JP Radar Kediri - Bila melintas di Perempatan Retjo Pentung, di malam hari, pemandangan ini pasti akan tertumbuk mata. Deretan gerobak pedagang roti berjajar, di tepi Jalan HOS Cokroaminoto. Terparkir berderet dari barat ke timur. Berjarak hanya sekitar satu meteran.
Ada belasan gerobak-yang lebih tepatnya mirip dengan becak kayuh-yang berjualan malam itu.
Mereka menjajakan roti yang mereknya hampir seragam. Lebih pas, hanya ada dua merek yang dijual oleh para bakul ini.
“Dulu yang jualan di sini ada puluhan (gerobak). Sekarang tinggal ini. Ada yang pindah usaha lain, ada yang sudah meninggal,” ucap Sudarmaji Wibowo, salah seorang pedagang.
Ya, perempatan Retjo Pentung, terutama yang di ruas jalan menuju Pasar Pahing ini, merupakan lokasi para bakul roti.
Ibaratnya, sudah legend alias melegenda. Sudah berlangsung puluhan tahun lamanya.
Contohnya, ya Sudarmaji itu. Pria 60 tahun ini sudah menjadi bakul roti merek ‘Grand’ sejak 1987. Sudah 38 tahun! Padahal, sebelum itu sudah ada yang berjualan.
“Bapaknya mase sudah lebih dulu dari saya,” kata pria yang berdomisili di Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini, menunjuk seorang pedagang di dekatnya.
Yang ditunjuk itu bernama Agus Puryanto. Pria 38 tahun ini memang mengikuti jejak sang ayah yang jadi pedagang roti di tempat ini. Meskipun rumahnya di Pace, Nganjuk.
Menariknya, kebanyakan para pedagang ini adalah orang dari luar Kota Kediri. Waktu berdagangnya pun mulai sore, pukul 17.00, hingga dini hari.
Mengikuti geliat kehidupan Kota Kediri yang tak pernah mati. Yang terus berdenyut selama 24 jam!
Maka, jangan heran ketika sudah menginjak pukul 23.00, mulai ada tikar yang tergelar di trotoar. Sebagian para pedagang pun mulai rebahan.
Berselimut sarung, melindungi diri dari hawa dingin. Menunggu pembeli sambil meluruskan badan. Kadang juga terlelap sejenak.
Mengulik lebih dalam, para pedagang roti ini memang sengaja berjualan dengan cara menginap. Sebab, masih ada orang yang membeli roti meski waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Bahkan saat dini hari. Pasalnya, roti yang mereka jual sudah melegenda bagi masyarakat khususnya di Kediri.
Karenanya, mereka tidak terlalu khawatir jualannya tak laku meski sudah banyak toko-toko roti yang buka.
“Pelanggannya masih ada,” aku Sudarmaji. Meskipun, dia mengakui jumlahnya tidak sebanyak dulu.
Apakah mereka tidak berebut pembeli? Karena roti yang dijual mereknya hampir sama?
Ketika ditanya seperti itu, Agus menggeleng. Menurut pria asli Gurah, Kabupaten Kediri ini, mereka tak pernah rebutan pembeli. Meskipun roti yang dijajakan sama.
“Ya tergantung pembelinya berhenti di mana,” terangnya.
Artinya, jika calon pembeli mendatangi gerobaknya, akan menjadi rezekinya. Tetapi, bila mendatangi gerobak yang bukan miliknya, berarti itu menjadi rezeki temannya sesama pedagang.
“Kalau misal roti yang dicari di saya habis ya nanti diambilkan dari yang lain. Tapi yang masih satu merek,” ceritanya.
Berdagang ketika waktunya orang lain beristirahat, tentu saja memiliki banyak cerita. Terutama soal risiko yang besar. Bila hujan mengguyur sudah pasti mereka tak bisa tidur.
Risiko lain, mereka juga jadi incaran para kriminal. “Pernah HP hilang tiga kali. Gerobak juga pernah hilang,” ungkap Agus.
Pernah pula ada gerobak yang ditabrak pengendara sepeda motor. Pemuda yang berulah dengan melakukan aksi jumping berujung pada menabrak gerobak. Untung pelakunya mau memberi ganti rugi.
“Pernah dulu ada konvoi, lalu sama polisi diminta agar dinaikkan (ke trotoar, red),” tambah Agus, pedagang yang sudah berjualan selama 14 tahun ini.
Meski begitu, semua risiko ini diambil dengan lapang dada. Agus mengaku dirinya adalah tulang punggung keluarga. Ada tiga anak dan seorang istri yang menjadi tanggungannya.
Berbeda, Sudarmaji mengaku dirinya masih berjualan hanya untuk hiburan. Dia mengatakan keduanya sudah bekerja. Meski sempat dilarang, Sudarmaji ingin tetap memegang uang sendiri.
“Kadang cucu minta uang, kung.. Namanya cucu yang pengen ngasih (uang saku, red),” candanya.
Yang tak kalah penting, para pedagang ini seolah mendapat keluarga baru. Saat malam, mereka kadang bermain kartu. Bercanda bersama dan saling bertukar cerita.
“Sama pelanggan juga. Nambah kenalan, seperti keluarga baru,” tandas Agus.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah