KEDIRI, JP Radar Kediri- Masalah permodalan menjadi kendala banyak petani bawang merah. Karena itulah Pemdes Sukoharjo membuat terobosan dengan memberi bantuan dana. Yaitu dari unit usaha simpan pinjam yang dimiliki bumdes.
Desa Sukoharjo adalah penghasil bawang merah terbesar di Kecamatan Plemahan. Sebab, dari total 5.170 jiwa penduduknya, 45 persen menggeluti bidang pertanian ini.
“Petani bawang merah di Desa Sukoharjo ini menyebar di lima dusun,” terang Kepala Desa Sukoharjo Ahmadi.
Sayagnya, banyak persoalan pelik yang melilit petani. Seperti hasil panen yang buruk akibat faktor cuaca. Membuat mereka kekurangan biaya ketika memasuki musim tanam baru. Mereka terpaksa meminjam uang untuk memulai musim tanam
“Alasan itulah yang membuat desa membuat badan usaha yang fokus ke usaha simpan pinjam,” kata Ahmadi.
Bumdes bernama Cipta Karya Mandiri ini berdiri pada 2018. Tujuannya menolong warga, terutama petani, yang butuh uang modal.
Ke depan, bumdes akan mengembangkan usaha. Dengan membuat unit usaha lain. Rencananya unit usaha baru itu terkait peminjaman peralatan pertanian.
“Karena saat ini peralatan pertanian yang dibutuhkan warga masih pinjam ke desa lainnya,” aku laki-laki berusia 49 tersebut.
Wacananya bumdes akan meminjamkan alat berat untuk menggarap sawah. Salah satu alat berat tersebut adalah mesin kombi. Dengan alat berat seperti kombi, selain efisien namun harganya juga terjangkau. Untuk 1400 persegi, hanya perlu membayar Rp 350 ribu.
Tingkatkan Kualitas Jalan dan Membuat Irigasi
Sebagai desa pertanian, Desa Sukoharjo sangat penunjang seperti akses angkutan dan ketersediaan pengairan. Tidak heran jika salah satu prioritas pembangunan di desa ini adalah meningkatkan kualitas jalan di area pertanian.
Selama Ahmadi menjabat sebagai Kepala Desa Sukoharjo setidaknya dia sudah melakukan rabat jalan di enam titik yang tersebar di lima dusun. Dengan sumber anggaran yang tidak hanya satu.
“Selain menggunakan dana desa, pembangunan jalan ini juga sumbangan dari bantuan keuangan,” jelas Ahmadi.
Ahmadi menjelaskan, sebelumnya hampir seluruh jalan di desanya masih tanah. Membuat jalan berlumpur ketika musim penghujan.
Untuk menanggulanginya pemdes pun melakukan rabat jalan. Mengecor jalan agar tidak becek lagi.
Pemdes lebih memilih pengecoran dibanding pengaspalan karena awet dan efisien.
“Tebal jalan yang dicor ini sekitar 15 sentimeter,” imbuhnya.
Tahun ini ruas jalan yang dirabat ada di Dusun Ringinsarilor. Untuk proyek ini anggarannya hanya dari dana desa. Hal inilah penyelesaiannya butuh waktu panjang.
“Karena dana desa kan ditransfers secara bertahap. Jadi baru dapat dikerjakan saat sudah cair,” ungkap Ahmadi.
Jalan tersebut memang sangat dibutuhkan warga. Selain digunakan untuk sarana transportasi menuju area persawahan juga untuk angkutan pengangkut hasil panen.
Di sisi lain, program ketahanan pangan desa ini tak hanya meningkatkan kualitas jalan. Pemerintah Desa Sukoharjo juga membuat saluran irigasi. Pembangunan saluran irigasi lokasinya berada di Dusun Sukosari. “Saluran irigasi ini juga sangat perlu untuk mengairi persawahan,” kata laki-laki kelahiran 1974 tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah