Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus : Fenomena Live Tiktok di Lampu Merah Jadi ‘Panggung Konser’ Virtual Beromzet Jutaan Rupiah

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 22 Juni 2026 | 13:04 WIB
Fenomena live tiktok di sejumlah fasilitas umum di Kediri (Ilustrasi: Afrizal)
Fenomena live tiktok di sejumlah fasilitas umum di Kediri (Ilustrasi: Afrizal)

JP Radar Kediri : Tak hanya sarana hiburan, dunia digital juga jadi ladang untuk mencari cuan baru. Sejumlah konten kreator sengaja memilih tempat tak lazim untuk ‘konser virtual” di TikTok demi mendapat gift senilai jutaan rupiah.

Sejumlah media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok menyediakan sarana live atau siaran langsung untuk penggunanya. ‘Panggung’ virtual gratis inilah yang dimanfaatkan oleh konten kreator untuk bernyanyi dan menari. Pun menerima tantangan dari warganet demi imbalan gift atau hadiah.

 Salah satu yang paling populer adalah live di platform TikTok. Di Kediri, para konten kreator banyak yang membuat konten bernyanyi, menari, hingga monolog lebih dari satu jam di beberapa ruang publik. 

Baca Juga: Lipsus Jalan Dhoho x Jalan Stasiun Kota Kediri, Mau Dibawa ke Mana? (1) Lalin dan Parkir Semrawut, Warga Nunggu Konsep Jelas

Mulai di trotoar lampu merah Jl Brawijaya, Kota Kediri; di area Simpang Lima Gumul (SLG), dan beberapa tempat lainnya. Para konten kreator adu kreatif membuat konten demi mendapat gift dari penontonnya.

Gift berupa aneka jenis gambar yang dibeli menggunakan koin TikTok ini memiliki nilai yang beragam. Misalnya ikon mawar seharga Rp 250. Kemudian, ikon jari hati, tempe, tahu dan beberapa gambar lain seharga Rp 1.250 hingga Rp 2.500.

 Ikon gambar lain ada yang seharga puluhan hingga ratusan ribu. Bahkan, ikon kapal pesiar atau mobil sport bisa senilai Rp 1.250.000. Hingga gift paling populer berupa paus terbang senilai Rp 2,5 juta!

Baca Juga: Lipsus Melongok Kampung-Kampung ‘Keren’ yang Hidup Segan Mati pun Enggan (1): Kunjungan Wisatawan Turun, Pamor pun Meredup

 “Saya sering nonton. Biasanya lucu-lucu kontennya,” aku Putra, warga Kecamatan Pare yang biasa melihat live di Tiktok saat sedang senggang.

 Tak sekadar menyaksikan aksi lucu sang konten kreator, tanpa sadar Putra memberikan gift untuk mengapresiasi. “Kalau tidak sadar bisa habis ratusan ribu,” lanjutnya.

 Ya, tak sekadar menghibur, konten kreator memang menjadikan live di media sosial untuk mencari penghasilan. Seperti yang dilakukan oleh Jarwo. Warga Kota Kediri itu aktif live di TikTok sejak April lalu.

 Pria yang awalnya bekerja sebagai sales itu memilih banting setir live Tiktok setelah terinspirasi konten kreator di Bandung dan Jakarta. “Saya itu hobinya nyanyi, bukan bisa nyanyi. Dan kalau masuk ke kafe-kafe itu susah jadinya nyoba di pinggir jalan dan ternyata ramai,” ungkapnya ditemui di lampu merah Tepus, Desa Sukorejo, Ngasem.

Baca Juga: Lipsus Minyakita Subsidi Langka di Pasaran, Mengapa? (2): KDKMP Dulu, Pengecer Kemudian  

 Awalnya, Jarwo hanya mengisi live-nya dengan bernyanyi. Belakangan dia juga memenuhi berbagai tantangan yang diminta warganet. Sekali live, penontonnya paling sedikit 200 orang hingga 3.000 orang.

Tak hanya sendiri, Jarwo juga punya tim yang beranggotakan lima orang. Mereka termasuk moderator dan admin yang bertugas membalas komentar saat dia sedang live. “Saya live dua kali. Sore jam 15.00-17.00. Kalau malam, pukul 21.00 sampai pukul 23.00,” tuturnya.

Jarwo sengaja memilih trotoar di dekat lampu merah karena dinilai lebih bisa menarik perhatian di sana. Menyadari dirinya bukan public figure, Jarwo butuh tempat yang bisa memancing rasa penasaran penonton.

“Kalau di ruangan biasa kayak kamar gitu nggak ramai karena saya kan siapa? Orang yang menonton biasanya ingin lihat sesuatu yang berbeda,” katanya.

