Melihat Kajian Islam Non-pesantren yang Marak di Kediri Raya (28): Ikuti Pengajian, Pulangnya Bawa Sayur-mayur

Emilia Susanti • Dipublikasikan Rabu, 18 Maret 2026 | 03:42 WIB

 

ANTUASIAS: Sejumlah ibu-ibu mengikuti kajian Minggu pagi di Masjid Al Amin di Desa Bringin, Kecamatan Badas.
ANTUASIAS: Sejumlah ibu-ibu mengikuti kajian Minggu pagi di Masjid Al Amin di Desa Bringin, Kecamatan Badas.

Banyak jalan menebar kebaikan. Seperti yang dilakukan takmir Masjid Al Amin ini. Jemaah yang datang mengikuti kajian agama bisa membawa pulang sayur-mayur.

EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Masjid Al Amin yang berlokasi di jalan HOS Cokroaminoto ini memiliki banyak agenda kajian. Mulai dari kajian Rabu Malam Kamis, kajian Ahad Pagi Fajar As-Sakinah, dan kajian Ibu-ibu As-Sakinah. Semua kajian ini bersifat umum. Semuanya boleh ikut tanpa terkecuali.

Masyarakat yang ingin mengikuti kajian tak perlu bingung. Sebab, semua informasi mengenai tema kajian hingga ustad yang mengisi sudah dibagikan secara lengkap melalui platform media sosial. Bisa dari Facebook atau Instagram.

Bagi yang berhalangan hadir, Masjid Al Amin ini sudah memiliki channel Youtube sendiri. Di dalamnya, masyarakat bisa mengikuti kajian secara live streaming. Selain itu, masyarakat juga bisa menonton siaran ulangnya.

Intinya, para pengurus masjid ini ingin agenda kajiannya terus mendapat antusias tinggi. Dan sebetulnya, masih ada upaya lain yang dilakukan para pengurus ini. Bukan sekadar upaya untuk mendapat antusias tinggi. Tetapi juga membuat jamaahnya pulang dengan senang.

“Di sini Mbak, rutin setiap Ahad pagi itu, setelah kajian, dikasih sarapan semuanya,” ujar ketua takmir Masjid Al Amin Syamsul Maarif.

Begitu pula dengan kajian Rabu Malam Kamis. Semua jamaah pasti mendapat jatah makan malam. Dan untuk kajian ibu-ibu As-Sakinah, jamuannya lebih unik lagi. Yaitu sayu-mayur yang dibagikan secara gratis setelah kajian selesai.

“Mungkin ada tahu, kangkung, timun, jagung, itu diberikan kepada ibu-ibu yang hadir,” terang pria yang akrab disapa Syamsul itu.

Berbicara mengenai kajian ibu-ibu As-Sakinah di Masji Al Amin, ternyata kajian ini tergolong baru. Yakni baru berjalan sekitar lima tahunan. Sesuai namanya, kajian ini memang khusus untuk Ibu-ibu saja. Dan kajian ini diadakan untuk mengakomodir permintaan tema kajian yang berkaitan dengan wanita. Misalnya saja tentang kehidupan rumah tangga.

“Kadang itu kan Ibu-ibu punya materi tersendiri,” tambah Syamsul.

Namun demikian, tak semua tema kajiannya berkaitan dengan wanita atau Ibu-ibu. Seringkali tema kajiannya juga bersifat umum. Nah, untuk jadwal kajiannya ini berlangsung di hari Jumat sore. Yaitu pukul 16.00 – 17.00 WIB. Sementara, kajian ini tak ada sesi tanya jawabnya. Adapun hanya satu atau dua jika memang waktunya masih ada.

“Waktunya harus satu jam, gaboleh lebih. Maklum Ibu-ibu kalau udah sore itu kan terus keburu-buru, kalau terlalu mundur ibu-ibu kan khawatir di jalannya nanti. Aduh harus gini, harus gitu, pikirannya sudah rumah,” canda Suparti, ketua Kajian Ibu-ibu As-Sakinah saat diwawancara secara terpisah.

Meski hanya jamaah ibu-ibu, nyatanya antusiasnya tetap tinggi. Jumlahnya sekitar 150-an jamaah. Dan lagi-lagi, bila ustad favoritnya yang mengisi kajian, jumlah bisa mencapai 200 orang lebih.

Sementara, kajian ibu-ibu As-Sakinah ini pun hanya sepi saat hujan turun saja. Nah, fakta menariknya, sayur-mayur yang diberikan secara gratis menjadi daya tarik sendiri. Bak suntikan semangat untuk datang ke kajian.

“Kadang kacang, kadang tahu, kadang kangkung. Di kasihkan pas keluar itu, pas pulang, kalau snack-nya kan pas masuk. Mudah-mudahan dengan itu Ibu-ibu tetap semangat, tambah semangat,” harapnya.

Terakhir, Syamsul menambahkan bahwa makanan yang dibagikan secara gratis itu berasal dari infaq. Dan untuk sayur-mayur, biasanya itu memang dari jamaah yang memang ingin berbagi. “Dari jemaah untuk jemaah,” tandasnya. (fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
Masjid Al Amin kajian islam pengajian pengajian rutin Kajian rutin Kajian Ahad Pagi kajian agama