Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Menang, Pagu, Kabupaten Kediri: Jaga Kelestarian Alam untuk Kehidupan Warga yang Baik

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 30 April 2024 | 17:50 WIB
Pemerintah beserta warga Desa Menang, Kecamatan Pagu sangat menjaga keasrian Sumber Towo. Saat berkunjung, pengunjung dilarang mengambil ikan dengan cara apapun.
Pemerintah beserta warga Desa Menang, Kecamatan Pagu sangat menjaga keasrian Sumber Towo. Saat berkunjung, pengunjung dilarang mengambil ikan dengan cara apapun.

Desa Menang adalah salah satu desa di Kecamatan Pagu yang memiliki sumber yang kondisinya masih asri. Untuk menjaga keasriannya beberapa cara dilakukan. Mulai dari menanam pohon hingga memberi peraturan dilarang mengambil ikan.

Sumber Towo adalah sumber yang lokasinya berada di Desa Menang, Kecamatan Pagu. Lokasi sumber ini berdekatan dengan rumah warga. Meski begitu sumber tersebut masih terjaga keasriannya. Selain airnya yang jernih, disekitar sumber ditumbuhi oleh pepohonan rindang.

“Sumber ini sudah ada sejak zaman dulu,” jelas Sekertaris Desa Menang, Kecamatan Pagu Hartono.

Hartono bercerita bahwa Sumber Towo sudah dikenal sejak tahun 1970an. Pada saat itu, sekeliling sumber tidak diplengseng. Awal mulanya, sumber ini hanya berupa kolam kecil dengan dinding masih berupa tanah. 

Masyarakat banyak yang memanfaatkan keberadaan Sumber Towo. Anak-anak setempat biasanya asyik berenang dan bermain air di sumber ini. Sedangkan ibu-ibu memanfaatkannya untuk mencuci pakaian. Hanya saja, agar sumber terjaga keasriannya, mereka hanya boleh mencuci di luar sumber.

Karena air di sumber tersebut masih terjaga keasriannya, banyak ikan tumbuh di sana. Agar ikan tersebut tidak diambil oleh tangan-tangan jahil, terdapat papan larangan untuk mengambil ikan dengan cara apapun. Selain itu untuk menjaga keasrian sekitar sumber biasanya dilakukan penanaman pohon.

Kerupuk Pecel Bu Sunarsih, Tetap Eksis Puluhan Tahun

Untuk menikmati hidangan satu ini, kalian dapat pergi ke Desa Menang, Kecamatan Pagu. Lokasinya tidak jauh dari sendang Tirta Kamandanu. Nama hidangan ini adalah Kerupuk Pecel dan Es Dawet Bu Sunarsih.

“Sekarang yang meneruskan usaha ini adalah anaknya,” jelas Andi Wahyudi, anak keempat Bu Sunarsih.

Tempat makan ini sangat sederhana. Masih bergaya rumah pedesaan jaman dahulu. Namun meski begitu, untuk rasa makanan tidak ada duanya. “Sayurannya ada macam-macam, ada kenikir, bunga turi, dan kecambah,” ucap Andi. 

Yang membedakan dari kerupuk pecel pada umumnya, terdapat pada bumbu kacangnya. Bumbunya sangat kental. Namun tidak membuat eneg atau terlalu pedas. Karena masih terdapat paduan rasa lainya, gurih, pedas, asin, dan manisnya.

Untuk sepiring pecel sayur dan kerupuk kita cukup mengeluarkan uang Rp 7 ribu saja. Sedangkan minumannya tersedia es dawet yang segar. Satu porsi es ini kita cukup membayar Rp 3,5 ribu.

Biasanya camilan lain yang disuguhkan adalah tahu goreng, ote-ote dengan ukuran jumbo. Sehingga makan tanpa pakai nasi saja kita pulang sudah kenyang. Warung yang didirikan oleh Bu Sunarsih ini terkenal sejak tahun 70-an. Orang biasanya menyebut warung pecel Bek Kasih yang berada di Desa Menang. Tepatnya berada 100 meter di sebelah barat Pamuksan Sri Aji Joyoboyo. Konon, menurut cerita pecel tanpa nasi ini dulunya untuk melayani peziarah Sri Aji Joyoboyo. Pasalnya, saat itu banyak yang “ngrowot” atau tidak makan nasi. Sehingga sampai sekarang terkenal dengan pecel kerupuk saja. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #wisata kediri #pagu kediri #sumber towo kediri #wisata air #jawa pos