Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Kemarau Panjang 2026: Lereng Wilis dan Kelud di Ambang Krisis Air. Hanya Bergantung pada Sumber Air dan Dropping Pemda.

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 12 April 2026 | 22:11 WIB
Anak kecil sedang bermain di area persawahan Desa Petungroto, Grogol. Wilayah itu merupakan salah satu titik yang rawan kekeringan saat kemarau. (Foto Asad MS)
Anak kecil sedang bermain di area persawahan Desa Petungroto, Grogol. Wilayah itu merupakan salah satu titik yang rawan kekeringan saat kemarau. (Foto Asad MS)

 Ancaman bencana kekeringan bukan hal baru bagi lereng Wilis dan Kelud.

Tapi tahun ini berbeda. Durasinya diprediksi akan lebih panjang.

Bencana yang seolah langganan menyapa warga setiap tahun ini pun bisa lebih parah lagi. Sinyal kemarau panjang itu bukan tanpa dasar.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri merilis adanya perubahan dinamika atmosfer dan lautan yang patut diwaspadai.

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering dari biasanya.

Hal ini dipengaruhi munculnya fenomena El Nino yang diperkirakan menguat pada pertengahan hingga akhir tahun. Meski, di awal 2026 ini masuk kategori netral.

Baca Juga: Flyover Mengkreng Kediri Butuh 37 Hektare Lahan, Tiga Pemda Kebut Proposal, ini Tahapannya

”Dampaknya, curah hujan diprediksi menurun dan hari tanpa hujan bisa berlangsung lebih lama (di musim kemarau),” ujar Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik Satria Kridha Nugraha.

Waktu datangnya kemarau juga tidak sepenuhnya sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Di Jawa Timur, sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kering Mei nanti.

Kondisi ini membuat pola tanam dan kebutuhan air menjadi lebih sulit diprediksi. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.

Di periode ini, sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kediri Raya, akan mengalami kondisi paling kering.

Bahkan, sebagian daerah sudah lebih dulu merasakannya sejak Juli.

“Yang perlu diwaspadai, mayoritas wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal selama kemarau berlangsung,” jelasnya.

Selain lebih kering, durasi kemarau juga diperkirakan lebih panjang. Di beberapa wilayah, musim kering bisa berlangsung hingga lebih dari tujuh bulan.

Baca Juga: Cek Bansos PKH BPNT Tahap 2 di DTSEN, Cukup Pakai Hp!

Waktu yang cukup lama untuk memicu kekeringan. Terutama di daerah yang selama ini sudah bergantung pada pasokan air terbatas.

Di Kabupaten Kediri, ada beberapa titik yang langganan mengalami kekeringan di musim kemarau.

Yaitu sejumlah daerah di lereng Gunung Kelud dan Gunung Wilis.

Salah satu yang langganan mengalami kekeringan adalah Desa Kalipang, Grogol.

Kepala Desa Kalipang Antonius Supratiknya mengatakan, sumber air di desanya tidak berasal dari satu sumber besar.

Melainkan, warga bergantung pada belasan titik mata air kecil yang tersebar di beberapa wilayah hutan Perhutani. Setiap sumber itu memiliki debit terbatas.

Bahkan ada yang hanya mampu mencukupi kebutuhan air sekitar 10-15 kepala keluarga (KK) saja.

Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan satu desa, air harus dikumpulkan dari banyak titik sekaligus.

“Karena kalau pakai satu sumber air tidak bisa mencukupi semua warga desa,” ujarnya.

Yang menjadi masalah, saat musim kemarau debit air di hampir semua sumber turun drastis.

Baca Juga: Kisaran Gaji Ke-13 PNS 2026 oleh Menkeu Purbaya, Tertinggi Dapat Rp5.432.800

Seperti tahun lalu, di musim kemarau air menyusut lebih dari separo.

Bahkan, ada sejumlah sumber yang airnya mampet alias tidak mengalir sama sekali.

Demi pemerataan, Antonius pun mengatur distribusi air. Warga tidak bisa lagi menggunakan air secara bebas.

Melainkan dengan menerapkan giliran. Jam pemakaian juga diatur.

Selebihnya, masyarakat diminta untuk menghemat penggunaan air.

“Kalau sudah kecil, ya harus digilir. Ada yang dapat siang, ada yang malam. Yang jelas penggunaan air harus dihemat,” jelasnya.

Jika kekeringan sudah semakin parah, siasat yang dilakukan Antonius itu tidak lagi berguna.

Mereka hanya bisa mengandalkan bantuan dropping air bersih dari Pemkab Kediri.

Tak hanya tentang konsumsi air warga, kemarau panjang juga berdampak pada produksi pertanian.

Lahan sawah di Desa Kalipang sepenuhnya bergantung pada suplai air dari sumber.

Tidak ada yang memiliki sumur bor karena kondisi geografis tidak memungkinkan untuk menggali sumur.

Baca Juga: Kementan dan GAPKI Lepaskan Serangga Penyerbuk Baru, Solusi Produktivitas Kelapa Sawit

“Ya petani harus menyesuaikan jenis tanaman. Saat kemarau beralih ke tembakau dan kacang,” beber Antonius mengakui jika panenan tetap tidak bisa maksimal.

Menghadapi ancaman kemarau panjang tahun ini, menurut Antonius warga bersama pemerintah desa mulai melakukan berbagai upaya.

Selain memaksimalkan sumber air, mereka juga menjaga kawasan resapan.

Di sekitar mata air ditanami berbagai jenis tanaman pelindung untuk keberlangsungan sumber air.

Meski dampaknya tidak bisa dirasakan tahun ini, warga yakin dalam beberapa tahun ke depan masyarakat bisa mendapat manfaat.

“Harapannya, nanti kalau musim kemarau, sumber airnya tetap ada atau setidaknya tidak terlalu berkurang,” tandasnya.

Jika di Desa Kalipang masih sepenuhnya bergantung dengan alam, di Desa Ponggok, Mojo yang juga langganan kekeringan kondisinya kini sudah jauh lebih baik.

Hal tersebut setelah Pemkab Kediri membantu pipanisasi yang bisa menjangkau sumber air di hutan lereng Wilis.

Sekretaris Desa Ponggok Siti Nurjannah mengatakan, dua tahun lalu kondisi desa sempat mengalami kekeringan parah di musim kemarau.

Baca Juga: PAN Ajak Jusuf Kalla Sampaikan Kritik Langsung ke Prabowo di Istana, Saleh Daulay: Beliau Sangat Terbuka

Bahkan, sebagian warga harus mengandalkan bantuan air dari desa lain.

Pasokan air bersih didatangkan dari Desa Kranding dan Maesan, dengan fasilitas mobil tangki dari BPBD.

Dropping air dilakukan selama beberapa bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Sebelum bantuan datang, warga hanya bisa mengandalkan sisa air yang ada.

Penggunaan air pun dilakukan sehemat mungkin. Aktivitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci tetap berjalan, namun dengan keterbatasan.

“Harus benar-benar hemat. Tidak bisa seperti saat air normal,” kenangnya.

Celakanya, kebutuhan air di Desa Ponggok dipenuhi dari sumber di Desa Petungroto, Mojo.

Karenanya, di musim kemarau, warga akan mendahulukan pemenuhan kebutuhan air untuk Desa Petungroto di bagian atas.

Setelah semua warga Petungroto mendapat jatah air, barulah dialirkan ke Desa Ponggok yang ada di bawahnya.

Kondisi ini membuat tidak semua warga bisa mendapatkan akses air dalam waktu bersamaan. Sektor pertanian di sana juga mendapat tantangan tersendiri.

Pengairan yang sepenuhnya bergantung pada air hujan membuat petani rentan mengalami gagal panen.

Baca Juga: Tropicana Slim Dorong Remisi Diabetes Melalui Beat Diabetes 2026

“Kalau di sini (Ponggok) memang tidak ada sumber air. Jadi untuk sawah banyak yang hanya mengandalkan hujan,” jelas Siti.

Upaya pengeboran sumur yang dilakukan beberapa kali tidak membuahkan hasil.

Hingga 2026 ini hanya ada satu sumur di dekat balai desa. Itu pun debitnya terbatas.

Hanya mampu membantu kebutuhan air warga di dua RT saja. Seperti halnya petani di Desa Kalipang, mereka memilih untuk beradaptasi.

Menyesuaikan tanaman di musim kemarau. Meski hasilnya tidak maksimal, petani memilih menanam jagung.

Produksi yang menurun dan serangan hama menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari.

Tak hanya di lereng Wilis, Desa Kebonrojo, Kepung yang terletak di lereng Gunung Kelud juga harus siaga menghadapi kemarau panjang.

Kepala Desa Kebonrojo Yoni Widarto mengatakan, dulu warganya menggantungkan kebutuhan air bersih dari Desa Puncu dan Besowo.

Namun, dia bersyukur pada 2007 silam jaringan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) masuk ke sana.

Baca Juga: Tropicana Slim menggelar Beat Diabetes 2026 di 35 kota untuk mendorong literasi kesehatan, inspirasi gaya hidup sehat, dan harapan remisi diabetes.

“Diambilkan dari Waduk Siman, jadi dari Waduk Siman diantarkan ke atas melalui pipanisasi dan pompa pendorong. Itu masuk ke desa kami,” lanjutnya.

Bertahun-tahun mengandalkan air dari PDAM, pemdes mulai membuat sumur serapan dan sumur dalam.

Selama 2017-2019, total ada 80 titik sumur resapan di sana. Selebihnya, hingga 2026 ini juga ada enam lokasi sumur dalam.

“Kami alokasikan untuk kebutuhan air minum di empat dusun Alhamdulillah sudah mencukupi,” katanya.

Selebihnya, Desa Kebonrojo juga memiliki tiga waduk atau embung. Satu waduk memiliki kapasitas enam ribu meter kubik.

Dua lainnya berkapasitas tiga ribu meter kubik untuk lahan pertanian warga.

“Melalui irigasi tetes, alhamdulillah 300 hektare lahan pertanian di wilayah kami insyaallah sudah tercukupi,” ujarnya berharap ke depan masih ada bantuan pembangunan sumur resapan di sana.

Sebab, diakuinya sumur yang ada baru bisa menjangkau sekitar 50 persen atau butuh separo lagi. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#Kemarau Ekstrem #BMKG #kekeringan #ELNINO #BPBD Kabupaten Kediri