JP Radar Kediri - Tak banyak anak muda sekarang yang rela begadang hingga dini hari demi pertunjukan budaya. Tapi, Arya Putra Asmara justru memilih yang sedikit itu. Tak hanya sebagai penikmat melainkan berada di balik kelir, menjadi sang dalang.
Usianya masih sangat muda, baru 18 tahun. Juga, belum lama lulus dari SMA Negeri 1 Plosoklaten. Namun demikian, nama si pemuda ini sudah lekat di hati banyak pecinta wayang kulit.
Nama panggungnya, Ki Gedug Arya Putra, juga banyak dikenal. Terutama di daerah-daerah yang kerap memintanya tampil. Mengalahkan nama aslinya, Arya Putra Asmara.
Bahkan, banyak penggemarnya yang kaget ketika melihat wajahnya secara langsung. Setelah sebelumnya hanya bisa melihat dari belakang melalui video di media sosial.
"Banyak yang kaget kok dalangnya ternyata masih kecil? Saya cuma mesem-mesem saja," ucapnya menceritakan sepenggal kisah lucu ketika bertemu penggemarnya secara langsung.
Arya, demikian dia biasa disapa, memang tergolong anomali. Ketika banyak remaja seusianya larut dalam gemerlap gadget dan media sosial, dia memilih ‘jalan ninja’. Jalan sulit dalam pelestarian budaya. Menjadi dalang wayang kulit.
"Kalau bukan generasi muda, yang meneruskan (melestarikan budaya wayang, Red) siapa lagi?" jawabnya diplomatis, ketika ditanya tentang pilihan jalan hidupnya itu.
Dia memang tak sekadar menyukai dunia pedalangan. Juga memiliki misi agar anak muda seperti dirinya juga menyukai wayang. Jangan heran bila dia mulai menyesuaikan bahasa panggung. Tidak melulu menggunakan bahasa sastra Jawa yang, kadang, sulit dipahami anak muda. Melainkan memadukan dengan bahasa sehari-hari. Tujuannya jelas, agar pertunjukannya lebih mudah diterima generasi Z.
"Kalau ingin anak muda suka wayang, ya harus dibuat menarik tanpa meninggalkan pakemnya," ujarnya berargumen.
Baca Juga: Prigel Pangayu, Sinden Gen-Z Kediri yang Lahir dari Keluarga Seniman
Bagi Arya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengajak orang mencintai wayang. Para pelaku seni juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Atraksi panggung, penyampaian cerita, hingga pemanfaatan media sosial menjadi bagian penting agar wayang tetap diminati.
Jangan heran bila pemuda ini begitu getol ingin melestarikan wayang. Karena darah seninya memang tumbuh sejak mula. Istilahnya, sejak bayi ceprot-sejak lahir-dia sudah akrab dengan dunia pewayangan.
Ayahnya, Ki Asmoro Seno, adalah dalang yang telah hafal dengan asam garamnya panggung. Ibunya, Nunuk Towiyah, adalah seorang sinden. Kakek dari pihak ayah pun seorang dalang.
“Kata orang tua, dulu saat bayi kalau diperdengarkan wayang dari radio saya langsung diam, tidak rewel,” cerita pemuda yang beralamat di Desa Tirulor, Kecamatan Gurah ini.
Kepiawaiannya memainkan anak wayang sudah diasah sejak kelas 1 sekolah dasar (SD). Diajari langsung oleh ayah dan kakeknya. Kemudian masuk ke sanggar pedalangan dan karawitan saat duduk di kelas empat. Belajar pakem cerita, teknik mendalang, dan memahami filosofinya.
Baca Juga: Ki Wawan Andriono, Dalang Wayang Kulit yang Mampu Menembus Segala Keterbatasan
"Masuk sanggar itu senang sekali. Banyak teman yang sama-sama belajar, jadi semakin semangat," kenangnya.
Kesempatan tampil di depan publik datang saat kelas enam. Ayahnya memberi ruang sekitar satu jam sebelum pertunjukan utama. Menjadi bekal berharga sebelum akhirnya dipercaya membawakan pagelaran semalam suntuk.
Debut itupun datang kala dia duduk di kelas 3 SMP. Di acara bersih dusun di Kabupaten Jombang, dia tampil semalam suntuk.
Saat itu tantangannya bukan soal hafal atau tidaknya cerita yang dia tampilkan. Melainkan sulitnya menahan kantuk.
"Awalnya berat karena belum terbiasa begadang. Dulu juga belum suka minum kopi," katanya sembari tertawa.
Kini semua sudah menjadi kebiasaan. Terbiasa tampil mulai pukul 21.00 hingga 3.30 dini hari. Meski pagi harinya tetap berangkat sekolah.
Arya mengaku tak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar. Saat jam istirahat, ia memanfaatkan waktu untuk tidur sejenak. Agar tetap bisa mengikuti pelajaran.
Memasuki bangku SMA, namanya mulai dikenal para penanggap. Banyak di antara mereka yang sebelumnya pernah mengundang sang ayah, kemudian memberi kesempatan kepada Arya tampil sebagai dalang utama.
Panggungnya pun semakin luas. Pernah tampil hingga Bojonegoro dan dipercaya mengisi berbagai acara bersih desa maupun peringatan hari besar. Momen yang paling membekas baginya adalah saat ikut Pagelaran Wayang 72 Jam dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Kediri pada 2023.
Saat itu belasan dalang tampil bergantian membawakan cerita yang saling bersambung. Arya menjadi peserta termuda yang tampil dengan para dalang senior.
"Saya senang dan bersyukur bisa tampil bersama mereka. Itu pengalaman yang tidak terlupakan," ungkap anak bungsu dari empat bersaudara tersebut.
Editor : Andhika Attar Anindita