Baca Juga: Lipsus Proyek Jembatan Kaliombo 1 : Ubah Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat, Labirin Gang Durian pun Jadi Jalan Utama!

Meski sempat menjadi bahan tertawaan, Jarwo tidak malu. Kesabaran dan ketekunannya membuahkan hasil yang menjanjikan. Karenanya, kini siaran langsung di media sosial justru menjadi pekerjaan utamanya.

 “Saat live banyak yang memberi saweran uang dari pengendara atau pejalan kaki tapi saya tolak. Tujuan saya memang gift saja,” ungkap pria yang pernah mendapat gift paus dari penonton itu. Sayang dia tidak bersedia menyebutkan secara detail jumlah gift yang didapat setiap harinya.

 Jarwo pun bersyukur, meski rutin live di sana dia tidak pernah mendapat teguran. “Malah seringnya yang lewat menyapa,” lanjutnya.

 Tak hanya Jarwo, Bunga, warga Kediri juga rutin live dengan bernyanyi di kawasan Jembatan Brawijaya, Kota Kediri pada malam hari. Seperti Jarwo, sebagian besar gift yang diterimanya justru berasal dari penonton luar daerah.

 Di sisi lain, masyarakat terlihat menikmati aksi live para konten kreator itu. Ummi, pengguna jalan asal Kecamatan Ngasem menilai aktivitas kreator itu tidak terlalu mengganggu lalu lintas.

Baca Juga: Lipsus (1) Derita Bahasa Jawa, ketika Riuh Keinginan Memasukkan Bahasa Prancis dalam Kurikulum Pendidikan

“Kalau mengganggu sih tidak. Cuma menurut saya terlihat agak aneh saja karena joget-joget di pinggir jalan jadi tontonan orang,” ujarnya sambil tertawa.

 Terpisah, Plt Kepala Satpol PP Kabupaten Kediri Kaleb Untung Satrio Wicaksono mengatakan, pihaknya terus mencermati fenomena banyaknya konten kreator yang live TikTok di ruang publik. Dia menilai sejauh ini masih dalam batas wajar. Sebab, mereka hanya bernyanyi, menari, atau membuat konten hiburan.

"Sementara ini kami masih mengkaji. Karena ini fenomena baru dalam dinamika kehidupan masyarakat. Apakah kemudian memunculkan pelanggaran perda atau tidak, itu masih kami pelajari," ujarnya.

Kaleb menyebut, penggunaan trotoar atau fasilitas umum tidak serta merta bisa dikategorikan sebagai pelanggaran. Yang jadi perhatian utama satpol menurutnya adalah ada atau tidaknya gangguan fungsi fasilitas umum tersebut bagi masyarakat.

Baca Juga: Lipsus Menelisik Kasus Teror Pocong di Kediri, Terencana atau Sekadar FOMO? (1) Awalnya Ngeprank, Akhirnya Ditangkap Warga  

Untuk diketahui, sebelumnya, Satpol PP Kabupaten Kediri menindak live TikTok yang meresahkan. Satpol PP menertibkan live TikTok konten kreator perempuan di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG)pada Minggu(11/1) lalu. Hal tersebut dilakukan karena konten sarat kekerasan itu dianggap meresahkan.

Sebab, konten kreator asal Tulungagung itu membuat konten challenge menyakiti diri secara live. Aksi itu dilakukan di area Simpang Lima Gumul (SLG). 

Demi mendapat gift dari penonton, kreator perempuan berambut panjang itu suka rela melakukan tantangan yang aneh-aneh. Salah satunya, berpura-pura menyakiti diri sendiri menggunakan peralatan dapur. 

Dari aksi nyelenehnya itu, dia mendapat saweran berupa gift dari penonton. Diakui Kaleb, aktivitas kreator itu memang tidak sepenuhnya masuk dalam ranah penindakan satpol PP. Namun, ketika aktivitas itu dilakukan secara langsung di ruang publik, persoalannya menjadi berbeda.

Baca Juga: lipsus Label Nutri-Level Pada Minuman Manis Kekinian, Urgensi atau Cuma Formalitas?(1)

Apalagi, kawasan SLG merupakan ruang terbuka yang ramai dikunjungi masyarakat, termasuk anak-anak. Yang ditakutkan dapat menjadi contoh buruk bagi anak-anak maupun orang lainnya.

"Kalau yang sering kita lihat saat ini, belum menimbulkan keresahan atau pelanggaran. Mereka memang berada di trotoar dan berpindah-pindah, tetapi tidak mengganggu pemakai jalan," jelasnya. 

 

 

Editor : Mahfud
#kediri #live TikTok #saweran #konten kreator #fasilitas umum