KEDIRI, JP Radar Kediri - Bagi Pemdes Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo, banyaknya pedagang baru di desa mereka adalah potensi. Bisa untuk meningkatkan perekonomian warga. Karena itu, gagasan membuat pasar desa pun dibuat. Tempatnya di lahan kosong di depan SDN Sambirejo 1.
“Kami ingin membuat pasar seperti di Pasar Kweden, yang buka mulai pagi hingga sore,” terang Sekretaris Desa (Sekdes) Sambirejo Roffi.
Sebenarnya, perencanaan ini sudah ada sejak 2019. Bersumber dari permintaan warga. Ketika banyak di antara mereka terkena PHK dari perusahaan rokok dan beralih menjadi pedagang.
Sayang, proyek itu belum terlaksana. Karena terhalang pandemi Covid-19. Pemdes baru bisa memulai pada 2023.
“Saat ini pembangunan sudah mencapai sekitar 40 persen,” imbuhnya.
Selain los juga ada kios yang jumlahnya lima unit. Sedangkan yang berbentuk los nanti panjangnya 200 meter. Meskipun yang sudah terlaksana sekarang baru 100 meter. Semuanya diharapkan bisa menampung puluhan pedagang.
Yang dijajakan juga tidak terbatas sayur-mayur. Juga makanan jadi hingga pakaian.
Berbagai fasilitas disiapkan di pasar tersebut. Seperti tempat parkir, toilet, dan musala.
Roffi menambahkan bahwa pasar desa akan dikelola oleh badan usaha milik desa (bumdes). Warga yang jadi penyewa hanya membayar retribusi sebulan sekali. Uang iuran tersebut digunakan sebagai biaya perawatan dan pendapatan asli desa.
Gagal Kirim Berujung Sukses Jual Telur Asin
Kegagalan bisa berujung pada sukses yang lain. Seperti yang dialami oleh Setu Hadi, warga Desa Sambirejo ini. Awalnya dia adalah peternak itik petelur. Suatu ketika hasil produksi ternaknya tak bisa terkirim karena banjir. Kejadian itu pada 2008 silam.
Ketika telur menumpuk, pria 63 tahun itu berbincang dengan sang istri. Bagaimana bila membuat telur asin. Ide yang langsung disetujui oleh pasangan hidupnya itu.
Setu tidak langsung bisa mewujukan idenya. Dia harus belajar dulu hingga Sidoarjo.
“Saya ke Sidoarjo selama sehari belajar membuat telur asin,” terangnya.
Setelah itu dia pun berpraktik. Butuh percobaan beberapa kali sebelum hasilnya sempurna. Dia sempat merasakan telur asinnya pahit. Setelah diteliti ternyata karena faktor garam yang digunakan. Setelah mengganti garam grasak dengan yang beryodium, telur asinnya bisa matang sempurna tanpa rasa pahit.
Sayang, usahanya sempat terganggu ketika Gunung Kelud meletus pada 2014. Kandang itiknya roboh. Akhirnya, dia tidak menggunakan telur hasil ternaknya. Melainkan membeli dari peternak lain atau dari dinas ketahanan pangan dan peternakan (DKPP).
“Sekali membuat kini seribu hingga 1.200 butir,” ungkap laki-laki kelahiran 1961 tersebut.
Selain menjualnya di pasar, Setu juga melayani pelanggan tetap. Setiap tiga hari sekali ada rumah makan rawon yang order sebanyak 200 butir.
Meski hanya menjual telur asin, namun Setu memiliki perizinan yang lengkap. Mulai dari izin pangan industri rumah tangga (PIRT) hingga label halal. Bahkan penjualannya juga dilakukan secara online.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah