Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kiat Sri Marilin Sukses Jadikan Hobi sebagai Ladang Penghasilanm Selipkan Budaya Tradisional di Benda Kekinian

Hilda Nurmala Risani • Selasa, 24 Juni 2025 | 19:57 WIB

Sri Marilin dengan karya-karya yang terpajang di stan UMKM-nya di Grogol.
Sri Marilin dengan karya-karya yang terpajang di stan UMKM-nya di Grogol.
 

Hobinya membuar kerajinan tangan. Terkadang menyulam, lain waktu melukis batik maupun wayang. Lama-lama, aktivitas pembunuh waktu itu menjadi caranya menghasilkan uang.

 

Kios itu tak terlalu luas. Hanya berukuran dua kali dua meter. Lengkap dengan tempat memajang barang. Ada rak empat susun yang panjangnya sekitar satu meter. Di rak dari kayu itu terletak bucket hat dan tas tangan.

Ada juga standing hanger. Menjadi tempat bergelantungannya aneka dompet, tas ransel, serta slinbag.

Beberapa calon pembeli memenuhi lapak yang berada di Desa Wonosari, Kecamatan Grogol itu. Dilayani oleh perempuan berkemeja kuning, bermotif batik. Berpadu celana kain yang warnanya sama dengan jilbab yang menutupi bagian kepala, hitam.

“Saya sudah mulai beraktivitas sejak pagi,” ucap wanita yang masih terkesan modis meskipun usianya sudah kepala empat.

Wanita itu bernama Sri Marilin. Pemilik dari tempat usaha yang menjual beragam kerajinan tangan itu. Semua produk yang dia jual adalah karyanya sendiri. Itulah alasan dia mengatakan sudah beraktivitas sejak pagi hari.

“Mulai dari membuat dompet flatshoes hingga melukis wayang di tas kanvas maupun goni. Lalu siangnya menjual produk yang telah saya buat itu,” lanjut wanita yang rumahnya tepat di sebelah kios jualannya tersebut.

Ya, Sri adalah satu dari puluhan perempuan Kabupaten Kediri yang menjadi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Objek buatannya adalah aneka kerajinan tangan.

“Usaha saya ini berdiri sejak 2015,” terangnya, sambil terus melayani konsumen yang datang.

Tentu saja, saat itu karya yang dia jual tak selengkap seperti sekarang ini. Hanya beberapa macam aksesori saja.

“Seiring berjalannya waktu beralih pada pembuatan tas, dompet, dan bucket hat,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Kebisaan wanita ini membuat karya aksesori tak lepas dari latar belakang pendidikannya. Dia adalah lulusan pendidikan fesyen. Sedangkan membuat kerajinan tangan adalah hobinya. Baik berupa sulaman ataupun lukisan. Motifnya bisa batik maupun wayang.

Lambat laun dia menyadari bahwa hobi yang dilakukannya pada saat luang mampu menarik pembeli. Dari keluarga, tetangga, hingga teman-temannya. Membuatnya semakin bersemangat mengembangkan kemampuannya. Mengikuti berbagai pelatihan baik secara daring maupun luring.

“Awalnya otodidak dalam membuat bros dan sandal hias. Itu dengan mengandalkan video tutorial dari Youtobe dan Facebook,” akunya.

Setelah merasa mahir membuat aksesori, akhirnya dia belajar ke tingkatan yang lebih sulit. Yaitu memanfaatkan kanvas dan goni untuk membuat tas, dompet, dan bucket hat.

Tentu dengan ciri khas keahliannya yaitu membuat motif sulam pita serta lukis batik dan wayang. Dan ternyata motif inilah yang mampu menarik perhatian para pembeli dan pelanggannya.

“Memang sengaja memberi motif batik dan budaya Jawa di produk kekinian. Itu salah satu upaya saya untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan yang sudah ada sejak nenek moyang kita,” ujar perempuan berusia 45 tahun itu.

Tak hanya mengenai motif, produknya juga dikenal karena memiliki bentuk yang aneh atau jarang orang melihatnya. Seperti dompet atau tempat pensil yang berbentuk flatshoes hingga tas slinbag yang terbuat dari kain perca.

Meskipun pembuatannya cukup rumit, namun harga jual yang ditawarkan masih masuk akal. Itu karena dia ingin produknya bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Barang buatannya hanya di kisaran harga Rp 10 ribu hingga Rp 200 ribu. Dompet koin misalnya, hanya seharga Rp 10 ribu. Kemudian ada tempat pensil senilai Rp 25 ribu, tas ransel Rp 165 ribu, dan tas laptop yang dijual Rp 200 ribu.

Perempuan yang akrab disapa Lin mengaku sebagai pengusaha perjalanan yang dilaluinya tidaklah mudah. Dalam kurun waktu berjualan belasan tahun pasang surut penjualan sudah biasa dilalui. Namun tidak ada pilihan lagi selain bertahan dengan keadaan.

Dan benar saja atas kerja keras dan sikap pantang menyerahnya, kini usahanya bisa dikenal oleh seluruh penjuru Indonesia. Bahkan produknya banyak terpampang di spot oleh-oleh. Salah satunya yang ada di bandara.

“Produk saya sudah terjual hampir seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Saya juga aktif mengikuti event-event budaya untuk memperkenalkan produk ini (tas, dompet, dan bucket hat, Red),” tandas Lin.

Ide kreatif yang dimilikinya tidak pernah habis. Itu karena dia selalu mengupdate keahliannya melalui video tutorial yang ada di media sosial. Dia juga aktif mengamati model-model desain terbaru di aplikasi Pinterest. Tak heran jika produk yang dijual selalu kekinian dan menarik.

Setiap harinya pun dia mampu menjual 20 hingga 30 produk. Dengan omset setiap bulannya mencapai Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Tentu penghasilan ini akan meningkat pesat ketika dia mengikuti event-event tertentu.

“Kalau pas ikut event pendapatan bisa meningkat hampir 35 persen dari omset setiap bulannya,” pungkasnya sembari menunjukkan buku catatan keuangannya. (*)

 

Editor : Mahfud
#aksesori #umkm #kerajinan tangan