JP Radar Kediri- Sebuah lorong panjang dengan atap lengkung stand berderet menjajakan perhiasan, rempah-rempah, kain sutra, dan kerajinan tangan. Itulah pemandangan di Grand Bazaar jantung perdagangan kuno yang berdiri megah di Istanbul, Turki. Dibangun pada abad ke-15 oleh Sultan Mehmed II pasar ini bukan hanya simbol kejayaan ekonomi Kesultanan Utsmaniyah tetapi juga representasi bagaimana budaya dan perdagangan bisa berpadu dalam satu ruang publik yang hidup dan dinamis.
Grand Bazaar atau Kapalıçarşı dalam bahasa Turki mulai dibangun pada tahun 1461 beberapa tahun setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II. Sebagai bagian dari strategi pasca-perang sang Sultan ingin membangun pondasi ekonomi yang kuat bagi kekaisaran barunya. Ia menyadari pentingnya menciptakan pusat perdagangan yang aman, terorganisir, dan mampu mengakomodasi berbagai aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Bukan tanpa alasan Grand Bazaar dibangun di tengah kota dekat pusat pemerintahan dan masjid utama. Ini memperlihatkan betapa eratnya kaitan antara kekuasaan, agama, dan ekonomi dalam tatanan masyarakat Utsmaniyah. Dengan ratusan stand dan puluhan lorong beratap pasar ini tak hanya menjadi tempat jual beli tetapi juga ruang temu antarbudaya dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah. Ia tumbuh menjadi simpul perdagangan internasional yang aktif, sekaligus ruang sosial bagi warganya.
Baca Juga: 5 Event Bazar Bertema Jadul di Jawa Timur yang Wajib Dikunjungi
Kini lebih dari 500 tahun kemudian dan ribuan kilometer dari Istanbul semangat serupa mengalir di Kediri, Jawa Timur. Dalam skala dan konteks yang berbeda Kediri Kuno Kini hadir sebagai ruang yang menyatukan dua hal penting: pelestarian budaya dan penguatan ekonomi rakyat. Event ini yang akan digelar di kawasan Simpang Lima Gumul pada bulan Mei mendatang mengajak masyarakat untuk kembali menengok kearifan lokal, permainan tradisional, dan kekayaan kuliner yang pernah menjadi denyut kehidupan warga Kediri tempo dulu.
Melalui permainan seperti egrang, engklek, congklak, hingga gasing, Kediri Kuno Kini menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang masa kecil, kebersamaan, dan nilai-nilai lokal yang mulai tergerus zaman. Sementara itu, ratusan UMKM dari berbagai sektor turut ambil bagian dalam area bazar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi selama acara berlangsung. Produk-produk lokal dari kerajinan tangan, kuliner khas, hingga fashion menjadi wajah baru dari ekonomi rakyat yang kreatif dan tangguh.
Jika Grand Bazaar dibangun sebagai upaya menyatukan kekuatan ekonomi dan budaya dalam satu ruang fisik maka Kediri Kuno Kini membangun ruang itu dalam bentuk festival terbuka, partisipatif, dan inklusif. Keduanya menjadikan ruang publik bukan sekadar tempat, tetapi ekosistem. Di dalamnya ada interaksi, transaksi, dan transmisi nilai-nilai sosial yang tak ternilai harganya.
Yang menarik baik Grand Bazaar maupun Kediri Kuno Kini sama-sama menyadari bahwa ekonomi rakyat tidak akan tumbuh sendiri tanpa dibarengi dengan cerita dan budaya. Produk lokal tak hanya dijual karena bentuk atau rasa, tapi juga karena makna yang dikandungnya—kisah tentang siapa yang membuatnya, dari mana ia berasal, dan bagaimana nilainya terhubung dengan identitas daerah.
Grand Bazaar tetap berdiri sebagai simbol kejayaan masa lalu dan daya tahan budaya Istanbul. Sementara Kediri Kuno Kini adalah upaya kontemporer untuk menanam benih semangat itu di tanah Kediri. Keduanya, meski berbeda era, berbicara dalam bahasa yang sama yaitu, bahwa sebuah peradaban besar dimulai dari pasar rakyat, dari interaksi sederhana, dari ruang yang memberi tempat untuk tumbuh bersama.
Editor : Puspitorini Dian Hartanti