Banyak pemilik kendaraan kini secara sukarela beralih menggunakan bahan bakar dengan oktan lebih tinggi. Gusti, salah satu pemilik gerai pom mini di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri mengatakan, banyak pembeli yang langsung meminta untuk diisi Pertamax.
Mereka tidak memedulikan selisih harga yang lebih mahal. Konsumen lebih khawatir motornya mogok atau rusak, sebab biaya perbaikan mesin jauh lebih mahal dibandingkan selisih harga bahan bakar.
Lonjakan penjualan Pertamax di gerai milik Gusti terlihat sangat signifikan. "Penjualan Pertamax di gerai miliknya meningkat berkali lipat, dari yang sebelumnya sebanyak 20-25 liter sekarang mencapai 80-85 liter sehari," ujarnya.
Gusti menambahkan, sebelumnya ia kerap menerima protes dan komplain dari pengendara yang motornya bermasalah setelah mengisi Pertalite. “Sebelumnya, saya juga sempat dikira mengoplos,” ungkap Gusti, yang diketahui juga menjual Pertalite dan Pertamax.
Pedagang Lain Belum Terdampak
Meski demikian, tidak semua pedagang pom mini merasakan dampak serupa. Pedagang lain, Ayu, di Desa Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo, mengaku bahwa isu motor "brebet" (bermasalah) belum memengaruhi penjualan Pertalite di tokonya.
“Saya hanya menjual Pertalite, alhamdulillah tidak ada yang protes,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian