Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sekolah-Sekolah Pemenang Ajang Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2025 (2), TK Kusuma Mulia 1 Cerme

Hilda Nurmala Risani • Jumat, 8 Agustus 2025 | 20:22 WIB
Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa menyerahkan trofi, piagam, dan hadiah uang tunai kepada TK Kusuma Mulia 1 Cerme yang menjadi juara I Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2025.
Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa menyerahkan trofi, piagam, dan hadiah uang tunai kepada TK Kusuma Mulia 1 Cerme yang menjadi juara I Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2025.

Bagi TK Kusuma Mulia 1 Cerme, pelepasan siswa tak harus selalu hura-hura. Tapi juga mewujudkannya dengan berbagi pada sesama. Ada kerja bakti, bakti sosial, dan juga pentas seni.

HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten JP Radar Kediri

Ide acara ini datang dari sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. Larangan pelaksanaan wisuda muncul di berbagai daerah di Tanah Air. Termasuk di Jawa Timur.

Hal itu membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri mencari cara. Bagaimana agar tetap bisa melaksanakan perpisahan bagi siswa namun lebih bermanfaat dan bermakna. Baik bagi siswa maupun orang-orang sekitarnya.

Acara tersebut pun disambut baik oleh pihak sekolah yang ada di Kabupaten Kediri. Mulai dari tingkat PAUD hingga SMP. Mereka berlomba-lomba menampilkan konsep perpisahan terbaik. Mulai dari  ide atau tema acara pelepasan, pelaksanaan, hingga konten video di media sosial.

Untuk kelompok TK, yang menjadi juara 1 adalah TK Kusuma Mulia 1 Cerme, Kecamatan Grogol. Dalam pemilihan tema, pihak sekolah tidak kesusahan dalam menentukan ide. Itu karena sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan sehari-hari.

“Sebenarnya kami tidak mengharap menjadi juara. Karena kegiatan sudah kami lakukan jauh sebelum adanya festival pelepasan siswa Kediri berbudaya,” terang Urpitowati, kepala TK Kusuma Mulia 1 Cerme.

Saat dihubungi melalui telepon kemarin malam, perempuan yang akrab disapa Ur itu antusias menceritakan proses yang dilalui oleh pihak sekolah hingga akhirnya dinyatakan sebagai juara.

“Ide yang ada dalam pikiran saya adalah mengusung tema indahnya berbagi. Kegiatannya meliputi kerja bakti, bakti sosial, dan gebyar pentas seni,” imbuhnya.

Perempuan yang sehari-hari memakai kacamata itu menjelaskan jika kegiatan yang diusulkan itu sesuai dengan kondisi yang ada di sekitarnya. Misalnya adalah kerja bakti. Kerja bakti ini diselenggarakan dengan membersihkan lingkungan sekitar sekolah dan tempat ibadah yang sehari-hari digunakan oleh siswa.

Secara tidak langsung kegiatan tersebut mampu membentuk karakter peserta didik. Utamanya sikap peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Dari langkah kecil yang sudah diterapkan sejak usia dini ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang memiliki sikap kepeduliaan dan kepekaan tinggi.

Di hari berikutnya, ada kegiatan bakti sosial. Bakti sosial ini diterapkan dengan cara memberikan bantuan berupa sembako kepada wali murid dan warga yang dirasa kurang mampu.

“Kemudian di hari ketuga ditutup dengan kegiatan gebyar pentas seni dan tasyakuran. Siswa menampilkan bakatnya dalam menyanyi, menari, dan bercerita,” bebernya sembari melempar senyum.

Ur mengaku penciptaan ide ini hanya dalam kurun waktu satu jam. Namun siapa sangka dengan keterbatasan waktu itu pihaknya berhasil memperoleh juara satu. Padahal dari awal mengikuti niatnya hanya untuk ikut berkontribusi tidak berharap memperoleh juara.

“Lumayan kaget waktu disebut sebagai juara 1. Karena kami melakukan kegiatan yang seperti biasanya. Tidak ada yang spesial,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Tentu keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras dan kerja cerdas para ibu guru. Mereka saling membagi tugas sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Ada yang mencetuskan ide, mengkondisikan anak-anak, mengambil video, dan mengedit video.

Di balik keberhasilannya memperoleh juara tentu ada kesulitan yang dialami. Yaitu anak-anak yang sulit dikondisikan. Mereka asyik bermain sendiri. Bahkan perlu dibujuk rayu agar mau menuruti permintaan sang guru.

“Rasa capek dan kesal manusiawi ya. Tapi memang tugas kami mengkondisikan anak-anak ini,” terangnya.

Ke depan pihaknya juga tertarik untuk mengikuti acara Festival Pelepasan Siswa Kediri Berbudaya kembali. Itu karena memiliki dampak luar biasa baik bagi siswa, orang tua maupun warga sekitar.

“Perasaan saya mengikuti festival ini campur aduk. Tetapi yang jelas kami bersedia untuk mengikuti kembali tahun depan. Tentu dengan konsep yang lebih bagus dan menarik,” pungkasnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#pelepasan siswa 2025 #pemkab kediri