Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Amira sang Digital Artist Kediri dengan Segudang Prestasi, Biayai Diri sejak SMP dari Orderan Gambar

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 27 Maret 2026 | 16:18 WIB
Amira digital artis asal Kediri bisa meraih banyak cuan berkat bakatnya.
Amira digital artis asal Kediri bisa meraih banyak cuan berkat bakatnya.

 
Bagi Amira Zahida Yasmin, hobi tak cuma menghasilkan kesenangan belaka.

Bisa pula mengarahkan ke jalur profesional.

Kegemarannya menonton anime membuatnya memilih dunia ilustrasi digital.

Gadis itu menggoreskan pen tablet dengan luwes.

Garis demi garis ia bentuk di layar digital.

Jemarinya menari di permukaan tablet dengan ritme yang teratur, layaknya ilustrator profesional.

Baca Juga: Sosok Lupita Dewi Efendi, Influencer dan Entrepreneur Muda Asal Kota Kediri

Tak sampai 30 menit, garis dasar atau outline sosoklaki-laki yang menggendong bayi sudah mulai terlihat jelas. Gadis itu adalah Amira Zahida Yasmin.

Remaja kelahiran Blitar, 30 Mei 2008 itu mengaku ketertarikannya pada dunia gambar sudah muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Meskipun, awalnya, hanya menggambar manual di selembar kertas.

Ketika kelas 5 SD, Amira mulai kenal anime, animasi khas Jepang.

Salah satunya adalah serial Naruto. Nah, ketertarikannya pada dunia gambar pun menguat.

“Awalnya karena sering lihat saudara nonton anime. Terus ikut-ikutan suka dan mulai coba gambar. Jadi tertarik gambar anime,” cerita warga Kecamatan Semen itu.

Saat melanjutkan pendidikan di SMPI Al-Azhar Kediri, minatnya terhadap seni semakin berkembang.

Amira mulai aktif mengikuti lomba. Salah satunya  di bidang poster dan kaligrafi. Dari situ, sejumlah prestasi berhasil diraih.

Diantaranya juara 1 lomba poster dan kaligrafi tingkat regional.

Baca Juga: Mengenal Sosok Jeanette Claurence Jonathan, Galuh Berbakat Kota Kediri 2024

Dari pengalaman mengikuti lomba itulah pelajar SMK PGRI 2 Kediri tersebut mulai tertarik beralih ke dunia digital.

Hasratnya itu semakin kuat setelah melihat salah satu saudaranya yang sukses di bidang desain 3D hingga bekerja sama dengan pihak luar negeri.

Hal itu menjadi motivasi tersendiri bagi Amira menekuni dunia serupa.

“Kakak itu memang ahli di 3D objek. Dan pernah juga bikin hasil pesenan dari Singapura,” terangnya.

Awalnya, Amira belajar secara otodidak.

Menonton tutorial ilustrator luar negeri.

Kemudian mencoba memahami teknik demi teknik, meski harus mengandalkan subtitle.

Perlahan-lahan kemampuannya kian terasah. Karakter pun terbentuk. Gaya gambarnya berkembang dari anime menuju semi-realistik.

Setelah itu, Amira mulai membangun relasi dengan sesama ilustrator melalui komunitas daring.

Baca Juga: Sosok Finchi Amadea: Kebanggaan Kediri yang Bersinar di Universitas Brawijaya Malang

Membuat  grup WhatsApp dan membagikan karyanya melalui media sosial.

Menjadi tempatnya bertukar ilmu sekaligus mengenal para ilustrator profesional. Meski demikian, perjalanan Amira tidak selalu mulus.

Di awal, orang tuanya sempat meragukan aktivitasnya yang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk menggambar.

Bahkan, ia juga pernah mendapat komentar miring dari lingkungan sekitar.

“Sama orang tua itu dimarahin karena di kamar terus,” kenangnya sembari tertawa.

Namun, anggapan tersebut perlahan berubah setelah Amira mulai menghasilkan uang dari karyanya.

Sejak kelas 8 SMP, ia sudah membuka jasa gambar atau di dunia ini lebih dikenal open commission.

Awalnya, ia mencoba memasarkan karyanya melalui Facebook. Menjajal juga pasar internasional.

Sempat pula mendapat orderan dari tiga klien, dengan penghasilan mencapai 63 dolar AS.

Sayangnya, meskipun prospektif, hal itu akhirnya tidak dia lanjutkan.

“Dulu sempat coba ke luar negeri, tapi bingung waktu mencairkan uangnya. Akhirnya fokus ke pasar lokal sambil bangun branding,” jelasnya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Alya Putri, Istri Mohan Hazian yang Kini Jadi Sorotan Netizen

Usahanya itu juga membuahkan hasil. Dalam sebulan dia bisa menggarap lima orderan.

Padahal, dulu paling satu orderan dalam tiga bulan. “Kalau lamanya mengerjakan ya tergantung kerumitannya. Paling dua minggu untuk satu karya,” akunya.

Ketika mulai mendapat banyak order, dia sempat terkendala faktor device yang tidak memadai.

Handphone-nya tak bisa buat ngebut mengerjakan banyak pesanan.

Device-nya itu justru mati. “Padahal posisi ada banyak orderan. Terpaksa pinjam HP adik buat nyelesaikan,” kenangnya.
Kini, itu tidak lagi terjadi. Dia kini memiliki HP yang sangat memadai.

Hasil jerih payahnya menyelesaikan pesanan yang kian beragam.

Mulai ilustrasi karakter untuk Vtuber, kebutuhan streamer, hingga sampul novel dengan nilai jutaan rupiah.

Penghasilannya pun tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sejak SMP, Amira sudah mulai membantu biaya sekolahnya dari hasil berkaryanya itu.

Bahkan kini, ia juga bisa membantu orang tuanya. Meski dihadapkan dengan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau AI, Amira mengaku tidak terlalu khawatir.

Baca Juga: Keluar-Masuknya Melipir, Malamnya Pernah Sulit Tidur, Ini Kisah Mereka Yang Harus Beradaptasi karena ‘Berteman’ Proyek Tol Kediri-Tulungagung

Ia justru menyiasatinya dengan menunjukkan proses menggambar secara langsung agar karyanya tetap dipercaya sebagai hasil manual.

“Untuk speed pen (video saat proses gambar, Red) biasanya saya pakai warna merah. Karena kalau speed pen AI warna hitam,” jelas perempuan yang ingin melanjutkan ke ISI itu serta berharap terus berkembang mewujudkan cita-citanya sebagai ilustrator profesional.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#gambar #anime #seniman #Digital Art