KEDIRI, JP Radar Kediri - Sebagaimana namanya, Masjid Al Alawi Banjarmlati berada di Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Berada di tengah padatnya perkampungan yang ada di tepi Sungai Brantas.
Masjid ini dikenal sebagai salah satu masjid tua di Kota Kediri. Bahkan, bila klaim pengurus masjid yang menyebut bangunan ini dibangun pada abad 17, maka merupakan tempat ibadah kaum muslimin yang tertua di Kediri. Usianya sudah lebih dari 300 tahun.
“Awalnya dari Mbah Ali Ma’lum yang orang Tulungagung. Disuruh ayahnya bernama Kiai Ambiya mencari tempat sebagai lokasi rumah dan masjid untuk dakwah,” cerita Muhammad Husain Al Alawi, pengurus masjid sekaligus generasi ketujuh dari pendiri masjid.
Perjalanan Mbah Ali Ma’lum itu dimulai dengan menyusuri Sungai Brantas. Pesan sang ayah, ia harus bisa menemukan daerah yang beraroma wangi. Hingga akhirnya ia menemukan suatu daerah yang wangi serupa melati. Daerah itu yang kini menjadi lokasi dibangunnya Masjid Al Alawi.
“Itu juga jadi asal mula daerah ini dinamai Banjarmlati,” lanjut pria yang karib disapa Husain ini.
Para penerus dan pengurus masjid tetap mempertahankan desain masjid ini. Karena itu, nuansa kuno masih sangat terasa. Bahkan, kondisi yang ada saat ini masih sama seperti ketika awal dibandung ratusan tahun silam.
“Masjid inti tetap kami pertahankan seperti kondisi awal,” sambungnya.
Memang, renovasi tak terhindarkan. Terutama karena perkembangan jumlah jemaah yang terus bertambah. Seperti ketika Salat Jumat yang selalu tak tertampung di dalam masjid. Maklum, bangunan inti hanyalah satu ruang dengan ukuran 12 x 20 meter.
“Karena itulah diperluas terus,” akunya, menceritakan alasan pemugaran yang sudah dilakukan beberapa kali, terutama membuat serambi masjid untuk menampung jemaah.
Meskipun demikian, bangunan inti tetap tak diutak-atik. Masih berciri bangunan Jawa. Dengan atap limas dan ditopang empat tiang utama atau saka guru. “Tiang-tiangnya ini juga masih asli dari awal dibangun. Mungkin tambahannya hanya dipasang keramik di bagian bawahnya,” lanjutnya terkait pilar penyangga dari material kayu jati di dalam bangunan utama.
Keaslian masjid kuno itu—lanjut Husain—juga ditunjukkan lewat ukiran kayu di titik tengah atap masjid. Di tengah atap limas segi empat itu, terdapat dua ruas balok kayu yang dihiasi dengan ukiran.
“Itu sudah ada sejak awal masjid ini dibangun,” tandasnya.
Sementara itu, beberapa ornamen bernuansa Jawa seiring waktu terus ditambahkan oleh pengurus masjid. Salah satunya pintu berdaun ganda dengan ukiran di sekelilingnya.
Untuk menjaga keaslian masjid, bagian atas dibiarkan natural seperti bentuk awal masjid. Yakni, tak ada langit-langitnya. Ketika mendongak ke atas yang terlihat adalah genting tanpa pelapis yang lain. Hal serupa juga terlihat di serambi masjid meskipun hasil perluasan.
Karena menjadi yang tertua, Masjid Al Alawi Banjarmlati dikenal sebagai cikal bakal perkembangan pondok pesantren di Kota Kediri. Salah satunya melalui Kiai Sholeh—generasi keempat pengurus masjid—lahir tokoh-tokoh besar pondok pesantren di Kediri. Salah satunya melahirkan pondok pesantren terbesar di Kota Kediri, Pondok Lirboyo.
Kiai Abdul Karim yang dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Lirboyo pada 1910 silam merupakan menantu dari Kiai Sholeh. Dengan pengaruh dari mertuanya itu, Kiai Abdul Karim mendirikan pondok pesantren di Lirboyo dan memulai syiarnya menyebarkan ajaran Islam di Kediri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. cuma dua minggu,” harapnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah