Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Belajar Itungan Jawa bersama Prastowo Budi Purnama, Gen Z yang Ahli Pawukon, Bukan Ramalan, Hanya Baca Karakter dari Ini!

Hilda Nurmala Risani • Kamis, 28 Mei 2026 | 23:57 WIB
Prastowo Budi Purnama sedang membacakan Pawukon pengunjung yang datang ke stannya di Festival Kuno Kini 2026. (Hilda Nurmala Risani/JPRK)
Prastowo Budi Purnama sedang membacakan Pawukon pengunjung yang datang ke stannya di Festival Kuno Kini 2026. (Hilda Nurmala Risani/JPRK)

 

Bagi orang Jawa, pawukon tak sekadar kalender. Juga bermanfaat untuk banyak hal lain. Salah satunya adalah membaca karakter diri seseorang.

 

HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Ruang itu tak luas. Hanya 1,5 meter baik panjang dan lebarnya. Berdempetan dengan stan-stan yang luasnya serupa, di acara Festival Kuno Kini di Simpang Lima Gumul beberapa waktu lalu. Lebih tepatnya berada di area stan jadul.

Tempat yang tidak terlalu luas itu terasa penuh. Terisi satu meja panjang dan tiga kursi. Dua di antaranya ditata saling berhadapan berbatas meja.

Stan ini, ternyata, ramai dikunjungi orang. Mayoritas kelompok generasi Z alias gen Z. Mereka ingin dibaca tanggal lahirnya. Ingin tahu karakter diri melalui perhitungan weton dan wuku.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini Senin Pahing: Karakter, Watak, Rezeki dan Karir

Ya, tempat itu adalah stan pawukon. Sistem kalender kuno yang banyak digunakan masyarakat Jawa dan Bali. Sekaligus bisa dimanfaatkan untuk membaca karakter dan  orang sesuai tanggal kelahiran.

Pawukon jauh dari kata mistis. Juga bukan ramalan. Setidaknya ini yang disampaikan oleh lelaki bernama lengkap Prastowo Budi Purnama. Dia adalah ahli pawukon sekaligus yang membuka stan membaca pawukon bagi pengunjung pameran.

“Ini berdasarkan pakem yang sudah ada sejak nenek moyang. Kalau ada orang yang meminta pertanggungjawaban akan saya tunjukkan dari mana sumber itu,” tegas pria yang biasa disapa Prastowo ini.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini Senin Pon: Watak, Rezeki, Jodoh, Karir

Menariknya, si pembaca itu masih muda. Usianya 26 tahun, artinya tergolong gen Z. Toh dia  bisa menguasai ilmu penanggalan Jawa yang umumnya dikuasai oleh para baby boomer atau paling apes gen X.

“Dulu belajarnya otodidak. Waktu kuliah di sastra Jawa sering belajar naskah kuno. Kebetulan saya belajar naskah tentang pakuwon,” ucapnya, menerangkan dari mana kemampuan membaca pawukon  bermula.

Dia ingat, saat itu 2019. Bersamaan dengan ketertarikannya pada perhitungan kalender Tiongkok. Juga, ketika teman-teman di sekelilingnya sedang gila-gilanya percaya zodiak.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini Jumat Kliwon: Jodoh, Rezeki, Karakter, Karir

“Awalnya buat iseng-isengan. Saya coba menggunakan pawukon kok benar (pembacaannya),” kenangnya, kemudian disusul gelak tawa.

Prastowo berulang kali menegaskan pawukon beda dengan ramalan yang memperkirakan kejadian. Sementara pawukon adalah membaca karakteristik seseorang dari tanggal kelahiran.

“Kami menggunakan tanggal, bulan, dan tahun lahir. Setelah mengetahui itu nanti akan ketemu seseorang ini lahir di minggu ke berapa. Kan di (kalender) Jawa ada 30 minggu yang masing-masing memiliki karakternya,” paparnya.

Kalender Jawa memiliki siklus 210 hari. Terbagi dalam wuku yang berjumlah 30. Mirip minggu dalam kalender masehi. Masing-masing wuku juga berisi 7 hari.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini Selasa Pahing: Watak, Karier, Asmara, dan Rezeki

Nah, dalam wuku itu ada perhitungan hari yang berjumlah tujuh serta pasaran yang berisi lima hari. Pertemuan antara perhitungan hari dan pasaran itulah ditemukan weton. Weton ini yang, konon, berpengaruh pada karakter dan peruntungan seseorang.

Menurut Prastowo, mempelajari pawukon dia tak hanya puas dari membaca materi saja. Namun juga dipraktikkan pada teman-temannya satu kontrakan. Sebelum akhirnya dia mulai membuka kelas secara umum pada 2024 kemarin.

Keahlian seperti yang dimiliki Prastowo itu ternyata banyak penggemarnya. Bahkan oleh para gen Z. Setidaknya, saat berpraktik di Festival Kuno Kini itu, puluhan orang antre. Rela menunggu berjam-jam karena layanan konsultasi berbayar Rp 35 ribu itu berlangsung sekitar 20 menit untuk satu orang.

Mereka yang ingin dibaca pawukonnya itu diminta menulis di selembar kertas kecil. Isinya, nama lengkap serta tanggal, bulan, dan tahun kelahiran. Setelah itu staf Prastowo akan melihat di wuku mana si orang tersebut lahir.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini Senin Legi: Neptu, Watak, Keuangan, Karir, Asmara

Misal, ada orang yang lahir 11 Januari 2002. Bila dilihat orang  ini lahir di wuku Wugu, atau wuku ke-26 dari 30 wuku yang ada.

“Saya akan membacakan karakter apa saja yang ada di wuku Wugu ini. Mulai dari sikapnya yang baik, perlu diwaspadai hingga asmara dan karir,” tandasnya.

Prastowo membacakan dengan detail apa-apa saja yang ada dalam wuku Wugu. Yang dibaca pun masih bisa menanyakan lebih detail lagi. Tentang apa yang perlu diperbaiki atau bahkan dihindar.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini Jumat 13 Maret 2026: Karir, Rezeki, Jodoh, Watak

“Selama ini tidak pernah diprotes pengunjung (karena) tidak sesuai. Tapi pertanyaannya yang lucu. Saya seringkali dikira dukun. Tanya kodamnya (makhluk halus yang biasa jadi kembaran, Red) apa, disantet apa tidak, hingga pertanyaan terkena guna-guna. Yang padahal saya tidak sampai situ. Jadi kalau ditanya saya terus terang jawab tidak bisa,” ungkapnya.

Sebenarnya, pawukon tidak hanya soal meramal atau membaca peruntungan di masa depan. Melainkan memiliki banyak kegunaan lain yang tak kalah penting.

Soal astrologi dan karakter itu hanya satu dari kegunaan wuku. Ada lagi untuk panduan waktu menentukan hari baik dan  buruk melakukan sesuatu. Seperti mengawali masa panen atau yang lain. Juga digunakan menentukan hari-hari suci.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini: Watak, Karir, Jodoh, Rezeki Senin Wage

Tak heran  banyak tokoh yang berkonsultasi dengan Prastowo. Mulai pejabat publik, artis, hingga pemimpin Pura Mangkunegaran pun ikut sesi di kelasnya.

“Ada beberapa artis yang suruh membacakan. Seperti Kunto Aji dan Letto. Kalau tokoh politik banyak (anggota) DPRD Jogjakarta. Juga pernah membaca Gusti Bhre tahun 2025 awal saat saya diundang di Mangkunegaran,” kenangnya. Bahkan, kini setiap Minggunya dia bersama tim diundang untuk membuka kelas di Mangkunegaran.

Tentu saat membacakan wuku orang-orang ternama menjadi tantangan tersendiri baginya. Terlebih ketika harus berhadapan langsung dengan Gusti Bhre yang notabenenya adipati atau raja.

“Saya hanya menunjukkan wukunya saja tidak berani membacakan. Takut beliau (Gusti Bhre, Red) adipati atau raja. Kecuali Kunto Aji kemarin benar-benar saya bacakan,” terang pria berusia 26 tahun itu.

 Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini: Watak, Karir, Jodoh, Rezeki Senin Wage

Di usianya yang masih cukup belia, dia memandang Pawukon ini merupakan pekerjaan yang cukup menjanjikan. Mengingat saat ini juga banyak anak muda yang menjadikan Pawukon sebagai ilmu ilmiah untuk mengenali diri.

Sudah banyak mereka anak muda yang ingin tahun dasar dirinya. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Sehingga bisa dimanfaatkan sebagai ajang untuk introspeksi diri.

“Saya memang senang dengan hal-hal berbau Jawa. Jadi anak muda tidak selalu melupakan asalnya. Meskipun lingkungan keluarga latar belakangnya beragam. Kakak bidan dan ibu guru matematika,” tandas anak terakhir dari dua bersaudara itu.

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Hari Ini 11 Desember 2025, Rezeki, Asmara, Karir, Watak

Ya, pria asli Bantul, Yogyakarta itu pun menyebut jika kegiatan ini cukup menjanjikan sebagai pekerjaan sampingan. Mengingat setiap bulannya dia juga bisa mengantongi uang jutaan rupiah. Itu hanya dengan membuka sesi di beberapa festival ternama yang diikutinya.

“Cukup menjanjikan kalau untuk side job. Setiap bulan bisa sekitar Rp 2 juta,” pungkasnya sembari menyebut jika keahliannya ini didukung penuh oleh kedua orang tuanya. Mengingat jika bukan generasi muda siapa lagi yang akan melestarikan keragaman budaya Jawa ini. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#pawukon #Prastowo Budi Purnomo #yogyakarta #weton #bantul