guyana, Suriname, bagian timur laut Brasil, dan sebagian Venezuela. Namun, menemukan burung ini di alam liar bukan perkara mudah.

Mereka cenderung menyukai lingkungan tersembunyi di hutan tropis yang lebat, khususnya di sekitar tebing batu atau gua.

Yang paling menarik perhatian tentu saja burung jantan. Warna bulunya yang menyala bukan hanya untuk gaya semata, melainkan senjata utama dalam menarik perhatian betina.

Mereka akan berkumpul di area khusus yang disebut lek, tempat para jantan menampilkan tarian dan kicauan atraktif untuk memikat pasangan.

Baca Juga: Mitos Burung Kepodang. Mulai Tingkeban Hingga Pertanda Rejeki

Atraksi Lek, Panggung Cinta di Tengah Hutan

Ritual lek ini menjadi tontonan unik di dunia burung. Bayangkan, sekelompok burung jantan dengan bulu oranye terang saling berlomba menari dan bernyanyi. Tujuannya satu, untuk mendapatkan perhatian satu betina. 

Sebaliknya, burung betina justru tampil sederhana. Warna bulunya didominasi cokelat keabu-abuan, menjadikannya lebih tersembunyi dari predator.

Peran betina dalam siklus hidup spesies ini juga tidak kalah penting. Setelah kawin, dialah yang membangun sarang, menetaskan telur, dan membesarkan anak-anaknya seorang diri.

Sarang di Dinding Batu dan Pola Makan Frugivora

Guianan Cock-of-the-rock termasuk burung yang kreatif dalam membangun sarang. Menggunakan campuran lumpur, daun, dan lumut, sarang biasanya ditempelkan di dinding batu atau gua tersembunyi. Betina akan menetaskan satu hingga dua telur, dan mengasuh anak-anaknya tanpa bantuan jantan.

Dalam hal makanan, burung ini termasuk frugivora sejati. Mereka hanya mengonsumsi buah-buahan dan sangat jarang terbang jauh.

Lebih sering terlihat melompat dari dahan ke dahan atau memanjat tebing dalam mencari makanan.

Peran ekologisnya pun signifikan. Saat menyantap buah dan menyebarkan bijinya melalui kotoran, Guianan Cock-of-the-rock turut membantu regenerasi hutan. Mereka adalah petani hutan yang bekerja tanpa disadari.

Baca Juga: Albatros, Burung Legendaris yang Konon Bisa Berumur Paling Panjang. Benarkah?

Ancaman Habitat dan Pentingnya Konservasi

Meski belum tergolong sebagai spesies terancam punah, keberadaan burung ini tetap menghadapi tantangan serius.

Deforestasi dan pembukaan lahan menyebabkan penyusutan habitat alami mereka. Mengingat ketergantungan mereka pada ekosistem yang sangat spesifik, kehilangan habitat bisa menjadi ancaman nyata.

Baca Juga: Burung Kedasih Nakal Sejak Lahir. Fakta Ilmiah Perilaku Parasitik dalam Reproduksi

Selain itu, pesona visual burung ini menarik perhatian fotografer dan pengamat burung dari seluruh dunia.

Banyak yang rela menempuh perjalanan jauh ke pedalaman hutan untuk menyaksikan pertunjukan lek secara langsung. Namun, aktivitas wisata yang tak terkendali juga berpotensi mengganggu keseimbangan alam.

 

 

Editor : Jauhar Yohanis
#cendrawasih #burung