JP Radar Kediri - Fenomena siaran langsung atau live di media sosial yang dilakukan di ruang publik ikut disorot oleh pengamat sosial.
Dosen Universitas Islam Negeri IUIN) Syekh Wasil Kediri Taufik Alamin menilai media sosial kini telah menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menunjukkan eksistensinya. Karenanya, mereka sengaja mencari tempat strategis, salah satunya untuk mendulang viewers.
“Sekarang orang berebut perhatian di dunia maya. Untuk mendapatkan perhatian itu, mereka memanfaatkan ruang-ruang publik yang ada di dunia nyata,” ujar Taufik.
Banyaknya live di dekat lampu merah, menurut Taufik bukannya tanpa alasan. Saat kendaraan berhenti beberapa menit di traffic light, mereka berpotensi menjadi penonton sekaligus latar belakang konten. Momen singkat tersebut dianggap efektif untuk menarik perhatian pengguna jalan. Pun warganet yang menyaksikan siaran langsung.
Meski demikian, Taufik menilai aksi live di ruang publik itu berpotensi bertabrakan dengan fungsi fasilitas publik. Jalan raya dan persimpangan dibangun untuk mendukung kelancaran lalu lintas. Bukan sebagai arena hiburan.
“Orang yang sedang menunggu lampu hijau seharusnya fokus pada kondisi jalan. Kalau ada aktivitas yang menarik perhatian berlebihan, tentu bisa mengganggu konsentrasi pengguna jalan,” lanjutnya.
Terlepas dari hal tersebut, Taufik menilai maraknya live di ruang publik sekaligus menunjukkan perubahan budaya masyarakat. Mereka jadi semakin bergantung pada dunia digital. Media sosial bukan lagi sekadar sarana komunikasi. Melainkan jadi panggung tempat seseorang membangun identitas dan mencari pengakuan.
Di sisi lain, aksi live juga karena faktor ekonomi atau untuk mencari cuan. Karenanya, konten kreator melakukan berbagai upaya untuk menarik perhatian warganet. Sebab, semakin banyak penonton atau viewers yang tinggi, semakin besar pula peluang mendapat keuntungan dari platform digital.
“Sekarang yang dijual itu viral dan viewers. Orang berusaha melakukan sesuatu yang berbeda agar menarik perhatian publik,” terangnya.
Tak ubahnya prinsip jurnalistik, menurut Taufik peristiwa biasa dianggap tidak menarik perhatian. Karenanya, konten kreator melakukan sesuatu yang tidak lazim untuk memancing rasa penasaran publik.
Baca Juga: Lipsus Minyakita Subsidi Langka di Pasaran, Mengapa? (2): KDKMP Dulu, Pengecer Kemudian
Tidak heran, kini sudah banyak yang memberanikan diri tampil di depan publik. Mereka juga lebih berani mengekspresikan diri di ruang virtual.
“Di ruang virtual, orang merasa lebih bebas mengekspresikan dirinya karena di situlah mereka menemukan eksistensinya. sehingga rasa malu menjadi semakin tipis,” terangnya.
Editor : Mahfud