KEDIRI KOTA - Masa-masa menjelang Ramadan seperti saat ini menjadi masa ‘panen’ bagi pedagang bunga setaman atau bunga untuk ziarah kubur. Selain permintaan yang meningkat para pedagang bunga bisa tersenyum lebar karena harganya juga terkerek naik.
Pada hari biasa satu bungkus ukuran sedang dijual seharga Rp 5 ribu hingga Rp 7,5 ribu. Namun, saat ini bisa mencapai Rp 10 ribu. Bahkan, ada juga yang menjual seharga Rp 12 ribu per bungkus.
“Biasanya tiga hari jelang puasa permintaan bunga semakin tinggi,” terang Warti, pedagang bunga yang kemarin berjualan di Pasar Setonobetek.
Warga asal Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk ini berjualan bunga dengan sistem grosir. Menjualnya dengan cara borongan, satu keranjang berisi 2 kilogra. Harganya, Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Bila hari biasa, biasanya per kilonya sekitar Rp 75 ribu.
Kemarin, lanjut Warti, jumlah pembeli semakin meningkat. Karena menjelang Ramadan seperti saat ini mayoritas warga akan melakukan ziarah ke kubur kerabatnya. Dan perlengkapan utama ziarah kubur itu adalah bunga setaman itu.
Bunga setaman sendiri adalah sebutan untuk paket bunga yang terdiri dari beberapa jenis. Biasanya dibungkus daun pisang. Umumnya terdiri dari bunga kantil, kenanga, melati, dan mawar putih. “Kebetulan bulan ini sedang panen-panenya bunga kenongo,” tandasnya.
Hal senada juga diungkapkan Sunardi, 47, warga Desa Ngreco, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Pedagang bunga ini juga mengaku penjualannya mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan hari biasanya. Penjualan bunga yang biasanya berkisar Rp 200 ribu per hari, kini bisa menjadi Rp 300 ribu per hari. “Dua hari terakhir ini penjualan saya naik 50 persen,’’ kata pedagang bunga yang juga berjualan di depan Pasar Setonobetek .
Menurutnya, masyarakat Jawa biasanya mengenal dengan bulan Ruwah yang dipercaya bulan yang baik untuk berziarah. “Biasanya kalau hari biasa penjualan paling banyak pada kamis, itupun tidak signifikan,” pungkasnya.
Sementara itu, harga ayam potong pun juga ikut mengalami kenaikan jelang Ramadan. Kondisi ini membuat daya beli pun menjadi turun. Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, kenaikan harga ayam berkisar Rp 32 ribu per kilogram hingga Rp 36 ribu per Kilogram.
“Harga ini (ayam potong, Red), biasanya akan terus naik saat Ramadan hingga jelang Lebaran,” ungkap Bambang, 46, pedagang ayam potong di Pasar Setonobetek.
Menurutnya, peningkatan harga ini biasanya terjadi di awal Ramadan. Kemudian di pertengahan bulan menjadi stabil. “(Biasanya) sempat stabil lalu (akan) naik lagi,” ucapnya.
Bambang mengaku tidak tahu pasti penyebab kenaikan harga daging ayam. Yang dia tahu justru saat ini permintaanya mengalami penurunan.
Pedagang ayam lainnya, Taufik akbar, 27, mengaku kenaikan harga ayam potong membuat sebagian besar pembeli mengeluh. “serentak harga naik, padahal baru saja harga daging ayam stabil,” katanya.
Kenaikan harga ayam itu dianggap sebagai fenomena wajar di awal Ramadan. “Hampir tiap tahun psikologi pedagang pasti menaikkan harga karena jumlah permintaan banyak,” kata Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Kediri Yetty Sisworini.
Menurutnya, pihak Disperdagin masih memberikan toleransi kenaikan harga. Namun, harus sesuai harga eceran tertinggi (HET). “Kami juga akan lakukan operasi pasar pada 7 Mei nanti di 46 kelurahan di Kota Kediri. Tujuannya guna menstabilkan harga komoditi sembako bagi masyarakat,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho